Menuju konten utama

Zulhas: Ongkos Produksi Beras RI Rp13.000/kg, Vietnam Rp4.000/kg

Ketimpangan biaya produksi dengan negara lain terjadi pada komoditas beras hingga gula.

Zulhas: Ongkos Produksi Beras RI Rp13.000/kg, Vietnam Rp4.000/kg
Zulkifli Hasan di Jakarta, Senin (8/12/2025). tirto.id/nanda

tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan kesenjangan produktivitas yang signifikan antara Indonesia dan negara pesaing di sektor pertanian, khususnya komoditas beras dan gula. Menurutnya, biaya produksi di dalam negeri jauh lebih tinggi membuat daya saing produk lokal jadi melemah.

“Untuk memproduksi 1 kilo beras itu kita ongkosnya Rp13.000. Vietnam untuk memproduksi ongkos 1 kilo beras itu Rp4.000. Jauh, jauh,” kata Zulhas di Jakarta, Senin (8/12/2025).

Tidak hanya beras, ketimpangan serupa juga terjadi pada komoditas gula. Menurut Zulhas, biaya produksi gula di Thailand hanya sekitar Rp3.000 per kilogram, sedangkan di Indonesia bisa mencapai Rp13.000-Rp14.000 per kilogram.

“Jauh sekali. Tidak mungkin kita akan maju. Karena biaya produksi tinggi sekali. Karena itulah kita ketergantungan,” tegasnya.

Ketergantungan impor yang tinggi akibat kurang kompetitifnya produksi dalam negeri menjadi penyebab utama. Zulhas merinci, pada tahun lalu Indonesia masih harus mengimpor beras hampir setengah juta ton, gula 6 juta ton, kedelai 3 juta ton, garam hampir 2,8 juta ton, jagung lebih dari 2 juta ton untuk industri, dan gandum 13 juta ton.

“Kalau pangan saja kita sangat tergantung, gimana kita mau menuju kedaulatan ekonomi? Tidak mungkin,” ujarnya.

Menurut Zulhas, swasembada pangan merupakan fondasi kedaulatan dan kehormatan bangsa. Oleh karena itu, meningkatkan produktivitas dan memberdayakan pelaku utama sektor pangan seperti petani, nelayan, dan peternak dinilai sebagai kunci.

“Kita sudah 28 tahun selalu memberi bantuan (BLT). Kalau rakyat kita susah, kita kasih 10 kilogram (beras). Kalau rakyat kita susah, kita kasih Rp300 ribu bantuan tunai, itu oke Tapi tidak akan membuat kita produktif,” katanya.

Ia menegaskan, mustahil mencapai kedaulatan ekonomi tanpa masyarakat yang kreatif dan produktif. Hanya dengan langkah itu, sambungnya, produktivitas akan meningkat dan kualitas hidup masyarakat juga naik.

“Kita perlu lebih dari itu, kita perlu pemberdayaan, sehingga kita bisa kreatif dan produktif. Tidak mungkin kita akan menjadi kedaulatan ekonomi tanpa masyarakat yang kreatif dan produktif, tidak mungkin,” sambungnya.

Baca juga artikel terkait ZULKIFLI HASAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana