Menuju konten utama

Alasan Gentengisasi Prabowo untuk Rumah Warga Beratap Seng

Presiden Prabowo Subianto merencanakan proyek Gentengisasi untuk menjadikan rumah warga yang beratap seng menjadi genting. Simak alasannya.

Alasan Gentengisasi Prabowo untuk Rumah Warga Beratap Seng
Ilustrasi genting rumah. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gentengisasi adalah program Presiden Prabowo Subianto terbaru. Program gentengisasi diperuntukkan bagi rumah-rumah beratap seng di Indonesia. Prabowo menyebut sejumlah alasan kenapa atap rumah perlu beralih ke genting.

Program Prabowo gentengisasi disebutkan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Bogor, Jawa Barat, pada Senin (2/1/2026), Menurutnya, program ini akan dilakukan secara nasional.

"Saya ingin semua atap Indonesia pakai genting," katanya.

Sementara itu, menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, pemerintah tengah mempertimbangkan penggunaan cadangan fiskal negara untuk program ini. Salah satu yang bisa dimanfaatkan, kata Purbaya, adalah cadangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Ada kemungkinan dari situ [MBG]. Ada kemungkinan dari tempat lain," katanya pada Selasa (3/2).

Alasan Proyek Gentengisasi Prabowo

Seturut keterangan Prabowo, proyek gentengisasi ini dilakukan pemerintah karena material seng dianggap tak cocok untuk jadi atap rumah. Menurutnya ada sejumlah masalah yang muncul ketika rumah beratap seng dan bukan genting.

Berikut alasan di balik program gentengisasi yang diumumkan Prabowo Subianto.

1. Khawatir Turis Melihat Karat pada Atap Seng

Salah satu yang banyak disebut Prabowo adalah estetika. Ia menyoroti material seng yang bisa berkarat ketika dijadikan sebagai atap rumah.

Menurut Prabowo, karat pada atap rumah bermaterial seng merupakan degenerasi, sebagai simbol kemunduran. Ia khawatir turis yang datang ke Indonesia melihatnya sebagai kesan masyarakat Indonesia tak sejahtera.

"Saya berharap dalam 2 sampai 3 tahun, Indonesia tidak akan kelihatan karat. Karat adalah lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan Indonesia. Indonesia harus bangkit, Indonesia harus kuat, Indonesia harus indah, rakyat kita harus bahagia," kata Prabowo.

2. Seng Tak Cocok Jadi Atap

Eks Pangkostrad era 1998 itu menyatakan bahwa seng bukanlah material yang cocok untuk dijadikan atap rumah. Menurutnya, atap seng menimbulkan banyak masalah.

Atap seng dinilai Prabowo kerap membuat isi rumah mengalami panas berlebih. Oleh karenanya, pemerintah menilai genting jadi material yang lebih cocok jadi atap rumah, ketimbang seng.

Selain panas, umur pakai seng sebagai atap juga dinilai pendek karena mudah berkarat ketika dipakai bertahun-tahun. Seng memang dikenal lebih rentan terhadap reaksi kimia lingkungan penyebab korosi ketimbang material lain seperti genting.

3. Alternatif Pengolahan Limbah

Dalam pemaparan Prabowo, gerakan gentengisasi ini akan dilakukan sebagai alternatif pengolahan limbah industri. Menurutnya, hal ini merupakan peluang untuk membuat genting jadi material bangunan rumah yang ramah lingkungan.

Prabowo mencanangkan produksi genting untuk program gentengisasi berasal dari tanah liat lokal yang dapat dicampur dengan limbah industri seperti abu batu bara. Hal ini, kata Prabowo, akan membuat genting jadi lebih ringan dan kuat.

"Jadi nanti Koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genting. Genting itu bahan bakunya dari tanah, dan dicampur dengan beberapa zat limbah lainnya, bisa ringan dan kuat," katanya.

4. Menggerakkan Ekonomi Tingkat Desa

Proyek gentengisasi ini juga dicanangkan Prabowo untuk menggerakkan ekonomi tingkat desa. Roda ekonomi tingkat desa diharapkan dapat terdongkrak karena produksi genting akan dilakukan secara lokal.

Rencananya, produksi genting dalam proyek ini akan dilakukan oleh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Hasil produksi skala lokal ini nantinya dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar.

Selain itu, program ini juga dapat jadi sarana kerja sama masyarakat, pemerintah, dan industri sektor swasta. Sebagaimana penjelasan Prabowo, genting yang diproduksi bisa melibatkan kerja sama warga dengan industri dalam penyediaan bahan baku, seperti limbah.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, dalam keterangannya pada Selasa, juga menyatakan bahwa program ini tak dimaksudkan untuk bergantung sepenuhnya pada APBN dan APBD. Pemerintah, katanya, akan mendorong partisipasi masyarakat dan sektor swasta untuk ikut mendanainya.

"Mungkin perorang-orangan atau pihak-pihak swasta, jadi tidak sekadar kita misalnya menggantungkan dari APBN atau APBD gitu," tutur Mensesneg.

Target Prabowo Gentengisasi Terealisasi Kapan?

Pemerintah belum menjelaskan secara terbuka mulai kapan gerakan gentengisasi ini direalisasikan. Namun, dalam keterangannya, Prabowo menargetkan seluruh rumah di Indonesia akan beratap genting pada 2 hingga 3 tahun lagi.

"Saya berharap dalam 2 sampai 3 tahun," kata Prabowo.

Sementara itu, menurut Menteri Keuangan Purbaya, pihaknya kini baru melakukan hitung-hitungan awal untuk merealisasikan program gentengisasi. Ia memastikan proyek ini tak akan memakan uang negara dalam jumlah besar.

Dalam keterangannya pada Selasa (3/1/2026), Purbaya menyebut bahwa hitung-hitungan pihaknya memproyeksikan gentengisasi tak akan memakan anggaran lebih dari Rp1 triliun. Menurutnya, proyeksi anggaran ini telah mempertimbangkan biaya bahan baku genting.

"Cukuplah. Enggak banyak-banyak banget kalau enggak salah anggarannya. Gentengisasi, kan, untuk ganti genting, seng dengan genting buatan," katanya.

Selain itu, anggaran gentengisasi juga diproyeksikan Purbaya tak akan membebani APBN karena hanya menyasar rumah beratap seng, bukan seluruh rumah.

"Yang diganti paling berapa puluh persen [dari total rumah]. Jadi harusnya nanti angkanya lebih kecil," katanya.

Baca juga artikel terkait NASIONAL atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar