Ancaman Gempa Bumi dari Megathrust Selatan Jawa

Infografik Sejarah Potensi Bencana Geologi di Jawa Barat
Ilustrasi Gempa. tirto.id/Sabit
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 4 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Zona subduksi di Selatan Jawa memendam potensi bencana geologi berskala besar bila tak diwaspadai.
tirto.id - Jumat malam (2/8) sejumlah wilayah di Jawa Barat, Banten, dan Lampung diguncang gempa bermagnitudo 7,4 skala richter. Gempa itu tercatat berhulu di zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang terletak di Samudera Hindia. Persisnya pada jarak 137 km baratdaya Sumur, Banten.

Plh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Agus Wibowo melalui keterangan tertulis pada Sabtu (3/8/2019) pagi menyebut gempa itu membuat 1.050 orang mengungsi, empat orang luka-luka, dan seorang meninggal.

Ia menjelaskan korban luka masing-masing berada di Kabupaten Pandeglang, Banten sebanyak tiga orang dan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat satu Orang. Sementara satu korban meninggal berada di Kabupaten Lebak, Banten.

"Satu orang meninggal dunia atas nama Rasinah 48 tahun, alamat Cilangkahan Rt 03/01 Pecangpari Cigemblong. [Meninggal] akibat panik, serangan jantung," katanya.

BNPB juga mencatat kerugian materil setidaknya 113 rumah yang rusak, terdiri dari 34 unit rumah rusak berat, 21 unit rumah rusak sedang, dan 58 unit rumah rusak ringan. Selain rumah ada satu unit kantor desa dan dua masjid rusak ringan.

Rumah dan fasilitas umum yang rusak tersebut tersebar di Kota Bogor, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Bandung Barat, Serang, Pandeglang, Lebak, dan Cilegon. Selain di wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa di pesisir selatan Jawa bagian Barat dan Sumatra, getaran gempa juga dirasakan warga di Jakarta, Depok, Bogor, Bandung, Purwakarta, bahkan hingga Yogyakarta.

Usai gempa, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami. Sejumlah daerah seperti Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, hingga sejumlah wilayah di Lampung dihimbau untuk waspada. Tapi peringatan itu dicabut pada 21.35 WIB.



Lain itu BMKG menyebut gempa kemarin malam sebagai gempa dangkal akibat deformasi batuan di lempeng Indo-Australia. Saat itu terjadi mekanisme penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia. Sebagai akibatnya, lempeng Eurasia yang bertumbukan dengannya bergerak naik.

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini dipicu penyesaran oblique yaitu kombinasi gerakan mendatar dan naik,” jelas Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers di Jakarta.

Bahaya dari Selatan Jawa



Gempa kali ini mengingatkan kita pada peringatan yang pernah disampaikan oleh ahli tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko pada pertengahan Juli lalu. Saat itu dia menyebut adanya potensi gempa megathrust bermagnitudo 8,8 di selatan Pulau Jawa yang dapat memicu tsunami setinggi 20 meter di darat.

"Ada segmen-segmen megathrust di sepanjang selatan Jawa hingga ke Sumba di sisi timur dan di selatan Selat Sunda. Akibatnya, ada potensi gempa megathrust dengan magnitudo 8,5 hingga 8,8," ujar Widjo.

Berdasarkan permodelan, skenario terburuk adalah timbulnya tsunami yang cukup kuat untuk menyapu daratan sejauh sekitar 3-4 kilometer dari pantai. Meski gempa kali ini tidak membawa dampak semengerikan itu, tapi pola kegempaannya di zona subduksi selatan Jawa itu tetap patut diwaspadai.



Prediksi Widjo pun sebenarnya bukan satu-satunya. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (Peta Gempa) yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) pada 2017 juga mengonfirmasi hal ini. Peta Gempa menyebut gempa yang berhulu dari megathrust selatan Jawa pernah pula terjadi pada 1994 di Banyuwangi dan pada 2006 di Pangandaran.

Megathrust di selatan Jawa adalah segmen dari zona subduksi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia yang memanjang dari Sumatra hingga Sumba. Berbeda dari segmen Sumatra yang beberapa kali tercatat menimbulkan gempa besar yang berujung tsunami, segmen Jawa ini memiliki frekuensi dan magnitudo kegempaan yang lebih rendah.

Dalam Peta Gempa tertulis, “Dari sekian banyak gempa yang terjadi di subduksi Jawa, tidak ada yang mencapai Mw 8.” Widjo mengonfirmasi fakta itu. Magnitudo gempa pada 1994 dan 2006 itu tercatat pada skala 7 dan 6,8.

"Untuk gempa 1994, tidak ada catatan terjadi tsunami di DIY. Tetapi pada 2006 ada catatan terjadi tsunami di selatan DIY tetapi jangkauannya tidak melebihi Gumuk Pasir di Parang Kusumo," ujar dia.

Catatan dari masa yang lebih tua juga menguatkan karakteristik itu. Ngoc Nguyen dkk dalam Indonesia’s Historical Earthquakes (2015, hlm. 44-46) menyebut tentang gempa besar pada 10 Juni 1867. Berdasarkan pemodelan yang dilakukan, gempa itu berhulu di lepas pantai selatan Jawa bagian tengah. Magnitudonya diperkirakan 7,7 dan terasa dari Banten hingga Bali.

Pemukiman, pabrik, dan jaringan jalan di wilayah Vorstenlanden diberitakan rusak parah gara-gara gempa itu. Tapi, Ngoc Nguyen dkk. tidak menemukan sumber-sumber kolonial sezaman yang mencatat adanya tsunami setelah gempa terjadi.

“Kalaupun ada tsunami yang destruktif, kemungkinan akan catatannya tercampur bersama kerusakan-kerusakan yang terjadi di Cilacap dan/atau Pacitan,” tulis Ngoc Nguyen dkk.

Kemungkinan lain: siklus gempa besar dan tsunami yang berhulu dari zona subduksi di selatan Jawa memang terjadi dalam periode yang panjang.





Peta Gempa menyebut kemungkinan adanya seismic gap alias zona dengan derajat seismisitas rendah di segmen selatan Jawa itu. Tengara yang teramati adalah periode seismik yang lama dan megnitudo yang tak seberapa besar. Tapi, di zona ini juga ada bidang kuncian atau locked patches yang terisolasi. Jika bidang kuncian ini ambrol akan ada gempa bermagnitudo besar.

Ahmad Arif dalam “Jejak ‘Ratu Kidul’ di Selatan Jawa” yang terbit di harian Kompas (28/7/2017) menyebut beberapa riset yang menyebut kemungkinan adanya gempa bermagnitudo besar di masa lalu dan masa datang yang berhulu dari selatan Jawa. Magnitudonya cukup mencengangkan, antara skala 8,7 sampai 9.

“Karena gempa merupakan siklus, apa yang berpotensi terjadi di masa depan seharusnya pernah terjadi di masa lalu. Masalahnya, catatan tentang kejadian gempa besar dan tsunami di selatan Jawa hanya tersamar dalam babad dan mitos Ratu Kidul,” tulis Ahmad.

Bukti terkait bencana geologi dari selatan Jawa di masa lalu di antaranya dapat disimak dari penelitian Kepala Pusat Geoteknologi LIPI Eko Yulianto dan peneliti paleotsunami LIPI Purna Sulastya Putra. Mereka menemukan adanya endapan paleotsunami di beberapa tempat di pantai selatan Jawa. Deposit sisa tsunami itu ditemukan di Lebak (Banten), Pangandaran (Jawa Barat), Cilacap dan Yogyakarta (Jawa Tengah), hingga Pacitan (Jawa Timur).

Mereka berdua mengukur umur deposit itu dari sisa-sisa fosil foraminifera yang tertinggal. Dengan pengukuran radiokarbon, sebagian deposit itu diketahui berasal dari masa sekira 300 tahun silam. Sebagian lagi bahkan dari masa yang lebih tua—yang artinya ada perulangan tsunami di masa lalu.

“Jika daerah yang terlanda tsunami dari Lebak hingga Cilacap, artinya jangkauannya sudah sekitar 500 kilometer. Ini artinya gempanya di atas M 9 atau setara dengan dengan tsunami Jepang tahun 2011. Sementara jika ternyata jejak tsunami di Pacitan juga sezaman, artinya wilayah terdampak sepanjang 800 kilometer,” kata Eko sebagaimana dikutip Ahmad.

Baca juga artikel terkait GEMPA BUMI atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight