Menuju konten utama

Anak Muda Menjemput Asa dan Kemandirian dengan Pendidikan Vokasi

Sejak 2020, lebih dari 330 ribu kaum muda telah menerima manfaat kursus vokasi Pelatihan Kecakapan Wirausaha (PKW) dan Pelatihan Kecakapan Kerja (PKK).

Anak Muda Menjemput Asa dan Kemandirian dengan Pendidikan Vokasi
Nisrina Dhiya Puspitasanti (22) atau Naya sedang berkonsentrasi membatik di pelataran LKP Arimbi di kawasan Pasar Seni Gabusan, Bantul. Naya adalah alumni kursus vokasi singkat Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) tahun 2022 dari Kemendikdasmen. tirto.id/Sekar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Aroma lelehan malam batik tercium dari semilir angin siang yang berembus di pelataran rimbun Pasar Seni Gabusan, Bantul.

Di sebuah pendopo, Nisrina Dhiya Puspitasanti (22) tengah berkonsentrasi menggoreskan kuas kuning pada selembar kain.

Setiap hari Senin sampai Sabtu, perempuan yang akrab disapa Naya itu diantar sang ayah untuk membatik di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Arimbi.

Rutinitas ini sudah berlangsung tiga tahun. Sebelumnya, Naya yang memiliki hambatan belajar ini lebih sering berada di rumah.

Pada 2022, Naya menjadi satu dari 20 peserta kursus membatik gratis oleh LKP Arimbi yang didukung program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) dari Kemendikdasmen.

Di samping diajari teknik membatik, produksi, dan pemasaran, mereka juga diberi modal awal dan alat kerja, seperti kompor, gawangan, hingga manekin, untuk merintis usaha.

Setelah itu, peserta disertakan dalam Uji Kompetensi Batik agar mendapatkan sertifikat profesi yang membuat karya lebih diakui, sekaligus membuka jalan ke pameran-pameran besar.

“Begitu keluar dari sini, peserta PKW bisa punya merek sendiri… Kemudian sudah punya izin atau NIB (Nomor Induk Berusaha),” tutur Sumarmi Arimbi (70), pemilik lembaga kursus, saat ditemui Diajeng Tirto pada Rabu (1/10).

Omah Batik Srengenge, begitu jenama yang dipilih Naya untuk batik kreasinya. Produk-produknya dipasarkan melalui Instagram, Facebook, dan pameran. Pernah, delapan kain batik terjual dalam sehari.

“Sejak ada subsidi pelatihan dari Kementerian, kami selalu berusaha mengikuti,” tukas Arimbi. PKW telah membantu anak-anak muda di desa sekitarnya untuk mengembangkan tradisi membatik dan membangun penghidupan lebih baik.

body artikel diajeng Program PKK dan PKW

Arimbi & Naya. tirto.id/Sekar Kinasih

Nur Hikmah Ramadhania (21) adalah alumni PKW tahun 2023 di Bugul Kidul, Pasuruan.

Lulusan SMK jurusan akuntansi ini sempat bekerja selama 2 tahun, sampai kemudian tertarik berbisnis kue mengikuti jejak sang ibu.

Saat itulah, dia mendengar info dari sekolahnya tentang kursus tata boga gratis di LKP Smart Center Education.

Selama satu bulan, Hikmah dan 20-an peserta lainnya belajar tentang cara memasak berbagai menu makanan dan kreasi kue, perhitungan HPP (Harga Pokok Produksi), sampai teknik fotografi produk.

“Setelah ikut PKW, saya buka lapak sampai sekarang… Lebih banyak dikenal orang, karena saya diminta oleh PKW buka akun Instagram bisnis,” cerita Hikmah melalui panggilan video pada Jumat (10/10).

Setiap hari kecuali Ahad, Hikmah dan ibunya memproduksi 200 kue basah dan kering untuk dijual di lapak dagangan yang dinamai Umai Salma. Mereka juga menjual kue-kue titipan.

Dengan modal Rp100-200 ribu, dalam sehari omzet yang diterima bisa mencapai Rp600 ribu.

Selain ibu-ibu dan anak sekolah yang membeli kuenya, berbagai pesanan kudapan dan nasi kotak juga datang dari kantor-kantor dinas pemerintah.

body artikel diajeng Program PKK dan PKW

Hikmah di lapak kue Umai Salma Insert. tirto.id/Sekar Kinasih

Sesuai kurikulum pembelajaran dari Kementerian, materi praktik yang diterima Hikmah dan teman-temannya tentu dilengkapi dengan teori. Terkait itu, Latifah (55) selaku pendiri LKP Smart Center mengamati satu hal menarik.

“Anak-anak ini tipe pragmatis, sehingga cenderung tidak menikmati materi teori. Saat pelajaran keuangan dan hitung-hitungan misalnya, tidak seheboh ketika praktik. Besoknya, yang hadir di kelas tidak sebanyak hari sebelumnya,” ujar Latifah melalui sambungan telepon pada Jumat (3/10).

Terlepas dari itu, berdasarkan pantauan Latifah sejauh ini, 90 persen anak-anak didiknya aktif berwirausaha.

Meski ada yang sempat vakum dan membuka PO (pre-order) beberapa bulan sekali, sebagian besar lainnya rutin beroperasi dan semakin populer seperti Umai Salma, Ayam Gepuk Bli Made, Wonton & Dimsum DIFUDI, aneka kue Fairy Kitchen, dan Risoles Gemoy.

Siap Terjun ke Industri: Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK)

Selain Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW), pemerintah juga menyalurkan bantuan pelatihan kerja di dunia usaha dan industri melalui program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK).

Selulus sekolah, Siti Af’idatun Nisa (22) asal Kendal sempat menganggur setelah mencoba bekerja di toko baju, perusahaan garmen, sampai pabrik rokok.

Tahun lalu, perempuan yang kerap disapa Ida ini mendengar tentang kursus hospitality gratis dari LKP Indocrew di Bumijo, Yogyakarta. Ia pun memutuskan hijrah ke Kota Gudeg.

Selama 23 hari, Ida menjalani pelatihan dengan spesialisasi housekeeping, seperti cara making bed dan membersihkan kamar mandi. Setelah itu, ia mengikuti Uji Kompetensi Perhotelan, dilanjutkan program magang selama enam bulan di Hotel Harper Malioboro.

“Rasanya senang sekali karena bisa menambah pengalaman, bisa untuk mencari pekerjaan. Sekarang saya lagi proses ke luar negeri, ke Turki,” terang Ida saat diwawancarai pada Rabu (1/10) tentang pengalamannya ikut PKK.

body artikel diajeng Program PKK dan PKW

Ida salah satu peserta PKK angkatan kedua di LKP Indocrew. tirto.id/Sekar Kinasih

Ida adalah satu dari 24 peserta PKK angkatan kedua di LKP Indocrew pada Oktober 2024. Saat ini, 10 orang di angkatannya tengah menjalani seleksi kerja ke luar negeri.

Dari PKK angkatan pertama pada Juni 2024, tiga alumni telah lebih dulu berangkat ke Turki. Ada pula yang kini bekerja di hotel bintang lima ternama di Yogyakarta.

“Program ini benar-benar ditunggu oleh masyarakat,” ujar administrator lembaga kursus, Helena Ustiliani (30). Awal tahun ini peminat membludak meskipun pendaftaran belum dibuka.

Menurut Helena, sebagian besar kandidat peserta terkendala biaya.

“Setelah pelatihan, mereka disubsidi untuk ikut sertifikasi, lalu kami bantu carikan pemagangan di hotel bintang 4 dan 5 karena itu juga poin wajib dari pelatihan.”

“Tujuan pemagangan agar peserta PKK dapat bekal ‘kerja nyata’ di hotel, punya batu pijakan pertama sebelum bekerja sebagai tenaga kasual atau pekerja harian. Bagi kami, keberhasilan mereka dapat kerja kasual sudah jadi capaian penting untuk mengentaskan pengangguran,” pungkas Helena.

Merangkul Semua, Termasuk Anak Putus Sekolah

Pada Agustus 2024, data Youth NEET (Not in Employment, Education, and Training) dari BPS menunjukkan angka 20,31 persen.

Artinya, terdapat sekitar 9 juta dari 44 juta penduduk muda Indonesia usia 15-24 tahun yang sedang tidak bersekolah, ikut pelatihan, atau bekerja.

Meski dalam satu dekade terakhir trennya menurun, persentase NEET di Indonesia masih tergolong tinggi di ASEAN. Pada 2025, tingkat NEET di Singapura dilaporkan sebesar 4,1 persen, Vietnam 10,4 persen, dan Filipina 15,9 persen.

Subsidi pelatihan seperti PKW dan PKK yang disalurkan melalui berbagai lembaga kursus menjadi komponen penting untuk meningkatkan kompetensi SDM dan penyerapan tenaga kerja muda usia remaja sampai 25 tahun, terutama dari ekonomi kurang mampu.

Setiap tahun, PKW dan PKK menargetkan total belasan sampai puluhan ribu peserta. Pada 2020 misalnya, bantuan telah disalurkan untuk 16.676 peserta PKW dan 53.744 peserta PKK.

Berdasarkan pengisian data mandiri pada aplikasi PKW dan PKK tahun 2021, sebanyak 88 persen dari 22.437 peserta PKW telah berwirausaha, sementara dari 63.689 peserta PKK, 47 persennya terserap di dunia kerja dan 40 persen ikut magang.

Sejak 2020, terhitung sudah ada lebih dari 330 ribu lulusan program PKW dan PKK dari penjuru Indonesia.

Selain menargetkan anak muda yang belum bekerja, PKW dan PKK juga merangkul anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang putus sekolah.

Dalam acara peluncuran PKW dan PKK pada 30 Juni 2025 di Jakarta, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Dirjen Vokasi PKPLK) Tatang Muttaqin menyebut 9.391 orang atau setara 0,19 persen anak putus sekolah adalah peserta didik SMK. Secara nasional, persentasenya tertinggi dibandingkan jenjang SD 0,16 persen, SMP 0,12 persen, dan SMA 0,13 persen.

“Langkah ini menjadi komitmen kami untuk mengaktifkan kembali pendidikan nonformal. Karena saat ini, yang dituntut adalah kompetensi keahlian tidak hanya ijazah. Program ini memberikan peluang lebih besar untuk anak putus sekolah dapat bersaing di dunia kerja maupun merintis usaha dan membuka lapangan pekerjaan,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

“Program PKK dan PKW juga bentuk partisipasi semesta dalam memastikan bahwa pendidikan benar-benar hadir untuk semua dan setiap anak Indonesia memiliki ruang untuk kembali berdaya dan kembali bermakna,” lanjut Abdul Mu’ti.

PKW, PKK, dan Asas Pendidikan yang Memberdayakan

Menurut pengamat pendidikan vokasi Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Waras Kamdi, M.Pd, pengangguran tidak bisa diatasi hanya dengan mempertemukan pendidikan dan lapangan kerja.

Dalam panggilan video pada Rabu (15/10), Waras mengingatkan bahwa lapangan kerja formal, seperti sektor bisnis dan industri, tergantung pada seberapa kuat sistem ekonomi kita membuka lapangan kerja.

Persoalannya, lanjut Waras, tidak ada satu pun negara di dunia, dengan sistem ekonomi secanggih apa pun, yang mampu menyerap semua lulusannya di sektor formal.

Karena itu, menurutnya, kursus dan pelatihan seperti PKW dan PKK menjadi penting sebagai intervensi strategis yang memperkuat ekosistem transisi dari pendidikan ke dunia kerja, terutama bagi kelompok muda nonformal.

“Asas pendidikan pada dasarnya membuat orang berdaya, supaya mereka bisa mengambil keputusan atas dirinya dan menciptakan profesi atau jalan hidupnya,” ujar Waras.

Dalam pengamatan Waras, banyak lulusan baru yang kesulitan mempertahankan pekerjaan atau merintis usaha. Umumnya mereka bekerja di industri selama beberapa tahun hingga kontrak berakhir, lalu digantikan oleh tenaga kerja baru.

Anak-anak yang sudah pernah bekerja inilah, menurut Waras, siap mandiri dan perlu ditolong.

Waras merujuk survei IDN Research Institute (2019) yang menunjukkan 69,1 persen Millennial, atau tujuh dari sepuluh responden, berminat berwirausaha.

“Jadi memang ada potensi luar biasa dalam diri anak-anak kita. Kalau kemudian pendidikan bisa merespons itu—membaca karakteristik mereka, memberi bekal mereka untuk bisa lebih mengaktualisasikan kemandiriannya, menciptakan lapangan kerja dan menciptakan profesi dari dalam dirinya—itu luar biasa,” ujar Waras.

Selain memperkuat pendidikan vokasi, Waras menilai pendampingan lanjutan bagi alumni pelatihan wirausaha juga penting, termasuk akses pada pinjaman lunak atau dana bergulir.

Program ini dulu pernah ada, kata Waras, “Jadi kalau dia sudah mandiri, dia mengembalikan. Nah, pengembaliannya digulirkan ke generasi berikutnya.”

(JEDA)

Penulis: Tim Media Servis