Menuju konten utama

695 Siswa dari 2 Sekolah di Gunungkidul Diduga Keracunan MBG

Sebanyak 476 siswa dan 10 guru di SMKN 1 Saptosari keracunan MBG. Hal yang sama menimpa 186 murid di SMPN 1 Saptosari.

695 Siswa dari 2 Sekolah di Gunungkidul Diduga Keracunan MBG
Tenaga kesehatan saat melakukan penanganan terhadap salah satu siswa di Gunungkidul yang mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG. Foto/Tangkap Layar Video Instagram @endah_subekti_k
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebanyak 695 siswa dari dua sekolah, yakni SMKN 1 Saptosari dan SMPN 1 Saptosari diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disantap pada Selasa (28/10/2025). Para siswa mengalami sakit perut hingga muntah-muntah, bahkan beberapa mendapatkan perawatan.

Mengutip dari akun Instagram Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) @humasjogja, tercatat dari total 1.154 murid SMKN 1 Saptosari, ada 476 siswa dan 10 guru yang diduga terdampak keracunan MBG.

Terdapat 33 murid SMKN 1 Saptosari yang izin tidak masuk sekolah pada Rabu (29/10/2025). Namun belum terkonfirmasi, apakan para siswa tidak sekolah akibat mengalami gejala keracunan.

“Sementara, dari total 420 murid SMPN 1 Saptosari, terdapat 186 murid yang mengalami [keracunan],” tulis Humas Pemprov DIY, dikutip Tirto, pada Kamis (30/10/2025).

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, secara langsung meninjau dan berkoordinasi bersama seluruh pihak terkait guna memastikan para siswa tertangani oleh rumah sakit dan puskesmas. Endah pun turut meninjau lokasi yang menjadi sumber keracunan.

Saat meninjau dapur MBG, Bupati Endah bertemu dengan kepala dapur dan penanggung jawab. Dia berkesempatan melihat ruang penyimpanan, pendinginan, tempat cuci alat makan, dan kelengkapan di dapur MBG.

Kepada kepala dapur, Bupati Endah meminta agar insiden keracunan MBG tidak terjadi lagi. “Karena taruhannya adalah nyawa para siswa,” tukasnya.

Sebagaimana yang pernah disinggung Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Endah mengungkapkan bahwa semakin banyak jumlah porsi MBG yang harus dibuat maka jam masak juga semakin dini. Menurut Endah, hal tersebut berpotensi besar menyebabkan makanan mudah terkena bakteri.

Untuk itu, Endah pun menekankan, agar tata cara masak, pendinginan, kebersihan, serta pengiriman MBG betul-betul diperhatikan dengan saksama. "Pakai hati dan perasaan. Kiranya ada makanan, bahan makanan yang memang basi, atau meragukan supaya tidak dikirim, karena taruhannya nyawa anak kita," kata Endah.

Baca juga artikel terkait KASUS KERACUNAN atau tulisan lainnya dari Siti Fatimah

tirto.id - Flash News
Penulis: Siti Fatimah
Editor: Abdul Aziz