Vivienne Westwood, Pembawa Semangat Punk ke Ranah Fesyen

Infografik Vivienne Westwood
Vivienne Westwood dan suaminya, perancang busana Andreas Kronthaler, mendapatkan sambutan setelah mereka siap memamerkan busana musim gugur/musim dingin 2018/2019 dalam pertunjukan Fashion Week Runway di Paris, Sabtu, 3 Maret 2018. Vianney Le Caer/Invision/AP
Oleh: Joan Aurelia - 21 Juli 2018
Dibaca Normal 2 menit
Malcolm McLaren, manajer band Sex Pistols, ialah orang yang mendorong Vivienne Westwood menjadi desainer busana.
tirto.id - Vivienne Westwood adalah satu-satunya desainer busana high fashion yang dijuluki Queen of Punk. Pada 1976, saat Sex Pistols merilis lagu "God Save The Queen", Vivienne mendesain kaus bergambar wajah ratu Elizabeth. Kaus tersebut tidak menyiratkan Elizabeth sebagai sosok terhormat. Vivienne menaruh kalimat ‘She aint no human being’ di samping sablonan gambar ratu. Kaus dijahit asal-asalan dan diberi aksen sobekan pada beberapa bagian. Sampai sekarang kaus ini jadi ikonik dan menunjukkan bahwa Vivienne ialah desainer berjiwa punk. Ini tentu paradoks, sebab punk adalah subkultur yang memperkenalkan gaya busana anti-fashion.

Kepada Vogue, Vivienne bilang bahwa punk adalah caranya untuk mengubah dunia. "Aku amat marah dengan apa yang terjadi di dunia ini. Aku tak tahan mendengar orang disiksa, dan ada perang. Aku benci generasi tua, yang tidak melakukan apa-apa. Punk adalah senjataku.” Ia lantas memanfaatkan busana sebagai cara perlawanan.

Sepanjang 1970-an Vivienne mendesain busana dan aksesori yang tidak lazim pada zamannya. Ia merancang kaus bergambar swastika yang dibubuhi tulisan Destroy. ”Ini salah satu karya saya yang paling kontroversial,” katanya. Wanita kelahiran Chesire, Inggris, ini juga menciptakan celana ketat dari karet dan bondage trousers, atau celana panjang dengan aksen tali. Ada pula saat busana kreasinya dihiasi dengan peniti-peniti dan studs.

Saat itu Vivienne juga mengeksplorasi material tartan. Pada masa 1970-an, material itu hanya digunakan pria Skotlandia untuk acara tertentu. Kesan eksklusif tartan hilang ketika Vivienne menjadikannya bahan celana dan coat yang bisa digunakan laki-laki atau perempuan dari segala daerah.


Busana dan aksesori karya Vivienne di dekade 1970-an dianggap sebagai ciri khas busana era keemasan punk di Inggris. Benda-benda tersebut dijual di toko yang ia bangun bersama Malcolm McLaren, mantan kekasihnya. Toko dibuka pada 1971 dengan nama Let it Rock. Dalam kurun waktu lima tahun, toko ini kerap berganti nama dan dekorasi tergantung inspirasi dan mood pemilik. Ketika mengenang James Deen, pasangan ini mengganti nama toko dengan Too Fast to Live, Too Young to Die. Setelah itu toko berganti nama menjadi Sex, Seditionaries, dan Worlds End.

Menjual baju di toko tidak cukup memuaskan hati Vivienne. Pada tahun 1981 ia menggelar peragaan busana pertama di Paris dengan tema Pirates. Tema dipilih karena mampu menyiratkan perilaku tidak bertanggungjawab bagai penyamun. Ia ternyata tertarik dengan sejarah. Busana dalam Pirates ialah modifikasi kostum abad ke-18.

Sejak saat itu, Vivienne rutin membuat koleksi busana. Pagelaran mode sekelas London Fashion Week jadi panggungnya. Pelanggan Vivienne meluas ke masyarakat kelas menengah ke atas yang gemar dengan desain eksperimental. Vivienne anti terhadap potongan desain yang rapi dan terstruktur. Ia gemar mendesain busana berpotongan longgar dengan lengan bervolume dan membuat pola busana asimetris. Busana-busananya akan tampak sangat sesuai bila dikenakan sosok seperti aktris Helena Bonham Carter.



Menjadi Aktivis Sosial

Vivienne lagi-lagi tidak merasa puas bila ia hanya rutin mendesain busana. Kecepatan siklus mode yang menuntut desainer profesional mengeluarkan empat koleksi dalam satu tahun membuatnya penat. Ia ingin melakukan sesuatu yang sesuai impiannya yakni membuat situasi jadi lebih baik.

Ia pun lebih sering terlibat dalam gerakan sosial. Momen peragaan busana dan acara mode adalah tempat untuk menyampaikan misinya. Vogue melaporkan bahwa Vivienne pernah menghadiri Met Gala sambil membawa poster Chelsea Manning—aktivis yang ditahan karena menyebarkan dokumen dari WikeLeaks—bertuliskan TRUTH.

Saat melansir koleksi musim semi 2015, ia menyematkan bros yang terkait dengan wacana pemisahan Skotlandia dari Inggris. Vivienne sempat bekerjasama dengan Liberty, komunitas perjuangan hak asasi manusia, lewat desain kaus. Saat peragaan busana musim semi tahun 2015, ia menyuruh model mengenakan kaus bertuliskan Climate guna menyadarkan publik tentang dampak perubahan iklim.

Sejak 2014 Vivienne memang menaruh kepedulian terhadap isu iklim. The Guardian menulis pernyataan yang menyebut bahwa ia tidak ingin mengekspansi usahanya demi menghindari dampak buruk produksi busana terhadap lingkungan hidup. “Saya percaya bila setiap orang hanya menggunakan sedikit barang, masalah perubahan iklim tidak akan terjadi,” katanya. Di kampanye itu, Vivienne juga memotivasi publik agar melindungi hutan.


Sebagai desainer, ia selalu berpesan agar orang bijak dalam mengonsumsi dan menjaga kondisi busana. Vivienne memberi solusi dengan mendesain busana unisex yang bisa dikenakan pria dan wanita. “Mungkin ini terdengar seperti lelucon. Tetapi bila Anda bisa bertukar baju dengan pasangan, Anda akan lebih menghemat biaya,” katanya.

Tahun lalu ia menghimbau publik untuk mempraktikkan konsep energi hijau. “Kita harus menyelamatkan masa depan,” katanya dalam tanyangan video. Awal tahun ini Vivienne melansir kampanye Don’t Get Killed. Dalam video kampanye, Vivienne berkata bahwa ia menciptakan kartu permainan. Ia meminta agar orang mengoleksi kartu tersebut, “karena kartu bisa membawa perdamaian.”

Kini ia lebih bergairah dalam kegiatan aktivisme. Desain koleksi busana dari labelnya dipercayakan pada Andreas Kronthaler, suaminya. Di mata Vivienne, Kronthaler ialah desainer brilian. Bulan lalu pasangan ini mengadakan pagelaran koleksi busana dalam tajuk Andreas Kronthaler for Vivienne Westwood. Koleksi tersebut ialah tribut bagi Vivienne.

Di usia senja tampaknya Vivienne ingin berhenti melakukan kegiatan yang membuat namanya dikenal walau itu hal yang sebenarnya tidak pernah ingin ia lakukan: merancang busana.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight