tirto.id - Pada Juli 2014, Tuanan, Cagar Alam Mawas, Kalimantan Tengah, seekor orang utan betina bernama Kondor sedang berasyik masyuk dengan pejantan bernama Ekko. Mereka sudah beberapa hari terakhir tampak mesra.
Akan tetapi, Ekko, si jantan tanpa bantalan pipi itu, melakukan tindakan bodoh. Meski sudah punya kekasih bernama Kondor, ia dengan lancang melakukan inspeksi seksual terhadap betina lain, yang berusia 20 tahun lebih tua dari Kondor. Namanya Sidony.
Sidony kala itu berusia 35 tahun. Ia dikenal suka menyendiri dan jarang srawung dengan sesamanya. Namun, ia adalah sosok ibu yang baik. Anak-anaknya ada yang sudah remaja dan ada pula yang masih tinggal di dekatnya.
Sidony, ketika didekati oleh Ekko, sejatinya tidak tampak tertarik. Alih-alih meladeni tingkah polah Ekko, Sidony memilih menyingkir. Sayangnya, kendati Sidony sudah mengalah, Kondor, yang mentalnya tengah ambruk setelah bayi pertamanya mati beberapa minggu sebelumnya, tetap tidak terima.
Kondor murka. Ia menghampiri Sidony lalu memukulinya. Saat itu, Ekko justru ikut serta. Apalagi, orang utan seperti Ekko punya gigi taring lebih besar ketimbang milik Kondor, dan itulah yang dia gunakan untuk menyakiti Sidony. Keduanya terus menyerang Sidony, sampai akhirnya datanglah pejantan lain bernama Guapo.
Guapo, yang merupakan orang utan dengan bantalan pipi, langsung mengusir Ekko, lalu berdiri melindungi Sidony yang terluka parah. Alhasil, Kondor pun ikut menyingkir.
Keberadaan Guapo mengubah situasi dan kondisi konflik. Intensitas serangan fisik terhadap Sidony menurun drastis. Sebelum ada Guapo, serangan fisik terhadap Sidony tercatat berlangsung selama 28 menit. Setelah ada Guapo? Satu menit dan dua puluh detik, meskipun total durasi gangguan terus berlangsung selama 61 menit.
Peran Guapo pun tidak hanya di situ. Selama tiga hari berikutnya—sebelum itu Guapo dan Sidony sempat bercinta terlebih dahulu—dia terus menjadi pengawal Sidony dan selalu sukses menghalau Kondor yang juga terus berusaha mendekat.
Sayangnya, karena luka-luka yang terlampau parah, Sidony pada akhirnya tak mampu bertahan hidup. Kurang lebih dua pekan setelah insiden penyerangan, betina tersebut mati. Sejak itu pula keberadaan Guapo tak ditemukan di lokasi yang sama. Beruntung, anak Sidony kemudian dirawat oleh kakaknya yang telah menginjak usia remaja.
Peristiwa Langka dalam Kehidupan Sosial Orang Utan
Cerita di atas mungkin bakal terdengar seperti dracin. Padahal, itu semua sungguh-sungguh terjadi dan diabadikan oleh Anna Marzec, peneliti dari Universitas Zurich, dalam makalah berjudul "The dark side of the red ape: male-mediated lethal female competition in Bornean orangutans" yang terbit pada 2016. Sebelumnya, Marzec bersama tim penelitinya sudah mengumpulkan lebih dari 26 ribu jam data pengamatan, lalu menyimpulkan bahwa kejadian antara Kondor dan Sidony tersebut merupakan peristiwa langka.
Betapa tidak, sepanjang sebelas tahun riset di Tuanan, tim peneliti hanya pernah mencatat enam kali perkelahian fisik antarbetina, dan tak satu pun di antaranya sampai menimbulkan luka kasat mata atau serius. Bandingkan dengan yang dialami Sidony, yang harus meregang nyawa akibat luka-luka serius.
Kelangkaan itu sebenarnya bisa dijelaskan dari cara hidup orang utan betina. Orang utan Kalimantan betina macam Sidony dan Kondor cenderung filopatrik, alias lebih banyak menetap di sekitar wilayah jelajah ibunya seumur hidup. Adapun yang merantau sampai jauh dari tempat lahirnya adalah orang utan Kalimantan jantan. Karena pola menetap seperti itu, betina-betina yang berkerabat dekat biasanya punya wilayah jelajah yang saling tumpang tindih dan cenderung lebih toleran satu sama lain, sedangkan terhadap betina yang tak berkerabat mereka lebih memilih menghindar ketimbang konfrontasi.
Namun, Sidony agak berbeda. Wilayah jelajahnya tidak tumpang tindih dengan kerabat betina dewasa mana pun. Selain itu, ia tercatat hanya menghabiskan sekitar 0,3 persen dari total 768 jam waktu pengamatannya untuk berasosiasi dengan tetangga betina yang tak berkerabat, jauh di bawah rata-rata populasi (mendekati 2 persen). Dengan kata lain, Sidony memang dikenal sebagai penyendiri, bahkan untuk ukuran orang utan yang memang pada dasarnya soliter.
Pola hidup macam itu membuat persaingan antarbetina jarang sekali berubah jadi kekerasan terbuka. Alih-alih baku hantam, betina-betina yang tidak nyaman satu sama lain biasanya hanya saling menghindar. Salah satu contohnya adalah kisah Sumi, betina dewasa yang kehilangan habitatnya akibat penebangan, pertambangan, dan kebakaran hutan, pada awal 2000-an. Ia terpaksa berpindah ke wilayah Tuanan, tanpa kerabat sama sekali.
Setiap kali bertemu betina residen yang mengusirnya, Sumi segera kabur dan menghindari konfrontasi fisik sebisa mungkin. Bahkan ia dikenal kerap bergerak diam-diam di tanah agar tidak ketahuan.
Sumi pada akhirnya mati pada Agustus 2006, bukan karena perkelahian, melainkan diserang macan dahan.

Selain perilaku agresif yang di luar kebiasaan, hal unik lain dari kasus Kondor vs. Sidony adalah keterlibatan pihak ketiga. Dalam hal ini maksudnya adalah Ekko dan Guapo. Sebelum insiden itu, belum pernah ada laporan koalisi lintas jenis kelamin pada orang utan liar, ketika seekor pejantan justru memihak salah satu. Kasus Kondor-Sidony itulah yang pertama.
Pada primata lain, kekerasan mematikan biasanya melibatkan koalisi sesama jenis kelamin yang menyerang korban tunggal, seperti yang sudah banyak terdokumentasi pada simpanse maupun monyet colobus merah. Pola yang melibatkan dua jantan dari pihak berseberangan, satu mendukung penyerang dan satu lagi melindungi korban, jelas "menyimpang" dari pakem umum. Itulah salah satu alasan kasus tersebut begitu menyita perhatian para primatolog ketika pertama kali dipublikasikan.
Hal lain yang membuat kasus tersebut istimewa adalah caranya terjadi. Bukan sekadar kebetulan dua pejantan berada di lokasi yang sama. Sebab, mereka tampak terlibat secara aktif, berdasarkan hubungan masing-masing dengan betina yang didampingi.
Ekko sudah lima hari berturut-turut beraktivitas berdampingan secara eksklusif dengan Kondor sebelum insiden terjadi. Ini adalah semacam masa penjajakan menjelang masa subur betina yang dalam istilah primatologi disebut konsorsi. Guapo, meski jarang terlihat di wilayah itu, ternyata juga sudah punya riwayat berinteraksi dengan Sidony sebelumnya.
Susunan hubungan seperti inilah yang membuat para peneliti menafsirkan keterlibatan kedua jantan tersebut bukan sebagai kebetulan, melainkan sebagai bentuk investasi sosial. Ekko diduga membantu Kondor untuk mempertahankan kedekatannya dengannya (meski dirinya juga sempat “menginspeksi Sidony secara seksual” tanpa tindak lanjut apa pun), sementara perlindungan yang diberikan Guapo kepada Sidony kemungkinan berakar dari hubungan jangka panjang yang sudah dijalin sebelumnya.
Dalam kasus itu, bisa dibilang Ekko dan Guapo sama-sama menjadi "tukang pukul" bagi masing-masing betina. Ekko ikut membantu Kondor saat menyerang Sidony, sementara Guapo melindungi Sidony dari serangan kedua orang utan tersebut. Uniknya lagi, hubungan Ekko-Kondor dan Guapo-Sidony sama-sama bermuatan seksual.
Para peneliti menyebut fenomena itu sebagai bentuk leverage, daya tawar yang dimiliki betina subur karena ia bisa kapan saja mengakhiri kedekatannya dengan seekor jantan dan beralih ke jantan lain. Oleh karena itulah pejantan terdorong "menyediakan jasa", entah dengan berbagi makanan atau dukungan saat berkelahi, demi mempertahankan kedekatan tersebut.
Itu menunjukkan bahwa orang utan mampu membaca situasi sosial di sekitarnya dan memanfaatkannya secara strategis.
Orang Utan Memang Secerdas Itu
Kalkulasi sosial semacam itu sebenarnya sejalan dengan banyak temuan lain soal kecerdasan orang utan, yang sudah lama jadi perhatian para primatolog.
Orang utan dikenal luas sebagai salah satu kera besar dengan kemampuan kognitif tertinggi, setara simpanse, meski cara hidupnya jauh lebih soliter.
Soal pemakaian alat, misalnya, orang utan mampu memakai ranting untuk mengorek madu dan serangga dari lubang pohon, memakai daun sebagai sarung tangan untuk membuka buah berduri, bahkan memakai alat khusus untuk mengeluarkan biji dari buah berkulit keras di Sumatra.
Kemampuan semacam itu lebih menonjol pada orang utan eks-tangkaran yang tak lagi punya bimbingan induk. Mereka dipaksa berimprovisasi dan akhirnya menunjukkan kreativitas lebih beragam dibanding kerabat lain yang liar.
Riset yang lebih sistematis juga sudah membuktikan adanya semacam "faktor kecerdasan umum" pada orang utan, mirip konsep psikometrik g yang biasa dipakai untuk mengukur kecerdasan manusia.
Studi terhadap 53 ekor orang utan Kalimantan dan Sumatra—diuji lewat lima tugas kognitif berbeda, mulai dari fleksibilitas berpikir, kontrol diri, penalaran sebab-akibat, hingga kemampuan belajar—menemukan bahwa satu komponen utama bisa menjelaskan sekitar 31 persen variasi performa individu dalam memecahkan masalah. Artinya, orang utan yang pintar di satu bidang cenderung juga pintar di bidang lain, persis seperti pola yang biasa ditemukan pada manusia.
Namun, ada perbedaan kecerdasan antara orang utan Sumatra dan Kalimantan, yang diduga berkaitan erat dengan gaya hidup sosialnya. Orang utan Sumatra, yang di alam liar cenderung lebih suka berkelompok dan lebih toleran satu sama lain, terbukti jauh lebih unggul dalam berbagai uji kognitif di kebun binatang, dibanding orang utan Kalimantan, dengan peluang berhasil menyelesaikan suatu tugas yang enam kali lebih tinggi.
Temuan tersebut mendukung hipotesis bahwa makin sering individu punya kesempatan belajar dari sesamanya, makin terasah pula kemampuan belajar mandirinya, sebuah teori yang dikenal sebagai cultural intelligence hypothesis.
Orang utan juga dikenal berkemampuan komunikasi yang jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan banyak orang.
Riset di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah, yang melibatkan lebih dari 600 jam rekaman video, mengidentifikasi delapan jenis tujuan komunikasi yang disampaikan lewat kombinasi suara dan gestur, mulai dari mengajak memanjat bersama hingga meminta lawan bicara menjauh. Hasilnya, orang utan terbukti merespons isyarat tersebut dalam waktu kurang dari satu detik pada 90 persen kasus.
Bahkan, untuk urusan kesehatan, orang utan punya trik tersendiri. Peneliti dari Borneo Nature Foundation mendokumentasikan orang utan betina di Sebangau yang berulang kali mengunyah daun Dracaena cantleyi hingga berbusa, lalu mengoleskannya ke tubuh. Hal itu diduga bertujuan meredakan rasa nyeri secara alami, mirip praktik yang juga dikenal masyarakat Dayak setempat dengan nama tewukak.
Yang tak kalah unik, orang utan juga berkemampuan mengingat dan "membicarakan" kejadian yang sudah lewat, layaknya manusia. Dalam sebuah eksperimen, induk orang utan yang menyaksikan ancaman predator palsu baru memberi peringatan kepada anaknya rata-rata tujuh menit setelah ancaman tersebut hilang dari pandangan. Itu menunjukkan seolah mereka sedang memberi tahu bahwa tadi ada sesuatu yang berbahaya di sana.
Studi pimpinan Adriano Reis e Lameira dan Josep Call yang terbit di Science Advances itu jadi salah satu bukti kuat kapasitas kognitif tingkat tinggi pada orang utan.
Kalau semua bukti tersebut digabungkan, kemampuan tukar-menukar sosial yang ditunjukkan Kondor dan Sidony jadi tidak terlalu mengejutkan. Orang utan sudah lama dikenal mampu memakai alat, menguasai pengobatan herbal, berkomunikasi lewat isyarat kompleks, bahkan mengingat kejadian yang sudah lewat. "Memanfaatkan" daya tarik seksual untuk mendapatkan dukungan fisik dari jantan, baik untuk menyerang maupun untuk berlindung, sebenarnya hanya satu lagi bentuk dari kalkulasi sosial yang sama.
Sayangnya, di balik segala kecanggihan kognitif itu, nasib orang utan jauh dari aman. Ketiga spesies orang utan, baik Kalimantan (Pongo pygmaeus), Sumatra (Pongo abelii), maupun Tapanuli (Pongo tapanuliensis), kini berstatus Sangat Terancam Punah, akibat hilangnya habitat hutan akibat penebangan, perkebunan, dan kebakaran, persis seperti yang dialami Sumi, sebelum tewas diterkam macan dahan.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id





































