Menuju konten utama

Udara Jakarta Terburuk ke-3 Dunia, Apa Dampaknya pada Kesehatan?

Kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat dan jadi terburuk ke-3 di dunia. Ini data IQAir terbaru dan tips aman melindungi diri Anda.

Udara Jakarta Terburuk ke-3 Dunia, Apa Dampaknya pada Kesehatan?
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Selasa (6/6/2023). ANTARA FOTO/Fauzan/aww.

tirto.id - Kualitas udara di Jakarta pada Kamis pagi kembali memburuk hingga menduduki peringkat ketiga sebagai kota dengan udara terburuk di dunia. Berdasarkan data situs pemantau IQAir pukul 06.06 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) di ibu kota menyentuh angka 179 yang masuk dalam kategori tidak sehat.

Mengutip dari Antara, kualitas udara di Jakarta dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2.5 dan nilai konsentrasi 95,3 mikrogram per meter kubik.

Tingkat kualitas udara tersebut tidak sehat bagi kelompok sensitif. Kualitas udara dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif. Selain itu, bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

Lindungi Diri saat Kualitas Udara Buruk

Masyarakat, khususnya kelompok sensitif, diimbau untuk segera mengambil langkah preventif guna menghindari dampak buruk polusi bagi kesehatan. Bagaimana data lengkapnya dan apa saja yang harus Anda lakukan untuk melindungi diri? Berikut ulasan selengkapnya.

Masyarakat pun disarankan agar sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan. Apabila berada di luar ruangan, maka sebaiknya menggunakan masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.

Sementara itu, kualitas udara dengan kategori baik, yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika, dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

Kemudian, kategori sedang, yaitu kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan, tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

Lalu, kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299, artinya kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, kategori berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius terhadap populasi.

Udara Jakarta Lebih Buruk dari Dhaka Bangladesh

Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama, yaitu Lahore (Pakistan) dengan angka 235, urutan kedua Kinshasa (Kongo) dengan angka 203, urutan keempat Dhaka (Bangladesh) di angka 166 dan urutan kelima Kampala (Uganda) dengan angka 158.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan respons cepat untuk menanggulangi pencemaran udara di ibu kota saat musim kemarau, yang diprediksi terjadi pada awal Mei hingga Agustus mendatang.

Langkah cepat penanganan pencemaran udara saat kemarau itu meliputi peningkatan kualitas sistem pemantau kualitas udara dan uji emisi kendaraan bermotor.

Selain itu, Pemprov DKI juga memiliki Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang sedang dievaluasi dari berbagai aspek, mulai dari tren PM2.5, beban emisi per sektor hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Menurut Pemprov DKI, pengendalian pencemaran udara tidak dapat dilakukan oleh satu wilayah secara parsial sehingga diperlukan aksi bersama yang terintegrasi antar organisasi perangkat daerah serta kolaborasi lintas wilayah di sekitar Jakarta.

Baca juga artikel terkait INDEKS KUALITAS UDARA JAKARTA

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Editor: Siti Fatimah