2018 Merupakan Tahun Kejutan dalam Sepakbola

Ilustrasi Match Fixing. FOTO/iStockphoto
Oleh: Eddward S Kennedy - 31 Desember 2018
Dibaca Normal 4 menit
Berbagai momentum terjadi: perayaan, sumpah serapah, kesedihan, skandal, hingga yang memunculkan harapan.
tirto.id - Tahun 2018 bisa disebut sebagai periode penuh kejutan dalam dunia sepakbola. Di Piala Dunia 2018, misalnya, ada begitu banyak momen yang terus mengejutkan pemirsa. Mulai dari trigol Cristiano Ronaldo di babak awal grub B kontra Spanyol, kesuksesan Inggris melaju ke perempat final dengan cara yang sangat tidak Inggris: memenangkan adu penalti (lawan Kolombia), hingga Jerman yang gagal lolos dari fase grup untuk pertama kalinya sejak 80 tahun lalu.

Gagalnya Jerman bahkan sampai membuat akun Twitter Fox Sports Brazil tak kuasa melampiaskan kegembiraan. Itu adalah ekspresi kepuasan yang selama ini dinanti sejak Brazil dibantai Jerman di hadapan pendukung sendiri yang memadati Maracana empat tahun lalu pada Piala Dunia 2014. Kala itu, Jerman menang dengan skor bombastis: 1-7.

Keseruan dalam Piala Dunia 2018 masih bisa diperpanjang daftarnya: Final Perancis - Kroasia yang menghadirkan enam gol, Argentina yang pontang-panting sejak fase grup, sampai-sampai membuat Diego Maradona harus masuk rumah sakit usai menyaksikan laga terakhir Albiceleste di grup D kontra Nigeria, lalu ada Belgia versus Jepang di babak 16 besar: laga super seru tahun ini yang akhirnya dimenangkan anak asuh Roberto Martínez lewat taktik blitzkrieg di menit akhir.

Masih ada lagi kejutan lainnya, ingatlah bagaimana Neymar "Teatrinho" yang mengubah diving jadi banal. Sementara di Mexico City, ribuan orang yang berjingkrak bersama usai Hirving Lozano mencetak gol ke gawang Jerman menghasilkan gempa bumi. Jangan lupa pula bagaimana selebrasi monumental Xerdan Shaqiri dan Granit Xhaka usai mencetak gol ketika Swiss mengalahkan dengan Serbia di pertandingan Grup E.



Sebagai dua orang imigran asal Kosovo, mencetak gol ke gawang (bekas negara) penjajah adalah orgasme yang harus dirayakan sepolitikal mungkin. Dan memang itulah yang mereka lakukan: berlari kencang sambil mengapitkan tangan dan mengepakkan jari mereka seperti sayap elang. Sebuah simbol kebesaran Albania: Albanian Eagle.

Segala kejutan yang terjadi dalam Piala Dunia 2018 seolah merepresentasikan betapa serunya sepakbola pada 2018. Namun demikian, tentunya keseruan lain juga terjadi di ajang dan tempat yang berbeda. Salah satunya di Indonesia.




Lengan Mohamed Salah Hingga Skandal Pengaturan Skor

Kejutan paling awal pada bulan Januari terjadi dalam laga Nantes kontra Paris Saint Germain (PSG) di Ligue 1 Perancis. Momen ini melibatkan pemain Nantes asal Brazil, Diego Santos, dengan wasit yang memimpin laga kala itu, Tony Chapron. Terjadi insiden pemain tabrak wasit berujung kartu merah.

Syahdan, di babak kedua ketika PSG melakukan serangan balik, Carlos turun ke belakang untuk membantu pertahanan. Entah terlalu fokus atau bagaimana, pemain 24 tahun tersebut tidak melihat keberadaan Chapron hingga menabrak wasit tersebut. Chapron mencoba membalas Carlos dengan menjulurkan kakinya ke arah si pemain. Tak berhenti sampai di situ, pengadil berkepala plontos tersebut lantas mengacungkan kartu kuning kedua untuk Carlos. Alhasil, si pemain pun harus keluar dari lapangan setelah sebelumnya mendapat kartu kuning di babak pertama.

Menjelang akhir Januari 2018, ada dua transfer menarik yang melibatkan dua tim besar di Premier League: Pierre-Emerick Aubameyang yang didatangkan Arsenal dari Borussia Dortmund dan Alexis Sanchez yang hijrah ke Manchester United. Kini Aubameyang menjadi salah satu pemain tersubur di EPL dengan torehan 13 gol bersama Mohamed Salah dan Harry Kane. Sedangkan kabar dari Sanchez adalah isu kepindahannya ke PSG.

Di bulan Februari, kejutan datang dari Lionel Messi yang akhirnya berhasil membobol gawang Chelsea. Hal itu dilakukannya ketika Barcelona bertandang ke Stamford Brigde, markas Chelsea, dalam laga babak 16 besar Liga Champions. Perlu 30 kali tembakan bagi Messi sebelum bisa merobek jala The Blues.



Pindah ke Maret, ada kisah sensasional yang muncul dalam laga antara PAOK dan AEK Athens di Stadion Toumbas, Thessaloniki, Minggu (11/3) waktu setempat. Ketika pertandingan memasuki menit-menit akhir, PAOK berhasil menjebol gawang AEK berkat sundulan Fernando Varela. Namun, wasit Georgios Kominis tidak mengesahkan gol dan membatalkan keunggulan 1-0 tuan rumah.

Keputusan tersebut membuat suporter PAOK menyerbu lapangan. Situasi pun menjadi kisruh. Namun tokoh utama dalam momen ini adalah presiden PAOK, Ivan Savvidis. Lantaran ikut kecewa, Savvidis turut merangsek ke lapangan untuk mendatangi wasit sambil membawa pistol, sebelum akhirnya dihalangi oleh beberapa pengawalnya.

Persis di 31 Maret 2018, tiada pesepakbola lain di dunia ini selain Zlatan Ibrahimovic yang memberi kejutan. Dalam pertandingan debutnya bersama LA Galaxy, Ibra mencetak dua gol ke gawang Los Angeles FC meski baru masuk sebagai pemain pengganti di menit 71. Gol pertama ia cetak dengan sangat spektakuler: tendangan voli sejauh 36 meter. Berkat dua gol itu pula, Ibra mengantar LA Galaxy membalikkan keadaan dari 1-3 menjadi 4-3.

Di awal dan pertengahan April, dunia sepakbola dikejutkan melalui dua momen: tendangan salto Cristiano ke gawang Juventus dalam laga pertama perempat final Liga Champions. Saking bagusnya gol tersebut, suporter Juventus sampai ikut bertepuk tangan--hal yang kelak membuat Cristiano memutuskan bergabung dengan Bianconeri. Momen kedua adalah keberhasilan AS Roma membalikkan keadaan 3-0 setelah kalah dari Barcelona di Nou Camp dengan skor 1-4.

Pada akhir April, kabar mengejutkan datang dari Arsenal: Arsene Wenger pensiun dari kursi kepelatihan The Gunners. Tiga gelar liga, tujuh Piala FA, satu final Liga Champions, dan satu musim tidak terkalahkan adalah segala pencapaian Wenger selama 22 tahun menangani The Gunners, selain sepakbola indah dari sekumpulan pemain multietnis yang kelak menjadi percikan evolusi di EPL.

Dalam waktu yang tidak terpaut jauh jaraknya, kabar sedih lain juga muncul dari Andres Iniesta setelah ia mengumumkan tak lagi memperkuat Barcelona. Seperti Wenger, Iniesta juga telah memperkuat Los Cules sepanjang 22 musim. Dalam kurun waktu tersebut, ia telah memainkan 669 pertandingan, 57 gol, meraih delapan gelar La Liga, enam gelar Copa del Rey, tujuh piala Super Copa Spanyol, empat trofi Liga Champions, tiga Piala Super Spanyol, dan tiga trofi Piala Dunia Antar-klub.

Pada Mei, Manchester City menjadi tim pertama di Liga Primer Inggris yang menjadi juara dengan raihan 100 poin. Sementara di Bundesliga, Hamburg SV untuk pertama kalinya terdegradasi dari Bundesliga sejak musim pertama liga tersebut digelar pada 1963-1964. Kepastian tersebut didapat Hamburg usai menang 2-1 atas Borussia Moenchengladbach dalam laga terakhir Bundesliga yang digelar di kandang sendiri, Stadion Volksparkstadion, Sabtu (12/5/2018).

Namun kejutan paling mencengangkan pada Mei terjadi dalam final Liga Champions: Real Madrid meraih gelar ketiga mereka secara beruntun usai mengalahkan Liverpool 1-3. Ada empat hal menarik dalam laga ini: pelanggaran keras Sergio Ramos terhadap Mohamed Salah hingga menyebabkan striker asal Mesir itu cedera bahu dan tidak dapat melanjutkan pertandingan; gol spektakuler Gareth Bale; dua blunder fatal Loris Karius.

Pada Juni, usai Piala Dunia, dunia sepakbola dikejutkan dengan kepindahan Cristiano ke Juventus dengan mahar 100 juta euro untuk kontrak berdurasi empat tahun. Sembilan tahun bermain di Santiago Bernabeu, Cristiano telah bermain sebanyak 438 kali di semua ajang, mencetak 450 gol dan 119 assist, menyumbang 15 trofi (empat di antaranya trofi Liga Champions), dan meraih empat penghargaan Ballon d'Or (2013, 2014, 2016, dan 2017).

Di penghujung Juli, giliran Mesut Oezil yang menghebohkan jagat sepakbola setelah mengumumkan mundur dari timnas Jerman karena tak tahan terus dipojokkan--hingga dianggapnya mengarah ke tindakan rasialisme--atas kegagalan Der Panzer di Piala Dunia. Kecaman terhadap Oezil bermunculan sejak ia (bersama Illkay Guendogan) kedapatan berfoto dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan.

Memasuki September, momen pahit muncul dunia sepakbola di Indonesia: salah seorang suporter Persija, Haringga Sirila, tewas setelah dikeroyok oleh Bobotoh di sekitar kawasan Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Minggu (23/9/2018). Peristiwa tersebut terjadi hanya beberapa jam sebelum kick-off laga Persib Bandung melawan Persija. Haringga adalah korban keenam yang tewas dari laga Persib dan Persija.

Pada Oktober, ada nama Julen Lopetegui yang mengejutkan jagat sepakbola. Setelah sebelumnya dipecat timnas Spanyol hanya sehari jelang dimulainya Piala Dunia 2018 lalu digantikan Fernando Hierro, Lopetegui kembali mengalami pemecatan oleh Real Madrid pada akhir Oktober usai Los Merengues kalah telak 1-5 dari Barcelona di El Clasico. Posisinya pun digantikan oleh Santiago Solari.

Sepanjang November-Desember, ada dua momen mengejutkan: isu skandal pengaturan skor di sepakbola Indonesia dan dipecatnya Jose Mourinho dari Manchester United. Momen yang kedua sebetulnya tidak terlalu mengagetkan karena isu pemecatan Mouriho sudah bergulir sejak berminggu-minggu sebelumnya. Jika pun ada yang menghebohkan, United kemudian memilih Ole Gunnar Solskjaer untuk menggantikan (sementara) posisi Mourinho, bukan Antonio Conte atau Zinedine Zidane seperti desas-desus yang sebelumnya beredar.



Sementara itu, isu skandal pengaturan skor sebetulnya juga merupakan lagu lama dalam sepakbola Indonesia. Namun baru kali inilah eksposur dan penanganan terkait skandal ini tampak serius dan meyakinkan. Sejauh ini sudah ada empat nama sudah ditangkap: Johar Lin Eng (anggota Komite Eksekutif/Exco), Dwi Irianto alias Mbah Putih (anggota Komisi Disiplin PSSI), Priyanto (mantan anggota Komite Wasit PSSI), serta Anik Yuni Kartika Sari alias Tika (wasit futsal yang juga mengaku sebagai anak Priyanto).

Baca juga artikel terkait KECURANGAN PERTANDINGAN atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Suhendra
DarkLight