Anak-Anak dan Mimpi Buruk Leukemia

Oleh: Restu Diantina Putri - 5 Maret 2018
Dibaca Normal 4 menit
Leukemia atau kanker darah masih menduduki posisi pertama sebagai kanker paling menghantui usia anak-anak.
tirto.id - Andry Garcia sebelum Juni 2013 adalah remaja laki-laki pada umumnya. Selain menjadi siswa kelas XI di SMA Negeri 6 Depok, ia aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah Rohani Islam. Ia juga hobi olahraga bulutangkis. Tubuhnya cukup fit untuk remaja 17 tahun kendati ia pernah tifus sewaktu usia sekolah dasar.

Tiga minggu sebelum 14 Juni 2013, ia terserang demam tinggi dan batuk yang tak kunjung sembuh. Saat itu ia baru rampung ujian kenaikan kelas XII. Tubuhnya pucat pasi dan gusinya berdarah. Sesekali lehernya membengkak, lalu kempes lagi. Ia mengira hanya terserang panas dalam atau yang terburuk radang gusi.

Ibunya lantas membawa Andry ke RS Mitra Keluarga, Depok. Ia segera menjalani pemeriksaan laboratorium. Hasilnya, leukosit atau sel darah putihnya melonjak hingga 90 ribu sel per mikroliter. Pada orang normal, jumlah leukosit paling tinggi hanya sampai 15 ribu. Artinya, Andry positif mengidap leukemia akut, demikian diagnosis dokter.

Sang ibu syok berat. Sementara Andry, yang masih berbaring di ranjang pemeriksaan, tak punya ide apa pun soal leukemia akut. Yang ia dengar bahwa ia hanya kelebihan sel darah putih. Ia jadi mafhum mengapa ia bisa begitu pucat beberapa hari ke belakang.

Andry dirawat di Mitra Keluarga selama empat hari. Namun, lantaran tidak ada obat kanker di rumah sakit itu, ia hanya menjalani perawatan obat oral dan transfusi darah merah. Belum menjalani kemoterapi, uang keluarganya sudah bolong hingga Rp20 juta. Kabar baiknya, Andry dinyatakan cukup sehat untuk kembali ke rumah.

Namun hal itu tak berlangsung lama. Kondisi badannya menurun drastis sejak pulang dari rumah sakit.

Singkat cerita, Andry dibawa ke pengobatan alternatif karena sang ibu menolak Andry dirujuk kembali ke Rumah Sakit Dharmais ataupun RS Cipto Mangunkusumo. Keluarganya tak mau menjalani kemoterapi selagi masih diobati dengan cara lain. Sementara di RSCM, keluarganya khawatir ia akan ditelantarkan di IGD.

Meski sempat sembuh lewat pengobatan alternatif, demamnya tak kunjung menurun. Ia lantas dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Sebulan dirawat di sana, keluarganya berutang sampai Rp74 juta.

“Karena itu ayahku harus dipotong gaji sampai dua tahun. Dan aku baru tahu pas aku sembuh,” cerita Andry, saat ini mahasiswa Sastra Inggris, Universitas Islam Negeri Jakarta. Sikapnya yang tadi ceria langsung berubah. Air matanya menggenang saat menceritakan itu kepada saya, Kamis pertama bulan Maret lalu.

Ada satu kejadian yang membuat Andry memandang nasibnya bersama leukemia akut ini dengan cara berbeda. Saat itu ia mulai menyerah dengan keadaan. Kesal karena tak kunjung sembuh, ia mencabut alat bantu yang dipasang di gusinya. Lalu ia tinggal tidur. Sebangunnya, tanpa sadar giginya sudah tenggelam dengan gusi yang membengkak karena pembekuan darah.

Seketika itu juga ia langsung dilarikan ke RSCM. Di sana akhirnya ia menjalani kemoterapi sembari terus menjalani diet food combining yang dianjurkan oleh ahli gizi kenalan ayahnya.

“Selama pengobatan itu, aku merasa hidupku lebih lepas aja. Aku enggak merasa dikucilkan lagi. Selama ini aku sendiri yang mengucilkan diri aku dari orang-orang. Padahal mereka semua support,” kata Andry.

Parasitisme Leukemia dan Anak

Andry adalah satu dari penyintas kanker darah yang beruntung karena bisa bertahan. Hasil tes laboratoriumnya terus menunjukkan peningkatan signifikan atas kondisi kesehatannya.

Dalam kasus leukemia pada anak-anak, nyaris mustahil pejuang kanker mampu bertahan jika sudah relapse (kambuh) usai menjalani kemoterapi, demikian Zaenudin, ayah dari Sarah Husniah, mengutip keterangan dokter yang menangani putrinya berusia 7 tahun.

Sarah divonis dokter tak mungkin bertahan hidup hingga tujuh bulan sejak dinyatakan sakit kanker darah pada awal tahun 2017, tapi ia mampu—dengan melawan semua sakit dan perawatan medis, termasuk menjalani tiga kali kemoterapi.


Tren kasus kanker pada anak terus meningkat tiap tahun. Dari catatan Ikatan Dokter Anak Indonesia, pada 2014, angka kasus mencapai 144 pasien baru. Tahun berikutnya, rumah sakit menerima pendaftaran baru sebanyak 206 pasien kanker pada anak-anak. Angka ini meningkat lagi pada 2016 menjadi 252 kasus baru.

Dari jumlah tersebut, leukemia menduduki posisi pertama sebagai kanker paling menghantui usia anak-anak.

Di Rumah Sakit Kanker Dharmais, kendati fluktuatif, angka leukemia pada anak juga cenderung meningkat. Dari catatan Medical Report Department Dharmais Cancer Hospital, Dharmais memiliki 31 pasien pada 2010, yang bertambah hingga 132 pasien selama periode 2011-2013. Tahun 2013 menjadi yang tertinggi dengan 55 pasien baru. Jumlah ini menurun pada 2014 menjadi 46 pasien baru yang terdaftar.

Entah apa yang membuat sel ganas itu gemar berkembang biak di tubuh-tubuh kecil. Penyebabnya hingga kini belum ada yang tahu.

Dunia medis hanya menarik kesimpulan secara umum, bahwa salah satu penyebab seorang anak bisa mengidap kanker dari faktor genetik. Rekam medis keluarga, bila ada dari mereka memiliki penyakit kronis, dapat meningkatkan potensi seorang anak terkena kanker.

Faktor lain terkait pola makan. Tak hanya anak-anak, orang dewasa juga berpotensi kanker jika kerap mengonsumsi makanan yang mengandung zat karsinogen atau yang menstimulasi pertumbuhan sel kanker.

Faktor lingkungan dan virus pun berkontribusi pada pertumbuhan sel kanker dalam tubuh manusia.

“Tapi tetap saja, jika seseorang terkena kanker, kami tidak bisa mengenali faktor mana yang menjadi penyebab. Ya sudah, jalan satu-satunya tinggal mengobati,” jelas dr. Niken Palupi, kepala subdirektorat pengendalian penyakir kanker dari Kementerian Kesehatan.


Menanggapi angka penderita kanker anak yang terus meningkat, Kementerian Kesehatan menampik hal tersebut lantaran bertambahnya angka secara kasus, melainkan karena program Jaminan Kesehatan Nasional yang membuat penderita kanker mau berobat di rumah sakit.

“Karena tabulasi kami memakai sistem pencatatan berdasarkan pendaftaran pasien kanker yang masuk. Bukan berdasarkan wawancara. Jujur saja, kami memang agak terlambat memberi perhatian penyakit tidak menular karena selama ini terfokus pada penanggulangan penyakit menular,” lanjut Niken.

Infografik HL Dana JKN untuk Leukemia Anak

Asuransi Kesehatan Publik Kedodoran

Kasus kanker yang tinggi tersebut membuat Jaminan Kesehatan Nasional kedodoran secara finansial. Drg. Dyah Mustikawaty, pelaksana harian Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dari Kementerian Kesehatan, mengakui hal ini.

Saat ini kasus kanker, yang hanya 3 persen dari seluruh penyakit yang ditangani JKN, mengambil porsi hingga 17 persen seluruh pembiayaan kesehatan publik JKN. Totalnya membengkak sekitar Rp2,8 triliun. Untuk itu, tak semua perawatan kanker bisa ditanggung JKN.

Mustikawaty menjelaskan, JKN hanya akan menanggung pasien kanker yang memiliki kesempatan sembuh lebih tinggi ketimbang mereka yang sudah stadium lanjut dengan harapan hidup yang rendah. Bukan tanpa alasan, biaya yang dikeluarkan menurutnya akan sama fantastisnya tetapi setidaknya mampu membantu lebih banyak orang.

“JKN itu prinsipnya gotong-royong. Membiayai mereka yang stadium lanjut biayanya lebih tinggi tetapi harapan hidupnya tidak terlalu lama. Misalnya saja vonis dokter dua bulan dan setelah itu tidak bisa diapa-apakan lagi," ujar Mustikawaty.

"Lebih baik biaya untuk membantu pengobatan mereka yang masih stadium awal. Biayanya lebih murah sehingga bisa membantu lebih banyak pasien. Jadi bukan mendiskriminasi,” lanjutnya.

“Dan ini bukan pemerintah sendiri yang memutuskan. Ini hasil pertimbangan dari para ahli juga,” tambah Niken.

Di sisi lain, pertimbangan ini bikin pasien maupun keluarga pasien kanker stadium lanjut yang tanpa uang ketar-ketir. Tak terkecuali Zaenudin, ayah Sarah. Hingga kini, ia sudah menghabiskan hampir Rp270 juta dengan menggunakan JKN untuk pengobatan Sarah.

“Saya khawatir, ke depan saya enggak bisa membiayai pengobatan Sarah,” ujarnya.

Belum lagi jika obat kanker tak tersedia di rumah sakit. Keluarga pasien seperti Zaenudin memiliki dua opsi: mencari obat di luar rumah sakit dengan konsekuensi bayar sendiri, atau pasien dipindahkan ke rumah sakit yang memiliki stok obat.

Seringnya rumah sakit pemerintah kehabisan stok obat, dan situasi ini agaknya konsekuensi dari pertimbangan serta langkah efisiensi anggaran pemerintah untuk menekan pengeluaran dana asuransi kesehatan publik.

“Kami tidak tahu, kan, berapa jumlah pasien yang akan masuk. Jika dilebihkan stok awalnya dan tidak terpakai, nanti akan menjadi mubazir. Dan JKN bisa dicurigai oleh KPK pula,” kata Mustikawaty.

Sementara transfer obat dari rumah sakit, yang memiliki kelebihan stok, juga berisiko tinggi. Bisa saja obat tersebut diperjualbelikan secara bebas. Mau tak mau pasien harus ditransfer ke rumah sakit bersangkutan.

“Ya, sistem kami memang masih seperti itu,” kata Mustikawaty.

Baca juga artikel terkait KANKER atau tulisan menarik lainnya Restu Diantina Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Restu Diantina Putri
Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight