Menuju konten utama

4 Fakta Karnaval Pekalongan: Peserta Tewas hingga Aksi Satanisme

Karnaval di Pekalongan membawa polemik pada khalayak. Selain terdapat peserta yang meninggal, acara tersebut diduga turut menampilkan teatrikal satanisme.

4 Fakta Karnaval Pekalongan: Peserta Tewas hingga Aksi Satanisme
Acara Simbang Kulon Night Carnival di Pekalongan. FOTO/istimewa
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kegiatan Simbang Kulon Night Carnival 2026 yang berlangsung di Pekalongan pada Kamis (10/9/2026) viral di jagad maya. Acara karnaval itu menjadi perhatian publik setelah dinilai kontroversial. Seorang peserta tewas dan muncul dugaan aksi satanisme dalam penyelenggaraannya

Karnaval tersebut berlangsung di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. Semula, acara ini menjadi acara puncak dari kegiatan khitan massal dan peringatan Maulid Nabi Muhammad yang diisi dengan berbagai parade seni budaya hingga festival kreativitas.

Akan tetapi, video dokumentasi acara ini belakangan viral di internet. Hal ini terjadi lantara tayangan dalam tersebut memperlihatkan salah satu pertunjukkan teatrikal yang dinilai warganet kontroversial, yakni mengarah pada simbol satanisme.

Fakta-Fakta Seputar Simbang Kulon Night Carnival 2026

Acara Simbang Kulong Night Carnival (SKNC) 2026 telah selesai dilangsungkan. Namun, pelaksanaan acara tersebut masih menggema di ruang-ruang digital di internet.

Dugaan telah digunakannya simbol-simbol satanisme merupakan salah satu alasan mengapa gema itu masih ada. Namun, selain itu, ada pula sejumlah fakta terkait acara tersebut yang juga menuai kontroversi, berikut di antaranya.

1. Acara untuk Puncak Hajatan Khitanan Massal dan Peringatan Maulid Nabi

Simbang Kulon Night Carnival 2026 adalah pawai budaya yang digelar pada malam hari. Acara ini pengembangan kegiatan tradisi khitanan massal yang dijalankan setiap tahunnya dan telah berlangsung sampai di tahun ke-61. Kehadiran karnaval menjadi puncak acara tradisi khitanan massal tersebut, di samping juga untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad.

Dalam SKNC 2026 turut mengusung konsep parade busana, pertunjukkan kesenian tradisional hingga drumband. Warga juga turut membuat ogoh-ogoh untuk menyemarakkan parade, selain dihadirkan pula pertunjukkan sound horeg.

Gelaran tahun ini diikuti 25 barisan dari 25 mushola yang ada di Kelurahan Simbang Kulon. Tema yang diangkat adalah "Nyawiji ing Budaya, Ngukuhake Paseduluran”

Panitia berharap kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat sekitar untuk mempertontonkan kreativitas dan mengajak untuk tetap menjaga kerukunan. Hanya saja, dalam pertunjukan SKNC kali ini menimbulkan polemik setelah salah satu barisan justru membuat aksi teatrikal yang mengarah pada aktivitas satanisme.

2. Peserta Ahmad Faiz Meninggal

Karnaval yang terselenggara di Pekalongan ini kemudian menjadi viral usai seorang peserta bernama Ahmad Faiz meninggal dunia. Peristiwa ini kemudian memicu isu yang berkembang liar di antara warganet.

Hal tersebut lantara mendiang Ahmad Faiz merupakan salah satu peserta yang mengenakan kostum monster ketika karnaval berlangsung. Kostum itu kemudian ramai dikaitkan dengan kematian Ahmad Faiz setelahnya.

Ahmad Faiz sendiri meninggal dunia pada Jumat (11/9) pagi, sehari setelah penyelenggaraan Simbang Kulon Night Carnival 2026. Jenazahnya kini telah dimakamkan.

Di Simbang Kulon, mendiang Faiz sehari-hari bekerja sebagai pengrajin batik. Keterampilannya itu kemudian turut digunakan untuk membuat kostum untuk keperluan karnaval.

Setelah kabar kematiannya tersiar dan isu atasnya berkembang luas, pihak keluarga belakangan membuat klarifikasi. Menurut mereka, Faiz diduga meninggal akibat kelelahan.

Sebelum tampil pada Kamis malam, ia disebut pihak keluarga telah ikut terlibat dalam persiapan karnaval selama dua hari sebelumnya. Hal ini ia lakukan sembari tetap bekerja dan membuatnya hanya tidur selama 1-2 jam, kata pihak keluarga.

Pihak keluarga pun membantah isu yang mengaitkan kematian Faiz dengan kostum yang ia kenakan selama karnaval. Menurut mereka, Ahmad Faiz meninggal karena kelelahan.

3. Dugaan Aksi Pengeroyokan dan Klarifikasinya

Penyelenggaraan karnaval juga dilaporkan sempat berlangsung ricuh. Diduga sebuah aksi pengeroyokan antara peserta karnaval dan penonton turut terjadi di tengah acara tahunan itu.

Akan tetapi, pihak panitia karnaval belakangan memberikan klarifikasi terkait hal tersebut. Mereka membenarkan adanya perkelahian, namun membantah jika telah terjadi pengeroyokan.

Menurut kronologi yang dibagikan pihak panitia, kericuhan berawal dari oknum penonton dari luar desa. Oknum itu disebut berusaha untuk merebut properti peserta.

Dari sana, kericuhan kemudian terjadi setelah penonton tersebut melakukan pemukulan terhadap peserta karnaval. Peristiwa ini lalu memicu amarah dari kelompok peserta yang jadi korban.

Pihak panitia juga memastikan bahwa tak ada dampak yang serius dari kericuhan itu. Mereka membenarkan adanya korban luka, namun hal itu disebut tak parah.

4. Simbol dan Dugaan Aksi Satanisme

Dari berbagai kontroversi yang terjadi selama karnaval, dugaan penggunaan simbol satanisme merupakan hal yang paling menyita perhatian publik dari karnaval di Pekalongan itu. Salah satu kelompok peserta disebut telah memperagakan aksi satanisme di panggung acara sebagai pertunjukkan.

Selama acara, kelompok ini sebenarnya melakukan hal yang umum dilakukan dalam sebuah karnaval, yakni pertunjukkan teatrikal. Namun, konsep pertunjukkan tersebut dinilai tak tepat dan menciptakan keresahan.

Pertunjukkan dimulai dengan kemunculan sejumlah orang berkostum tengkorak. Penggambarannya mirip seperti penyihir berkepala tengkorak dan membawa kitab khusus.

Tak lama setelahnya, sejumlah orang berkostum putih datang sambil memanggul peti. Properti berupa peti itu rupanya digunakan sebagai semacam altar untuk menyembelih seekor kambing. Kepala kambing berlumur darah kemudian diangkat dan dipertontonkan.

Serangkaian pertunjukkan teatrikal itu kemudian disorot warganet. Hal ini lantaran maksud pertunjukkan yang tidak sepenuhnya jelas. Selain itu, muncul pula beberapa simbol terkait satanisme, seperti pentagram atau simbol geometri bintang berujung lima sudut, buku berlambang mata satu, juga penggunaan kepala kambing yang kerap dikaitkan dengan mitologi satanisme baphomet.

Sementara itu, pihak panitia menjelaskan bahwa pertunjukkan tersebut berlangsung tanpa sepengetahuan mereka. Mereka menyebut sudah jadi kebiasaan para peserta untuk membuat kejutan, sehingga detail pertunjukkan umumnya dirahasiakan.

Aspek kejutan itu, kata panitia, merupakan hal yang kerap dieksploitasi para peserta untuk menarik perhatian dan menciptakan kesan yang menghebohkan. Namun, dalam hal ini, pertunjukkan dengan simbol satanis itu sebelumnya tak pernah terjadi.

Sejauh ini, pihak pembuat pertunjukkan juga dilaporkan belum membuat pernyataan terbuka untuk menjelaskan maksud dari pertunjukkan mereka. Pihak panitia juga mengaku tengah menunggu kelompok peserta itu untuk menjelaskannya kepada publik.

Baca juga artikel terkait KARNAVAL atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar