Agar Panjang Umur Seperti Penduduk Wilayah Blue Zone

infografik blue zones diet okinawa
Ilustrasi diet Okinawa. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 8 Mei 2018
Dibaca Normal 2 menit
Mereka mempraktikkan apa yang disebut gaya hidup Blue Zone Diet.
tirto.id - Selama 15 tahun aku harus hidup bersama beberapa penyakit kronis seperti asma, sinusitis, dan eksim. Aku juga punya alergi terhadap lebih dari 20 jenis makanan, debu, dan AC. Kata dokter, penyakit-penyakit itu adalah teman seumur hidupku. Tapi vonisnya berhasil aku patahkan.

Sejak umur enam bulan, di saat bayi-bayi mulai belajar mencecap rasa selain ASI, aku pun begitu. Bedanya, mereka bisa menikmati ragam menu MPASI yang disuguhkan ibunya. Sementara aku mulai mencicip rasa pahitnya obat dan mengeluh insomnia sebagai efek sampingnya. Rutinitas itu terus kulalui hingga umur 15 tahun, saat fungsi liver dan ginjalku didiagnosis tidak normal.

Sungguh sangat tidak lazim, seorang anak SMP sudah mengalami komplikasi.

Akumulasi obat-obatan yang aku konsumsi sejak kecil membuat organ vitalku ringkih. Periode masa kerja mereka memendek akibat kerja berlebih “mengolah” obat. Itulah masa-masa dimana aku menemukan sebuah titik balik kehidupan. Aku mantap merubah gaya hidup menjadi seorang vegetarian.

Ini bermula dari sebuah buku yang kubaca di toko sembari menunggu mobil jemputan pulang sekolah. Aku menemukan bab mengenai metode penyembuhan holistik dengan “self healing”. Inti buku itu mengatakan bahwa tubuh manusia memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Kuncinya dengan memberi nutrisi tepat untuk tubuh dan pikiran.

Saat itulah aku memutuskan untuk menjadi vegetarian, tidak memakan daging. Kemanapun pergi, jus buah dan makanan nabati berbasis utuh selalu tersedia di kotak bekalku. Di waktu yang sama, aku juga menghentikan konsumsi obat-obatan. Hingga empat tahun lalu, aku memilih naik tingkat ke gaya hidup vegan, tak mengonsumsi segala jenis produk hewani.

Perubahan gaya hidup ternyata membuat sistem imunitasku semakin kuat. Perlahan, insomniaku hilang, periode eksim, asma, sinusitis juga berkurang dan kini hilang total. Jikapun kambuh, ia tak lagi menggangguku beraktivitas. Dulu, setiap timbul, eksimku bisa menjalar hingga satu bagian tubuh, seperti paha atau tangan. Sungguh menyiksa.

Tak ada masalah kulit lainnya seperti jerawat yang umum pada remaja, berat badan stabil, rambut rontok berkurang. Pastinya jadi lebih sehat.


Blue Zones Diet


Cerita Helga Angelina sebagai praktisi makanan sehat di atas belumlah usai. Jodoh mempertemukannya dengan Max Mandias, seorang pria yang dipacarinya saat menempuh pendidikan di Belanda, delapan tahun lalu. Di tahun itu pula, keluar laporan mengenai pola makan daging yang menyumbang kerusakan lingkungan dan pemanasan global. Latar belakang Max sebagai pecinta binatang membuatnya mendadak vegetarian.

Helga dan Max menjadi pasangan yang saling mendukung gaya hidup vegetarian. Kelihaian Max mengolah ragam bahan makanan berbasis tanaman menjadi masakan super lezat pun diimbangi pendidikan tambahan yang ia ambil di Plant Based Nutrition, Cornell University. Hasilnya, virus makan sehat mereka sebarkan salah satunya dengan mendirikan Burgreens.

Pasangan ini semakin mantap dengan pola makan yang dianutnya karena laporan seorang penjelajah National Geographic mengenai Blue Zone Diet. Pada tahun 2004, Dan Buettner tahun 2004 bersama sekelompok antropolog, ahli demografi, ahli epidemiologi, dan peneliti lain mencari kesamaan pola hidup orang-orang yang berumur lebih dari 100 tahun. Tujuannya untuk menemukan resep hidup panjang.

Hasil 150 survei diet dari orang-orang tersebut menghasilkan peta lima wilayah yang disebut Zona Biru. Orang-orang di wilayah ini cenderung memiliki umur hidup panjang, meski jauh terisolasi dibanding wilayah lain. Mereka adalah penduduk Ikaria di Yunani; Okinawa di Jepang; Ogliastra di Sardinia; Loma Linda di Calif; dan Semenanjung Nicoya di Kosta Rika.




Orang-orang di Zona Biru juga terdeteksi bebas dari penyakit kronis seperti jantung, obesitas, kanker, dan diabetes. Alasan paling kuat yang mendasari umur panjang mereka adalah pola makan. Mereka memiliki pola makan tradisional, persis seperti era sebelum makanan cepat saji, berminyak, dan gula membanjiri cita rasa kita.

Kuncinya adalah pola makan berbasis tanaman. Buettner menyimpulkan beberapa resep panjang umur mereka, diantaranya menghentikan makan saat perut terisi sebanyak 80 persen. Lalu, beri porsi makanan berbasis tanaman sebesar 90-95 persen, terutama kacang-kacangan. Orang-orang di Zona Biru hanya memakan daging dalam porsi kecil, yakni 3-4 ons.


Di Okinawa, orang-orangnya mengonsumsi 90 persen nabati utuh, kurang dari 1 persen ikan, kurang dari 1 persen daging, dan kurang dari 1 persen gabungan susu dan telur. Makanan mereka banyak mengandung sayur dan kacang-kacangan. Kalori utamanya didapat dari ubi jalar ungu dan oren yang ampuh sebagai anti inflamasi dan anti oksidan.

“Kami percaya diet yang merunut pola makan nenek moyang kita,” tutur Helga.

Sayangnya saat ini banyak orang mengikuti pola diet tertentu tanpa riset terlebih dahulu. Singkatnya, cuma ikut-ikutan. Bukannya sehat, gaya hidup mereka justru berbahaya. Maka, Helga pun memberi saran bagi kita untuk tetap memperhatikan kelengkapan nutrisi meski mengikuti jenis diet-diet tertentu.

Baca juga artikel terkait DIET atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight