tirto.id - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) pada tahun ini menggunakan tagline “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan.” Hal ini sebagai upaya komitmen pemerintah dalam menghadirkan pelayanan optimal kepada para jemaah haji 2026, khususnya lansia, disabilitas, dan perempuan yang jumlahnya cukup dominan.
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, mengatakan, pemerintah akan memastikan para jemaah haji lansia, disabilitas, dan perempuan bisa beribadah dengan nyaman dan fasilitas yang sesaui dengan kebutuhan mereka.
“Tahun ini petugas haji perempuan kita tingkatkan [jumlahnya] sampai 33 persen, karena kita melihat angka tadi [jumlah jemaah haji reguler], 50 sekian persen adalah jemaah perempuan, maka petugas haji perempuan diperbanyak,” kata Gus Irfan saat menyampaikan arahan dalam acara “Bimbingan Manasik Nasional” di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Selain itu, kata Gus Irfan, pada musim haji tahun ini, petugas pembimbing ibadah perempuan juga ditambah jumlahnya. Sebab, kata Gus Irfan, kalau harus berkonsultasi terkait fiqih haji keperempuanan kepada pembimbing haji laki-laki, maka tentu kurang nyaman. Karena itu, pembimbing ibadah perempuan kita tambah.
“Itu kita lakukan sebagai komitmen Kementerian Haji dan Umrah dalam menjaga martabat jemaah,” kata Gus Irfan.
Manasik haji nasional ini dilaksanakan secara hybrid, diikuti oleh 2.200 jemaah secara luring dari Provinsi DKI Jakarta dan 201.120 jemaah secara daring melalui Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah di seluruh Indonesia. Pelaksanaan hybrid ini memungkinkan jangkauan layanan edukasi yang lebih luas dan merata.
Kegiatan manasik ini bertujuan memberikan pemahaman manasik haji yang komprehensif agar jemaah mampu beribadah secara mandiri dan sah, sekaligus menyiapkan mental dan fisik jemaah dalam menghadapi dinamika pelaksanaan ibadah haji di Arab Saudi. Perhatian khusus diberikan kepada jemaah lansia, penyandang disabilitas, perempuan, serta jemaah dengan komorbid, sesuai dengan demografi jemaah haji Indonesia saat ini.
Direktur Jenderal Direktur Bina Penyelenggaran Haji dan Umrah (Dirjen Bina PHU), Puji Raharjo, menegaskan, manasik haji nasional menjadi bagian penting dari transformasi layanan haji yang lebih berorientasi pada kenyamanan dan keselamatan jemaah.
“Ini adalah wujud nyata kehadiran pemerintah dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah sejak dari tanah air. Melalui manasik ini, jemaah tidak hanya memahami tata cara ibadah, tetapi juga siap secara mental, fisik, dan pengetahuan,” ujar Puji.
Puji menegaskan, konsep haji ramah lansia, disabilitas, dan perempuan merupakan respons atas kondisi riil jemaah haji Indonesia yang sebagian besar didominasi kelompok rentan. Dengan pendekatan ini, pemerintah berupaya memastikan jemaah dapat beribadah dengan aman, nyaman, dan bermartabat, tanpa mengurangi keabsahan ibadah.
Lebih lanjut, Puji menegaskan, selain penguatan materi manasik, manasik ini juga menekankan pentingnya istithaah kesehatan sebagai syarat utama keberangkatan haji.
“Jemaah dibekali pemahaman mengenai hak dan larangan selama berhaji, termasuk pemanfaatan rukhshah (keringanan) bagi jemaah lansia dan disabilitas sesuai ketentuan syariat,” kata dia.
Tak kalah penting, manasik haji nasional ini juga menanamkan kesadaran bahwa setiap jemaah haji Indonesia memiliki peran sebagai duta bangsa, yang membawa nama baik Indonesia melalui sikap, perilaku, dan kedisiplinan selama berada di Tanah Suci.
Melalui manasik haji nasional ini, pemerintah berharap terbangun kesadaran kolektif bahwa manasik bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi utama dalam mewujudkan pelayanan haji yang inklusif, humanis, dan berorientasi pada kebutuhan jemaah.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id





























