Tsunami Lembata 1979: Penyebabnya Bukan Gempa, tapi Panas Bumi

Waiteba tahun 1978, foto karya Peter Apollonius Rohi yang sempat dimuat di Surabaya Post 23 Juli 1979. Peter A Rohi/Surabaya Post
Oleh: Tony Firman - 2 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pada 1979, Longsoran besar di komplek Gunung Iliwerung, NTT, menyebabkan tsunami setinggi tujuh sampai sembilan meter menerjang pesisir selatan Pulau Lembata.
tirto.id - Tahun 1979 adalah tahun tak terlupakan bagi warga Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya di pesisir selatan. Pada 18 Juni 1979, sekitar pukul 00.20 waktu setempat, gelombang tsunami tiba-tiba datang menghantam pesisir Teluk Waiteba.

Tsunami didahului dengan longsornya tanah dari atas lereng bukit dan menimbun empat desa. Mengutip pernyataan Gubernur NTT Aloysius Benedictus Mboi (Ben Mboi), International Herald Tribune pada 24 Juli 1979 menyebutkan Tsunami telah menewaskan 539 orang, sebagian terkubur akibat tertimbun material longsoran di empat desa. Menurut laporan penelitian geolog Raphael Paris dkk, jumlah korban berkisar 550 sampai 1.200 jiwa.

Salah satu catatan awal mengenai bencana tersebut pernah ditulis oleh Joedo D. Elifas berjudul “Laporan Hasil Peninjauan Bencana Alam di Selatan Pulau Lomblen, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur" (1979). Tsunami menghantam pesisir selatan Lembata sepanjang lebih kurang 50 km dari Teluk Labala di bagian barat hingga Teluk Waiteba ke timur. Elifas menemukan jejak sampah di ketinggian tujuh meter yang tersangkut di pohon lontar. Gelombang tinggi juga dilaporkan mencapai Lamalera.

Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416-2017 (PDF) yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan air masuk ke darat sejauh 400 sampai 500 meter dan menerjang bukit setinggi 10 meter.

Garis pesisir selatan Pulau Lembata berupa teluk dan semenanjung. Menurut Elifas, Tsunami Lembata muncul setelah ada gerakan massa tanah di antara kampung Atalojo dan Bauraja. Daerah longsor terletak di kawah tua kompleks Iliwerung. Dimensi massa longsoran adalah 3000m panjang x 300m lebar x 50m tebal dan sepertiganya jatuh ke laut. Longsoran juga menimbun empat desa di pesisir teluk Waiteba.


Sebenarnya, ada banyak pemukim di pesisir selatan Lembata yang terdampak tsunami dan tanah longsor awalnya tidak tinggal di daerah tersebut. Perpindahan mereka didorong oleh kebijakan pemerintah.

Sebagian berasal dari Desa Lerek, misalnya. Sebagaimana dicatat dalam laporan berjudul "Bencana Yang Terlupakan? Mengingat Kembali Bencana Larantuka dan Lembata 1979-2009" (2009, PDF), peneliti Manajemen Risiko Bencana Jonatan Lassa menyebut Lerek sebagai daerah yang terletak di bagian pedalaman tepat di belakang Gunung Adowajo dan Iliwerung. Pada 1960-an, pemerintah Orde Baru memindahkan warga Lerek ke Teluk Waiteba. Alasan pemerintah, warga akan lebih aman dari bahaya gunung api. Namun, alih-alih selamat, tsunami justru menerjang lebih cepat ketimbang letusan gunung api.

Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Tsunami Lembata 1979 atau Tsunami Lombren. Lombren adalah nama lain dari Lembata.


Kontroversi Penyebab Tsunami

Tsunami Lembata 1979 meninggalkan sejumlah pertanyaan. Kendati ada longsoran besar yang terjun ke lautan dan menimbulkan tsunami, penyebab longsoran sendiri masih memunculkan spekulasi.

Sistem peringatan dini gempa dan tsunami Indonesia saat itu memang belum ada. Namun, catatan Meteorologi dan Geofisika juga tidak menunjukkan aktivitas gempa sedikit pun yang berpusat di sekitar NTT saat longsor dan tsunami menerjang Lembata. Catatan United States Geological Survey (USGS) tentang gempa 1979 di seluruh dunia tidak memunculkan nama Lembata atau daerah sekitar NTT.


Laporan Raphael Paris dkk berjudul "Volcanic tsunami: a review of source mechanisms, past events and hazards in Southeast Asia (Indonesia, Philippines, Papua New Guinea)" (2013, PDF) menyatakan bahwa longsoran material dari dinding Gunung Iliwerung sebelah tenggara (flank collapse) ke lautan mendorong tsunami menerjang pesisir selatan Lembata dengan ketinggian tujuh sampai sembilan meter. Tsunami bahkan diperkirakan mencapai Pante Makasar di Timor Timur (kini Timor Leste). Laporan tersebut mengutip aktivitas vulkanik Gunung Hobal yang meletup-letup sejak 1973. Gunung Hobal sendiri terletak di bawah laut (submarine volcano).

Di semenanjung Atadei, bercokol deretan pegunungan api termasuk Adowajo, Iliwerung, hingga Gunung Hobal yang berada di air laut. Secara morfologis, sebagian struktur semenanjung Atadei yang berbukit dan bergunung memperlihatkan lereng yang curam hingga ke dasar laut.

Sebelah kiri dan kanan Semenanjung Atadei adalah Teluk Labala dan Waiteba. Situs informasi Gunung Hobal yang disediakan Badan Geologi menyebutkan puncak Gunung Hobal pernah tampak menyembul ke permukaan saat air surut sebelum meletus pada 1970-an. Namun sejak tsunami 1979, puncak Hobal tak terlihat lagi. Diduga karena ambrol dihantam gelombang tsunami.


Masalahnya, belum ada catatan erupsi Gunung Hobal di tahun 1979. Merujuk data Volcano Discovery, catatan terbaru saat itu tentang Gunung Hobal adalah erupsi pada 1973-74 dan 1976. Dua hari sebelum longsor juga tidak dilaporkan adanya aktivitas gunung berapi menurut tim Vulkanologi dari Bandung. Gempa bumi sebelum peristiwa tanah longsor memang terjadi pada 1977. Namun, kekuatannya kurang dari lima magnitudo.

Yudhicara dkk dalam penelitiannya berjudul "Geothermal System as the Cause of the 1979 Landslide Tsunami in Lembata Island, Indonesia" (2015, PDF) memberikan perspektif lain ketika mengurai penyebab Tsunami Lembata 1979. Mereka meninjau longsoran yang terjadi di sekitar komplek Gunung Api Iliwerung dengan menggunakan pendekatan studi geotermal.

Penelitian lapangan Yudhicara dkk pada 2013 menunjukkan titik sumber air panas di sekitar lokasi longsoran yang membuat tanah menjadi asam karena proses magmatisme di bawah. Ini juga merupakan alasan mengapa tanah rapuh, kendur, tidak terkonsolidasi, dan mudah berpindah.

Hasil analisis Mineralogi Difraksi Sinar-X (XRD) juga menunjukkan bahwa tanah asli terdiri dari mineral kristobalit, kuarsa, dan albite. Sedangkan material tanah longsor terdiri dari mineral lempung seperti kuarsa, saponit, chabazite, silikon oksida, dan coesite yang adalah mineral khas di lingkungan hidrotermal.

Berdasarkan studi lapangan tersebut, Yudhicara dkk menyimpulkan bahwa longsoran dipengaruhi oleh sistem panas bumi aktif di daerah tersebut. Bahkan, pada 2013 saat studi lapangan dilakukan, bekas alur longsoran masih terlihat gundul gersang dan kontras dengan daerah sekitarnya yang hijau lebat. Kandungan sulfat yang tinggi mencapai 3458,61 ppm menjadi alasan mengapa tak ada vegetasi yang tumbuh di material tanah longsor, meski peristiwa sudah puluhan tahun berlalu.

Beberapa faktor lain boleh jadi juga turut menyebabkan longsornya tanah yang menimbulkan tsunami, misalnya sudut kemiringan yang curam, goncangan gempa bumi, curah hujan yang berkepanjangan, dan letusan gunung berapi. Semua faktor itu ada di wilayah tersebut.

Baca juga artikel terkait TSUNAMI LEMBATA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight