23 November 1970

Yusof Ishak, Wartawan Olahraga yang Jadi Presiden Pertama Singapura

Ilustrasi Mozaik Yusof Ishak. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 23 November 2019
Dibaca Normal 4 menit
Kepala Negara Singapura pertama yang berlatar etnis Melayu. Dikenal sebagai perintis pers Melayu yang kemudian menjajaki jalan sebagai pejabat publik.
tirto.id - Pada 23 November 1970, tepat hari ini 49 tahun lalu, presiden pertama Singapura Yusof Ishak meninggal. Meski citranya tak semenjulang almarhum Perdana Menteri Lee Kuan Yew, Encik Yusof sangat dihormati. Selain sosoknya yang tergambar di mata uang, namanya juga tersemat di beberapa tengara penting di Singapura hari ini.

Sebutlah misalnya Yusof Ishak Secondary School yang dibuka pertama kali pada 1966. Namanya juga diabadikan menjadi nama sebuah masjid yang dibangun pada 2014 di bilangan Woodlands. Setahun setelah itu namanya disematkan pada sebuah lembaga studi Asia Tenggara terkemuka, ISEAS-Yusof Ishak Institute. National University of Singapore meluncurkan Yusof Ishak Professorship in Social Sciences yang fokus pada bidang studi multikulturalisme.

“Dia adalah tokoh sederhana, pekerja keras, disiplin tetapi pemalu. Seorang muslim yang taat sekaligus modern,” tulis harian Singapore Monitor tentang Yusof Ishak (2/9/1983).

Encik Yusof lahir di Padang Gajah, Negeri Perak—kini wilayah Malaysia—pada 12 Agustus 1910. Nama lahirnya adalah Yusof. Ishak adalah nama sang ayah. Sesuai kebiasaan Melayu, ia dikenal sebagai Yusof bin Ishak.

Leluhur Yusof dari pihak ayah diketahui berakar dari Sumatra. Datuk Janaton, moyangnya, adalah bangsawan Minangkabau. Pada abad ke-18 Datuk Janaton beserta keluarga dan beberapa pengikut hijrah ke Semenanjung Melayu. Ia lalu bersumpah setia kepada Sultan Kedah.

Ishak bin Ahmad, ayah Yusof, adalah seorang birokrat kolonial terpandang. Ia memulai karier sebagai pegawai layanan administratif kolonial Inggris bagi warga Melayu dan lalu berkecimpung di Departemen Perikanan. Laman Singapore Infopedia menyebut Ishak adalah orang non-Eropa pertama yang berhasil menduduki posisi direktur di Departemen Perikanan kolonial Inggris.

Yusof memulai pendidikan dasar di negeri kelahirannya, Perak, hingga keluarganya pindah ke Singapura pada 1923. Usai menamatkan sekolah menengah di Raffles Institution, Yusof yang waktu kecil bercita-cita jadi seorang raja itu sebenarnya ingin belajar hukum di Inggris dan jadi hakim. Sayangnya sang ayah tak mampu meloloskan keinginan itu karena soal finansial.

"Beliau punya perhatian khusus terhadap keadilan. Seorang hakim memberikan keadilan, demikian juga seorang raja haruslah seseorang yang bertanggung jawab dan mampu memperbaiki keadaan,” kenang Imran Yusof, putra Yusof, sebagaimana dikutip laman warta Straits Times.


Jadi Wartawan Melayu

Di luar kelas Yusof dikenal sebagai pemuda energik yang doyan olahraga. Di Raffles Institution dia adalah atlet sekolah dengan banyak kebisaan. Mulai dari hoki, kriket, renang, polo air, basket, tinju, hingga angkat besi. Tapi yang paling menonjol prestasinya adalah di bidang tinju dan angkat besi.

Jurnalistik adalah kegiatan lain yang ia geluti sejak muda. Dia adalah editor majalah sekolah Rafflesian. Karena tak bisa melanjutkan belajar hukum ke Inggris, Yusof sempat coba-coba masuk ke akademi kepolisian kolonial di Kuala Lumpur tapi sebentar kemudian keluar karena suatu perselisihan.

Namun sejak itulah ia lalu menjajaki jalan yang sudah digelutinya sajak bersekolah: jadi wartawan bidang olahraga.

“Setelah lulus sekolah pada 1929, Encik Yusof menjalin kemitraan dengan dua teman Cinanya dan mulai menerbitkan Sportsman, sebuah majalah olah raga yang terbit dwimingguan,” tulis Straits Times (2/12/1959).

Sayang sekali majalah olahraga itu tak seberapa menghasilkan untung. Tiga tahun kemudian, atas undangan kawan lamanya, Syed Hussein bin Ali Alsagof, ia pindah kerja ke harian Warta Malaya. Pada saat itu Warta Malaya adalah koran dengan jaringan edar terbesar di Semananjung Malaya. Meski pemodalannya dikuasai klan Alsagof yang beretnis Arab, Warta Malaya aktif pula menyuarakan aspirasi orang Melayu muslim karena keberadaan Onn Jaafar—nantinya salah satu pendiri Organisasi Nasional Melayu Bersatu alias UMNO, partai terbesar di Malaysia.

Di Warta Malaya karier Yusof naik dengan cepat mulai dari asisten manajer hingga kemudian jadi editor. Yusof berkembang di masa bisnis pers Melayu sedang bergeliat naik pada mula dekade 1930-an. Bahkan dekade itu disebut sebagai era keemasan pers Melayu.

Warta Malaya menghasilkan wartawan Melayu yang produktif pada saat itu. Yang menonjol di antara mereka adalah almarhum Encik Abdul Rahim Kajai yang dijuluki Bapak Jurnalisme Melayu dan Encik Yusof Ishak yang kemudian menjadi Kepala Negara pertama Singapura,” tulis Jeman Sulaiman dalam artikel “The Rise of Malay Newspapers” yang terbit di Straits Times (7/11/1988).

Dua sekondan inilah yang kemudian merintis perusahaan media yang sepenuhnya dimodali dan dikelola orang Melayu. Maka keluarlah mereka dari Warta Malaya pada 1938 untuk merealisasikan ide itu. Mereka berdua lalu menjalin kerja sama dengan eksponen Kesatuan Melayu Singapura untuk mulai membangun sebuah perusahaan.

Sebelum tahun berganti, Yusof dan persekutuannya berhasil mendirikan Utusan Melayu Press Ltd. Surat kabar terbitannya yang dinamai Utusan Melayu mulai beredar pada 29 Mei 1939. Yusof Ishak sendiri diplot sebagai editor dan direktur pelaksananya yang pertama.


Jadi Pejabat Publik

Kegiatan Utusan Melayu sempat macet saat Jepang mulai menginvasi Semenanjung Malaya. Yusof Ishak sendiri sempat ditahan tentara Jepang karena menerbitkan artikel yang menentang pendudukan itu. Perusahaan Utusan Melayu Press dipaksa tutup kemudian dan peralatannya digunakan Jepang untuk menerbitkan koran propaganda.

Selama pendudukan Jepang, sejak 1942 hingga 1945, Yusof berhenti sejenak dari pekerjaannya sebagai wartawan. Tapi, segera setelah Jepang kalah, ia kembali menerbitkan Utusan Melayu.

Iklim pascaperang berubah dengan orang-orang Melayu jadi lebih sadar akan hak politik mereka. Yusof lantas merekrut beberapa tokoh muda Melayu progresif untuk bergabung dalam Utusan Melayu. Beberapa di antara mereka itu kemudian memang menonjol dalam gerakan kemerdekaan di Malaya dan Singapura. Utusan Melayu juga ikut mengipasi semangat ini dan mendukung pembentukan UMNO pada 1946.

“Namun, segera saja visi UMNO untuk merestorasi kesultanan Melayu berbenturan dengan cita-cita demokratis Yusof. Ketegangan di antara mereka meletus berulang kali di Utusan Melayu,” tulis laman Singapore Infopedia.




Selepas perang, Yusof jadi lebih sibuk dengan beberapa pekerjaan di luar pers. Pada 1948 ia dipercaya menjabat anggota Komite Banding Film Singapura. Tak lama ia menggeluti pekerjaan barunya sebagai birokrat, karena pada 1950 ia keluar dan kembali mengurus Utusan Melayu.

Paruh pertama dekade 1950-an adalah masa penting dalam pembentukan embrio Singapura yang otonom. Encyclopaedia Britannica menyebut sejak perang usai Inggris menjadikan Singapura sebagai koloni otonom yang terpisah dari negeri-negeri Semenanjung Malaya. Demografi Singapura yang mayoritas Cina dianggap akan menghambat integrasinya dengan negeri-negeri Semananjung Malaya.

Pembentukan suatu kabinet dan dewan legislatif Singapura tercapai pada 1955. Konstitusi baru dan pemerintahan otonom lalu resmi terbentuk pada 1959. Meski demikian Singapura hanya berdaulat secara internal, sementara urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri masih dalam kontrol Inggris.

Di masa transisi inilah peran politik Yusof Ishak meroket. Ia makin tidak sreg bekerja di Utusan Melayu yang mulai dikuasai UMNO. Perbedaan visi masih menjadi isu krusial yang membuat hubungannya dengan UMNO merenggang. Yusof sangat percaya kepada multikulturalisme yang demokratis, yang agaknya tak selalu kompatibel dengan nasionalisme Melayu ala UMNO.

"Ayah selalu mengingatkan saya bahwa setiap orang harus diperlakukan sama. Apa pun warna kulitnya, seseorang harus dinilai berdasarkan kemampuan, tidak pernah pada warna kulit, ras atau agama,” kata Imran Yusof sebagaimana dikutip Straits Times.


Maka itu Yusof memilih untuk mundur perlahan dari Utusan Melayu—justru ketika media yang ia rintis itu sedang membesar. Yusof lantas menjual semua saham yang dimilikinya dan melepas semua jabatannya di Utusan Melayu pada 1959. Alasan lain pengunduran dirinya adalah karena penunjukannya sebagai pemimpin Komisi Layanan Publik Singapura pada Juli tahun itu.

Di akhir tahun kebintangannya kian terang setelah mendapat penunjukan resmi dari Inggris untuk mengisi jabatan Yang di-Pertuan Negara Singapura. Yusof menduduki jabatan yang setara kepala negara bagian itu menggantikan Sir William Goode. Ketika itu kabinet Perdana Menteri Lee Kuan Yew juga telah terbentuk.

“Bagi Yang di-Pertuan Negara, Encik Yusof bin Ishak sendiri, pengangkatan ini bukan menandai pencapaian ambisi pribadi, tetapi realisasi dari cita-cita kemajuan, peningkatan martabat manusia dan nasionalisme yang telah dengan tulus ia tuju untuk mencapai dalam kariernya yang panjang sebagai jurnalis Melayu,” demikian bunyi pernyataan resmi Kerajaan Inggris terhadap pengangkatan Yusof Ishak sebagaimana dikutip Straits Times (2/12/1959).

Ketika Singapura memisahkan diri dari Federasi Malaya dan merdeka pada 9 Agustus 1965, secara otomatis Yusof Ishak menjadi presiden pertama Republik Singapura. Ia terus mengemban jabatan itu hingga kematiannya.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight