Menuju konten utama

Agar Seorang Mahasiswa Tak Jadi Target Narkoba oleh Temannya

Pencegahan tidak hanya tentang mengajarkan mahasiswa untuk menolak narkoba, tetapi berani membuat keputusan tanpa takut kehilangan teman.

Agar Seorang Mahasiswa Tak Jadi Target Narkoba oleh Temannya
Ilustrasi obat ilegal. foto/isotckphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ajakan dari teman untuk nongkrong atau bersenang-senang dapat menjadi pintu masuk narkoba, terutama ketika keinginan untuk diterima dalam lingkar pertemanan membuat mahasiswa sulit menolak.

Gambaran itu muncul dalam kasus seorang mahasiswi berinisial S (21) yang ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar hotel di kawasan Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (3/9/2026). Rekannya berinisial ID ditetapkan sebagai tersangka karena diduga memberikan ekstasi dan obat jenis Riklona kepada korban.

S diketahui merupakan mahasiswi di salah satu universitas di Banten. Berdasarkan keterangan polisi, korban sempat menolak ketika ditawari ekstasi saat sedang karaoke di daerah Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, pada Rabu (2/9/2026) bersama sejumlah rekannya.

Namun, beberapa saat kemudian, ID mengajak korban ke toilet dan memberikan setengah butir ekstasi.

Lalu beberapa jam setelah itu, korban kembali diberikan setengah butir ekstasi. Setelah kegiatan karaoke selesai, ID juga memberikan dua butir Riklona sebelum mengajak korban dan sejumlah rekannya menginap di hotel.

Kasus tersebut kemudian berujung pada kematian S dan hasil autopsi menunjukkan korban meninggal akibat intoksikasi zat amphetamine dan methamphetamine.

Ketika Teman Menjadi Sumber Tekanan

Kasus ini membuka persoalan yang lebih besar. Sosiolog sekaligus Guru Besar Sosiologi FISIP Universitas Airlangga (Unair), Bagong Suyanto, melihat lingkungan sosial memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku mahasiswa.

“Habitus memiliki pengaruh kuat, terutama bagi mahasiswa migran yang tidak memiliki jaring pendukung sosial,” kata Bagong kepada Tirto, Jumat (11/9/2026).

Bagi mahasiswa yang jauh dari keluarga atau tidak memiliki jaringan pendukung yang kuat, lingkar pertemanan dapat mengambil peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Teman menjadi tempat untuk berbagi cerita, mencari bantuan, sekaligus mendapatkan rasa diterima.

Karena itu, Bagong menilai mahasiswa perlu memiliki jejaring pertemanan yang dapat menjadi ruang aman ketika menghadapi persoalan.

“Mahasiswa perlu memiliki jejaring pertemanan yang bisa dijadikan teman curhat,” ujarnya.

Masalah muncul ketika kebutuhan untuk diterima dalam kelompok membuat seseorang sulit mengambil jarak dari perilaku teman-temannya.

Penolakan terhadap ajakan kelompok tidak selalu dianggap sebagai keputusan pribadi. Dalam situasi tertentu, penolakan dapat dipersepsikan sebagai sikap tidak mau bergaul atau tidak solid dengan kelompok.

Bagong mengatakan kondisi tersebut dapat membuat mahasiswa mengikuti perilaku kelompok karena takut mendapatkan sanksi sosial.

“Mahasiswa nurut karena takut sanksi sosial seperti dikucilkan,” kata Bagong.

Kampus Tidak Cukup Hanya Melarang

Persoalan berikutnya adalah bagaimana kampus dapat ikut mencegah mahasiswa terjebak dalam lingkungan pergaulan yang berisiko.

Pengamat Pendidikan sekaligus Rektor Institut Media Digital Emtek (IMDE), Totok Amin Soefijanto, mengatakan perguruan tinggi memiliki tugas dalam membentuk karakter mahasiswa.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan akademik dan intelektual.

“Perguruan tinggi memiliki tugas penting dalam membentuk karakter mahasiswanya. Tidak hanya kemampuan akademik atau intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual,” kata Totok saat dihubungi Tirto, Jumat (11/9/2026).

Penguatan kemampuan non-akademik tersebut penting agar mahasiswa memiliki ketahanan ketika menghadapi berbagai tekanan sosial.

Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan, mengenali situasi berisiko, serta mencari pertolongan ketika menghadapi persoalan.

“Nah, di aspek non-akademik itulah justru yang paling utama dalam menyiapkan mental mahasiswa yang tahan banting dan punya resiliensi tinggi dalam kondisi dinamis kehidupan di masyarakat,” ujarnya.

Bagi Totok, pencegahan juga tidak cukup berhenti pada larangan menggunakan narkoba. Mahasiswa membutuhkan saluran yang dapat digunakan ketika mereka menemukan persoalan di lingkungan pertemanan, termasuk ketika dirinya atau orang lain berada dalam situasi berisiko.

“Ya, ada banyak saluran, terutama sistem pencegahan melalui Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) dan hotline laporan kasus. Kampus harus membangun kepercayaan dengan memastikan semua laporan ditindaklanjuti dan, ini yang paling krusial, tidak menyalahkan pelapor atau korban,” kata Totok.

Kepercayaan menjadi bagian penting dari sistem tersebut. Jika mahasiswa khawatir akan disalahkan, dikucilkan, atau justru mendapatkan masalah setelah melapor, keberadaan kanal pengaduan tidak otomatis membuat mereka berani menggunakannya.

“Kampus harus ‘walk the talk’ bila mengklaim zero tolerance to violence. Lindungi pelapor dan korban, selidiki dan tindak tegas terlapor,” ujarnya.

Membangun Lingkar Pertemanan yang Sehat

Pencegahan narkoba di lingkungan mahasiswa pada akhirnya tidak hanya menjadi persoalan penegakan aturan. Ada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa, yakni bagaimana mereka membangun dan mempertahankan relasi sosial.

Dalam konteks tersebut, keberadaan teman yang mampu mengenali perubahan perilaku dan berani mengajak mencari bantuan dapat menjadi bagian dari sistem pendukung.

Totok mengatakan perguruan tinggi tidak harus bekerja sendiri. Kampus dapat membangun jejaring dengan berbagai lembaga untuk memperkuat sistem pencegahan.

“Kampus juga dapat menjalin kerjasama dengan aparat penegak hukum dan support system dari pemerintah daerah dan kementerian/Lembaga. Banyak organisasi yang siap membantu kalau kita aktif mencegah kekerasan di kampus,” kata Totok.

Pencegahan tidak hanya tentang mengajarkan mahasiswa untuk menolak narkoba, tetapi juga memastikan mereka memiliki lingkungan yang membuat keputusan tersebut dapat diambil tanpa takut kehilangan teman.

Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana mahasiswa menjauhi narkoba, tetapi juga apakah mereka memiliki cukup dukungan untuk mengatakan "tidak".

Baca juga artikel terkait KASUS NARKOBA atau tulisan lainnya dari Hanang Septioyudho

tirto.id - News Plus
Reporter: Hanang Septioyudho
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Bayu Septianto