Ada Umrah dan Haji di Balik Proyek Kereta Cepat Makkah-Madinah

Oleh: Dea Chadiza Syafina - 10 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Kereta cepat Makkah-Madinah 450 kilometer dari Madinah menuju Makkah memangkas waktu ditempuh signifikan.
tirto.id - Tarek Al-Qahtani bersemangat dan antusias memulai perjalanan hari itu dari Kota Madinah ke Makkah, Arab Saudi. Tak seperti biasanya, perjalanan kali ini ia tempuh dengan menumpang kereta api super cepat Haramain Highspeed Rail (HHR).

Ia termasuk 200 warga yang berkesempatan mengikuti tes perjalanan HHR pada Juni lalu. “Saya terkesan oleh layanan baru dan kesopanan staf perempuan maupun laki-laki muda Arab Saudi,” ucap Tarek Al-Qahtani yang menikmati perjalanan itu dengan gratis.

Setelah uji jalan, HHR pun diresmikan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud pada akhir September lalu. Saat layanan perdana, kereta api berkecepatan tinggi ini mulai melayani penumpang secara komersial sejak 4 Oktober 2018. Rutenya mulai dari stasiun Makkah Al Mukarramah, melewati stasiun kedua di Kota Jeddah, berlanjut ke King Abdulaziz International Airport, kemudian Stasiun King Abdullah Economic City (KAEC), dan berakhir di stasiun Kota Madinah.

Harga tiket kereta cepat HHR ini dibanderol mulai dari Saudi Arabia Riyal (SAR) 40 (Rp160 ribu) untuk kelas reguler dan SAR50 (Rp200 ribu) untuk kelas bisnis. Itu adalah tarif tiket untuk perjalanan penumpang sebanyak dua stasiun dari Jeddah menuju Makkah. Sedangkan tarif dari Makkah menuju Madinah ditukar dengan harga SAR150 (Rp600 ribu) untuk kelas reguler dan SAR250 (Rp1 juta) untuk kelas bisnis.

“Sebagai penawaran awal, jalur rel menawarkan 50 persen harga selama dua bulan sejak Oktober,” kata Rumih bin Mohammed Al Rumaih, Kepala Otoritas Transportasi Umum Arab Saudi tersebut menambahkan, situsweb kereta Al Haramain Express memungkinkan penumpang memesan dan membeli tiket. Oktober ini, aplikasi diluncurkan untuk memudahkan pemesanan tiket.

Tujuan utama dibangun infrastruktur kereta api super cepat ini menurut Menteri Transportasi Arab Saudi Nabil Al Amoudi adalah sebagai sarana angkutan publik termasuk rombongan haji maupun umrah. Perjalanan sejauh 450 kilometer dari Madinah menuju Makkah yang biasanya harus ditempuh selama enam jam, kini bisa dipangkas menjadi 1,5-2 jam menggunakan HHR. Ibadah haji maupun umrah yang dijalani berbagai orang dari seluruh dunia bisa lebih mudah, nyaman, dan hemat waktu.

“Pembangunan HHR sejalan dengan visi Saudi 2030 yang berkomitmen untuk memberikan pelayanan berkualitas tinggi kepada para peziarah,” ucap Nabil di hadapan para pejabat negara yang berkumpul di stasiun Jeddah.


HHR memiliki kecepatan hingga 320 kilometer per jam, sehingga memangkas waktu perjalanan antara Makkah dan Jeddah menjadi hanya 21 menit. Perjalanan Jeddah menuju Bandara King Abdulaziz dapat ditempuh dalam waktu 14 menit. Selanjutnya dari bandara menuju Stasiun KAEC di Kota Rabigh menjadi hanya 36 menit. Dan terakhir Rabigh-Madinah dapat ditempuh selama 61 menit.

Kereta ini diperkirakan bisa melayani 60 juta penumpang dengan kapasitas penuh setiap tahun, sejak kuartal I-2019. Karena selain mengangkut peziarah, HHR juga mengangkut wisatawan reguler yang ingin menikmati perjalanan antara kota-kota suci di Arab Saudi.

Seluruh stasiun pemberhentian memiliki fasilitas eksklusif seperti lounge kelas bisnis, pusat transportasi umum, tempat parkir, stasiun pertahanan sipil, masjid, dan ruang komersial. Fungsi ruang yang disebutkan terakhir adalah untuk melayani kebutuhan wisatawan. Awal Oktober sampai dengan akhir Desember 2018, kereta api reguler HHR dijadwalkan beroperasi setiap jam di hari Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu.

HHR merupakan proyek transportasi terbesar di kawasan itu setelah sebelumnya mengalami beberapa kali penundaan. Dibangun dengan biaya lebih dari $16 miliar, proyek kereta kecepatan tinggi ini merupakan salah satu proyek transportasi yang paling penting dalam program perluasan jaringan kereta api Arab Saudi. Kereta juga dilengkapi dengan sistem sinyal dan komunikasi terbaru. Peluncuran HHR merupakan upaya mengurangi kemacetan lalu lintas bagi jutaan peziarah Muslim yang mengunjungi negara itu setiap tahun.

Peresmian HHR sekaligus juga menjadi pertanda kesiapan Arab Saudi dalam menyongsong Musim haji tahun depan yang dimulai September 2019. Musim haji diperkirakan menarik lebih dari dua juta muslim ke wilayah Makkah untuk menjalankan serangkaian ibadah. Oleh karena itu, kereta super cepat yang baru diresmikan ini awalnya akan beroperasi delapan kali sehari. Namun, intensitas HHR dalam menempuh jalur Makkah-Madinah meningkat menjadi 12 kali dalam satu hari.

Pemerintah kerajaan Arab Saudi sejak 2014 memiliki sejumlah proyek prioritas kereta api. Gunanya untuk membantu meningkatkan perdagangan domestik, regional dan internasional. Juga memfasilitasi perpindahan penumpang di seluruh negeri dan kota-kotanya. Arab Saudi sedang memulai sejumlah proyek kereta api ambisius yang menghubungkan seluruh negeri. Sebab idenya adalah menghubungkan kota-kota pemerintahan, pelabuhan, kota industri dan kota ekonomi di dalam negeri sehingga memiliki akses internasional.

Infografik Kereta Cepat Haramain


Ambisi Negara-Negara Arab



Pembangunan infrastruktur dilakukan sebagai upaya diversifikasi ekonomi Arab Saudi yang selama ini bergantung pada minyak bumi. Saat ini juga masih berlangsung pembangunan kereta api metro senilai $23 miliar di Kota Riyadh, dengan nama Metro Riyadh. Jalur ini menghubungkan sejumlah kota-kota dan daerah perumahan utama di Riyadh. Tiga konsorsium terlibat dalam pembangunan proyek ini.

Pemerintah kerajaan Arab Saudi juga mengembangkan Landbrigde yang merupakan salah satu proyek rel paling penting secara ekonomi. Jalur ini akan menghubungkan Pelabuhan Jeddah, Dammam, dan Jubail, serta melewati pelabuhan darat di Riyadh. Jalur ini secara signifikan akan meningkatkan daya saing kereta api di Arab Saudi yang menyediakan jalur aman untuk mengangkut barang dan mineral di atas tanah. Landbridge ini diharapkan memiliki kapasitas tahunan 700.000 TEUs, atau sekitar 8 juta ton kargo.

Kereta api juga akan mengangkut penumpang dan harus dapat dengan mudah memindahkan beberapa juta per tahun. Proyek ini adalah salah satu proyek build-operate-transfer (BOT) terbesar yang dilakukan di wilayah ini dan akan menelan biaya sekitar $7 miliar untuk menyelesaikannya.


Proyek kereta api Gulf Cooperation Council atau yang dikenal dengan GCC Railway Project diperkirakan juga akan selesai dalam waktu empat tahun. Dengan demikian, empat negara teluk yaitu Oman, Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan Qatar bisa terhubung pada 2021 mendatang. Proyek ini diharapkan mengintegrasikan wilayah regional dan memfasilitasi perdagangan barang dari wilayah timur ke barat dan sebaliknya. Total panjang GCC Railway Project terbentang sejauh 2.117 kilometer.

Jalur melalui Arab Saudi akan terbentang dari perbatasan Kuwait hingga Bahrain. Kemudian menuju Qatar dan kembali melalui Arab Saudi. Selanjutnya menuju UEA dan Oman. Setiap negara bertanggung jawab untuk bagiannya sendiri dari rute tersebut. Total biaya di semua negara diperkirakan mencapai $200 miliar, yang mencakup jembatan antara Arab Saudi dan Bahrain.

Arab Saudi menyetujui investasi $25 miliar dalam proyek tersebut di 2011. Rinciannya, $3,1 miliar untuk pembebasan lahan, $1,8 miliar untuk membeli lokomotif, dan $15,5 miliar untuk jembatan antara Arab Saudi dan Bahrain.

Khalid al-Olayan, perwakilan dari Sekretariat Umum GCC, mengatakan menteri transportasi negara-negara anggota GCC ingin menyelesaikan fase pertama yang menghubungkan Oman dengan Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan Qatar pada Desember 2021.Menyusul selanjutnya Kuwait dan Bahrain yang akan bergabung pada Desember 2023.

“Penting untuk diingat bahwa konektivitas kereta api antara negara-negara anggota GCC bukanlah proposisi baru. Ini akan terus berjalan sesuai dengan garis waktu untuk proyek yang direkomendasikan oleh para menteri transportasi GCC pada Juni 2016,” kata Olayan melansir International Railway Journal.

Proyek yang dijadwalkan selesai tahun ini mengalami penundaan karena berbagai sebab. Salah satunya kendala keuangan. Ini karena, kejatuhan harga minyak periode 2014-2015 membuat terpangkasnya pendapatan pemerintah negara-negara anggota GCC sampai dengan $360 miliar.

Etihad Rail menunda tender untuk 628 kilometer, yang merupakan tahap dua dari jaringan kereta api nasional UEA pada Januari 2016. Empat bulan kemudian, Oman juga menghentikan pekerjaannya yang merupakan bagian dari GCC Railway.

Nantinya, kereta penumpang akan melakukan perjalanan dengan kecepatan 220 km per jam, yang akan membantu meningkatkan perjalanan regional antarnegara. Sementara kereta api barang akan berjalan dengan kecepatan 80-120 km per jam. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, proyek bisa diselesaikan antara 2021-2023 mendatang. Itu artinya kawasan Arab akan menjadi rumah baru dari jaringan kereta cepat di dunia, mengekor Cina yang mendominasi infrastruktur modern ini di seluruh dunia.

Baca juga artikel terkait PROYEK KERETA CEPAT atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra