Menuju konten utama

5 Fund Manager Raksasa Borong Saham BBCA Harga Bawah

Prospek kinerja BBCA dinilai masih kuat meski industri perbankan diperkirakan menghadapi tekanan akibat penurunan net interest margin (NIM) pada 2026.

5 Fund Manager Raksasa Borong Saham BBCA Harga Bawah
Ilustrasi saham. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah manajer investasi global terpantau mulai meningkatkan kepemilikan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sejak awal 2026 lalu. Beberapa nama besar seperti BlackRock Inc. dan Vanguard tercatat ikut mengakumulasi saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.

Aksi beli para investor institusi ini terjadi ketika harga saham BBCA sedang mengalami koreksi sekitar 12 persen secara year to date. Pada perdagangan Kamis (5/3/2026), saham BBCA ditutup menguat 3,27 persen ke level Rp7.100 per saham. Ini sekaligus menjadi kenaikan tertinggi di antara saham bank besar lainnya.

Berdasarkan data Bloomberg, manajer investasi yang paling agresif menambah kepemilikan BBCA adalah St. James's Place plc (SJP) asal Inggris. Perusahaan yang memiliki assets under management (AUM) sekitar £220 miliar atau setara Rp4.962 triliun ini tercatat membeli 121,5 juta saham BBCA sepanjang 2026.

Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan SJP atas BBCA hingga Kamis (5/3/2026) mencapai 458,23 juta saham. Posisi itu menempatkan SJP dalam jajaran 15 besar pemegang saham BBCA.

Di posisi berikutnya, ada Capital Group Cos Inc, manajer investasi asal Amerika Serikat dengan AUM lebih dari US$3 triliun. Sepanjang tahun 2026, Capital Group telah mengakumulasi 112,83 juta saham BBCA sehingga total kepemilikannya mencapai sekitar 1,07 miliar saham atau setara 0,87 persen.

Selanjutnya, Principal Financial Group juga tercatat menambah kepemilikan sebanyak 36,79 juta saham BBCA. Saat ini Principal menguasai sekitar 235,47 juta saham bank tersebut.

Dua raksasa investasi global lainnya, Vanguard dan BlackRock, juga ikut menambah portofolio BBCA. Vanguard membeli sekitar 35,02 juta saham, sedangkan BlackRock mengakumulasi 32 juta saham.

Saat ini Vanguard tercatat sebagai pemegang saham terbesar keempat di BBCA dengan kepemilikan sekitar 2,66 miliar saham atau setara 2,16 persen dari total saham beredar. Sementara itu, BlackRock menempati posisi kelima dengan kepemilikan sekitar 1,88 miliar saham atau setara 1,53 persen.

Prospek Kinerja BBCA Dinilai Tetap Solid

Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Victor Stefano dan Naura Reyhan Muchlis, menilai prospek kinerja BBCA masih kuat, meskipun industri perbankan diperkirakan menghadapi tekanan penurunan net interest margin (NIM) pada 2026.

Dalam risetnya, BRIDS memproyeksikan BBCA akan membukukan Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp79,58 triliun pada 2026, meningkat 5,73 persen dibandingkan 2025 lalu. Sementara laba bersih diperkirakan menembus Rp60 triliun atau tumbuh 5,35 persen secara tahunan.

Namun demikian, penurunan yield kredit diperkirakan akan memberikan tantangan pada margin bunga bersih. Manajemen BBCA memperkirakan NIM berada di kisaran 5,4–5,6 persen dengan pertumbuhan kredit sekitar 8–10 persen. Biaya kredit diproyeksikan tetap stabil pada kisaran 0,4–0,5 persen.

Untuk menjaga profitabilitas, perseroan diperkirakan akan meningkatkan efisiensi operasional serta mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi dan biaya layanan. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) diproyeksikan membaik ke level 31–33 persen dalam beberapa tahun ke depan.

"Kami mempertahankan rekomendasi Beli untuk BBCA dengan target harga Rp11.400, yang lebih tinggi dari sebelumnya Rp10.800," demikian salah satu kesimpulan riset BRIDS yang memprediksi potensi penurunan saham BBCA sudah terbatas.

Saat ini saham BBCA diperdagangkan pada valuasi sekitar 3,11 kali price to book value (PBV), lebih rendah dibandingkan rata-rata historis dalam 10 tahun terakhir yang berada di kisaran 3,6–4,2 kali PBV.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis