tirto.id - Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menyampaikan bahwa ucapan duka dari Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri atas wafatnya Ali Khamenei disiarkan oleh Channel One Television Iran. Ucapan berdurasi kurang lebih lima menit itu dilengkapi dengan tambahan subtitle berbahasa Persia.
Melalui unggahan di akun Instagram @iraninindonesia pada 7 Juli 2026, Kedutaan Iran menyebut jika Megawati telah menyampaikan turut berduka cita atas meninggalnya Khamenei pada 28 Februari lalu.
“Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Yang Mulia Ibu Megawati Soekarnoputri, menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Ayatollah Seyed Ali Khamenei kepada Pemerintah Republik Islam Iran melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Pesan tersebut disiarkan oleh Chanel One Televisi Iran dengan subtitle bahasa Persia,” tulis Kedutaan Iran.
Iran diketahui baru bisa melaksanakan prosesi besar pemakaman Ali Khamenei setelah empat bulan ia meninggal. Hal ini dikarenakan kondisi politik dan keamanan Iran yang belum kondusif karena konflik dengan AS.
Khamenei akan dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, tepatnya di Kompleks Makam Imam Reza pada Kamis, 9 Juli 2026.
Isi Ucapan Duka Megawati untuk Khamenei yang Disiarkan di Televisi Iran
Ucapan belasungkawa Megawati Soekarnoputri atas wafatnya Ayatollah Seyed Ali Khamenei disampaikan dengan nuansa penghormatan yang mendalam, bukan hanya sebagai pernyataan duka dari seorang tokoh politik Indonesia, tetapi juga sebagai pesan persahabatan kepada rakyat Iran.
Dalam pesannya, Megawati memperkenalkan dirinya sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), sekaligus putri dari Soekarno atau Bung Karno, yang dikenal sebagai Bapak Bangsa dan Proklamator Kemerdekaan Indonesia.
Dalam pernyataannya, Megawati menggambarkan wafatnya Ayatollah Ali Khamenei sebagai kehilangan besar bagi bangsa Iran sekaligus peristiwa yang dirasakan oleh banyak pihak di dunia yang memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai keadilan, kedaulatan nasional, dan kemanusiaan.
Ia menempatkan sosok Ali Khamenei bukan semata-mata sebagai pemimpin politik atau pemimpin agama, melainkan sebagai figur yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Iran modern.
Megawati juga menyampaikan pandangan pribadinya mengenai keterkaitan pemikiran Ali Khamenei dengan semangat perjuangan Bung Karno. Menurutnya, Ali Khamenei sejak masa muda telah mengenal, membaca, dan mengagumi pidato serta gagasan Bung Karno.
Dalam perspektif yang disampaikan Megawati, terdapat kemiripan semangat antara perjuangan Bung Karno dalam membangun Indonesia merdeka dengan gagasan Ali Khamenei dalam memperjuangkan identitas dan kedaulatan Iran.
“Dalam diri beliau, saya melihat gema perjuangan yang pernah dirintis oleh ayahanda saya, Bung Karno. Yang Mulia Ali Khomenei sejak muda, beliau telah mengenal dan mengagumi serta membaca pidato dan pemikiran Bung Karno,” ucap Megawati.
Lebih lanjut, Megawati menyoroti bahwa perjalanan politik dan kebangsaan Iran di bawah pengaruh pemikiran Ali Khamenei dipandang sebagai upaya menggabungkan unsur agama, nasionalisme, dan keadilan sosial.
Mega juga menegaskan adanya kesamaan tema antara pemikiran Bung Karno dan Ali Khamenei, terutama mengenai cita-cita dunia yang bebas dari imperialisme dan kolonialisme.
“Tidak mengherankan jika beliau ikut merumuskan jalan bangsa Iran sebagai sebuah sintesis antara agama, kebangsaan dan keadilan sosial, yang juga mencita-citakan tata dunia yang bebas dari belenggu imperialisme dan kolonialisme,” lanjutnya.
Dalam lanjutan ucapan belasungkawanya, Megawati Soekarnoputri mengangkat kembali pengalaman pribadinya ketika melakukan kunjungan resmi ke Tehran pada tahun 2004, saat dirinya masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.
Ia menyampaikan bahwa ketika bertatap muka langsung dengan Ali Khamenei, ia merasakan adanya kharisma yang kuat sekaligus keteduhan dalam pribadi sang Supreme Leader.
Dalam penilaiannya, Megawati menggambarkan Ali Khamenei sebagai seorang ulama yang memiliki kelembutan dalam sikap, namun tetap kokoh dalam mempertahankan prinsip-prinsip yang diyakininya.
“Beliau adalah seorang ulama yang lembut namun teguh memegang prinsip, sekaligus seorang negarawan yang peka terhadap derita bangsanya,” urai Megawati.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































