4 Maret 1621

Akhir Riwayat Batavia di Utara Jakarta

Lukisan Batavia karya Adrianus Johannes Bik. FOTO/KITLV
Oleh: Iswara N Raditya - 4 Maret 2017
Dibaca Normal 2 menit
Tanggal 4 Maret 1621, Batavia dikukuhkan sebagai nama resmi bekas wilayah Jayakarta. Namun, nama Batavia justru ditolak oleh sang gubernur, Jan Pieterszoon Coen.
Bolehlah kita sebut Jan Pieterszoon Coen sebagai sang penakluk. Dia adalah orang yang menaklukkan Jayakarta pada 30 Mei 1619. Kota pelabuhan simbol kejayaan Kesultanan Banten itu hancur-lebur, dan di atas puing-puingnya didirikan kota baru yang kemudian diberi nama Batavia, cikal-bakal Jakarta.

Coen sebenarnya tidak sepakat dengan penamaan Batavia. Ia semula membayangkan, kota baru yang dibangunnya nanti akan persis dengan Hoorn, kota kelahirannya di Belanda. Pada abad ke-17 itu, Hoorn adalah salah satu kota penting di negeri kincir angin dan perannya tidak kalah krusial dengan Amsterdam.

Nieuw Hoorn alias Hoorn Baru, itulah nama yang ingin disematkan Coen sebagai pengganti Jayakarta. Tapi, hasrat tersebut tidak pernah terwujud. Yang kemudian dikenal sebagai pusat kekuasaan dan ekonomi selama masa pendudukan Belanda di Indonesia adalah Batavia.

Coen memang memperoleh imbalan setimpal berkat keberhasilannya mengambil-alih Jayakarta. Ia diangkat sebagai Gubernur Jenderal VOC selama dua periode, yakni 1619-1623 dan 1627-1629. Namun, Coen tetap saja menggerutu dalam hati karena Nieuw Hoorn yang ia dambakan tidak pernah tercipta dengan sempurna.

Jabatan Gubernur Jenderal tidak lantas memberinya kewenangan penuh. Keputusan final tetap ada di pusat. Heeren XVII selaku Dewan Direksi VOC menolak permintaan Coen terkait usulan nama sebagai pengganti Jayakarta. Coen jelas kecewa karena pada 4 Maret 1621 nama Batavia justru dikukuhkan (Bernard H.M. Vlekke, Nusantara: Sejarah Indonesia, 2008:156).

Di hari yang sama, pemerintah Stad Batavia dibentuk. Stad adalah bahasa Belanda yang dapat diartikan sebagai “kota” atau “kotamadya”. Sejak saat itulah, Batavia resmi menjadi pusat kekuasaan VOC, dan dari sinilah bangsa Belanda mengendalikan Nusantara.

Meskipun menolak penamaan Batavia, Coen tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak ingin kehilangan jabatannya. Dengan perasaan yang tidak sepenuhnya rela, Coen berusaha mewujudkan impiannya dengan membangun Batavia semirip mungkin dengan Hoorn. Coen memegang teguh semboyan “dispereert niet” yang berarti “jangan putus asa”, dan itulah yang dilakukannya demi hadirnya Hoorn di Batavia.

Wilayah Hoorn tidak terlalu besar, hanya 53.25 km2, malah lebih luas wilayah Jakarta Utara sekarang. Hoorn punya area perairan seluas 33 km2, sedangkan daratannya memiliki luas 20.25 km2. Dari karakter wilayahnya, Batavia memang ideal dijadikan sebagai Nieuw Hoorn seperti yang diidam-idamkan Coen.



Meskipun kecil, peran Hoorn sangat krusial bagi VOC dan juga Kerajaan Belanda. Hoorn pada abad ke-17 adalah kota pelabuhan terpenting di Belanda. Seluruh kapal yang menjelajah samudera ke berbagai belahan dunia, menjadikan Hoorn sebagai tujuan akhirnya untuk pulang dengan membawa berbagai jenis barang berharga yang langka dan amat mahal di Eropa, termasuk rempah-rempah dari Nusantara.

Sama seperti Hoorn, wilayah Batavia pada awal pendiriannya belum seluas yang terjadi kemudian, masih terbatas pada bekas kawasan kota pelabuhan Jayakarta saja. Sekarang, kawasan itu meliputi wilayah Jakarta Utara dan sebagian Jakarta Barat, belum menjadi Batavia yang menaungi hampir seluruh wilayah DKI Jakarta dengan porosnya di Weltevreden, Jakarta Pusat.

Coen sebisa mungkin menata Batavia layaknya Hoorn di Belanda. Ia merancang kota dengan bentuk segi empat bersisi lurus yang terinspirasi dari konsep kota benteng ala Romawi. Dari Pelabuhan Sunda Kelapa (kini Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara), dibangunlah benteng yang memanjang ke arah selatan hingga belokan Sungai Ciliwung (Edi Sedyawati, dkk., Sejarah Kota Jakarta 1950-1980, 1986:93).

Kawasan dalam segi empat Batavia dibuat eksklusif. Hanya Coen dan para pejabat tinggi kota yang boleh tinggal di dalamnya. Penduduk lokal dilarang membuat kampung di dalam tembok kota, sementara Sungai Ciliwung yang berkelok-kelok dialihkan dengan sebuah terusan yang membelah kota menjadi dua bagian, yakni barat dan timur (Siswadi, Perkembangan Kota Jakarta, 1982:36).

Penduduk lokal benar-benar tersingkir, tapi tidak demikian dengan orang-orang Portugis dan warga keturunan Cina yang diperbolehkan mendiami sebelah barat belahan Sungai Ciliwung. Dua golongan ini dianggap kelompok masyarakat kelas kedua, di bawah orang-orang Belanda yang menghuni bagian timur. Ciliwung menjadi batas pemisah strata sosial di dalam lingkungan Batavia.

Situasi Batavia saat itu seperti film-film tentang kerajaan klasik Eropa, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh menetap di area sentra kotaraja. Di luar benteng yang mengelilingi Kota Batavia, tinggallah orang-orang lokal dari Jawa, Makassar, Bugis, Ambon, dan seterusnya. Mereka bekerja sebagai pedagang, petani, pekerja kasar, dan sejenisnya.

Namun, sepeninggal Coen, eksotisme Batavia yang semula eksklusif tidak bertahan lama. Bencana banjir yang kerap menerpa menimbulkan dampak kerugian besar, terutama wabah penyakit berbahaya, yang juga menjadi penyebab Coen harus mengakhiri hidupnya di usia baru 42 tahun.

Sang penakluk Jayakarta sekaligus pembangun Batavia itu meninggal dunia pada 21 September 1629. Menurut sumber versi Belanda, penyebab kematiannya adalah penyakit kolera yang melanda Batavia tiga hari setelah serangan kedua pasukan Kesultanan Mataram pimpinan Sultan Agung (Alwi Shahab, Robinhood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe, 2001:30).

Perlahan tapi pasti, Batavia yang dibangun Coen mulai kehilangan pamor. Orang-orang yang dulunya bangga menetap di dalamnya mulai pergi untuk pindah ke lokasi huni yang lebih baik. Pusat peradaban pun pada akhirnya terpaksa digeser lebih ke tengah.

Puncak perpindahan pusat kekuasaan terjadi pada masa Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa pada 1808-1811. Daendels sepenuhnya memindahkan sentral pemerintahan ke Weltevreden dan membangun istana di sana. Sedangkan kastil warisan Coen di Batavia dihancurkan.

Penyebutan untuk wilayah Batavia pun selanjutnya tidak lagi terbatas pada area kotamadya yang didirikan Coen di bagian utara Jakarta sekarang, melainkan sudah lebih meluas dengan mencakup hampir seluruh wilayah Jakarta dan berpusat di Weltevreden.

Kini, Batavia bikinan Coen benar-benar hanya menjadi kisah lama yang menyisakan kesuraman dan nyaris terlupakan.

Baca juga artikel terkait BATAVIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight