Menuju konten utama

Wahid Institute: Pemikiran Gus Dur Perlu Dikembangkan

Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid  menilai, pemikiran Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang humanisme perlu terus dikembangkan di dalam masyarakat sebagai sebuah langkah untuk semakin memupuk perdamaian di Tanah Air.

Wahid Institute: Pemikiran Gus Dur Perlu Dikembangkan
Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid memberikan paparan saat seminar dan sosialisasi rekomendasi kebijakan mempromosikan kerukunan sosial keagamaan di Jakarta, Senin (28/11). ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo.

tirto.id - Di saat makin menguatnya intoleransi beragama di Indonesia, pemikiran Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang humanisme dinilai perlu terus dikembangkan sebagai sebuah langkah untuk semakin memupuk perdamaian di Tanah Air.

Hal itu disampaikan oleh Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid dalam siaran persnya di Jakarta, Minggu (8/1/2017). "Di tengah situasi kehidupan berbangsa yang terpecah-belah pandangan politik maka pikiran dan gagasan besar Gus Dur tentang humanisme perlu untuk terus di kembangkan dalam kehidupan bermasyarakat," ujarnya, seperti dikutip dari kantor berita Antara.

Menurut putri dari almarhum Gus Dur itu, kondisi bangsa saat ini terpecah-belah karena berbagai faktor, antara lain akibat SARA, menguatnya sikap intoleransi dalam beragama, kebhinekaan yang mulai terusik, NKRI yang terancam karena radikalisasi paham keagamaan, serta saling fitnah dan hujat karena perbedaan pandangan.

Yenny mengatakan dalam peringatan Haul Gus Dur di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Sabtu malam, ribuan jamaah hadir dari berbagai daerah, lintas agama dan suku. Ia menilai kehadiran ribuan jemaah dari berbagai daerah dalam Haul Gus Dur itu membuktikan bahwa masyarakat masih mencintai dan merindukan sosok Gus Dur yang konsisten selalu berpihak pada kaum lemah dan pembelaannya pada minoritas.

Yenny mengingatkan, bagi Gus Dur, apapun risikonya keutuhan NKRI yang telah susah payah di rebut oleh para pendahulu adalah harga mati. Hal ini dibuktikan oleh Gus Dur saat ia rela meninggalkan kursi Presiden pada 2001 meski pendukungnya rela mati untuk membelanya.

"Pemikiran kedamaian almarhum Gus Dur seperti yang di sampaikan Presiden Jokowi dalam Haul Gus Dur di Ciganjur, yakni Gus Dur selalu menjadi inspirasi bagi masyarakat dunia, bahwa Islam mengajak persaudaraan dan perdamaian, bukan untuk memecah belah persatuan umat," ujar Yenny.

Ia menekankan bahwa Gus Dur selalu mengajak umat pada Islam yang moderat, menghargai pluralisme dan selalu pembawa pesan kedamaian. Oleh karena itu dia mengatakan, pemikiran Gus Dur tentang kedamaian perlu dikembangkan ditengah situasi bangsa saat ini.

Baca juga artikel terkait SOSIAL BUDAYA atau tulisan lainnya dari Ign. L. Adhi Bhaskara

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara