Trump Sampaikan Pesan Ramadan ke Umat Muslim untuk Jalankan Ibadah

Oleh: Yuliana Ratnasari - 17 Mei 2018
Dibaca Normal 1 menit
“Konstitusi kami memastikan Muslim dapat merayakan Ramadan sesuai dengan perintah hati nurani dan tanpa hambatan oleh pemerintah,” kata Trump
tirto.id - Gedung Putih merilis sebuah pernyataan resmi Presiden AS Donald Trump menyambut bulan suci Ramadan dengan nada yang sangat berbeda. Dikatakan bahwa Ramadan "mengingatkan kita pada kekayaan Muslim yang menambah hamparan keagamaan dalam kehidupan Amerika,” dan menyebutnya sebagai “bulan yang diberkati.”

“Di Amerika Serikat, kita semua diberkati untuk hidup di bawah Konstitusi yang memupuk kebebasan beragama dan menghormati praktik keagamaan. Konstitusi kami memastikan umat Muslim dapat merayakan Ramadan sesuai dengan perintah hati nurani dan tanpa hambatan oleh pemerintah,” kata Trump menambahkan, dalam pernyataan Gedung Putih, seperti dilansir The Hill.

Trump juga menyampaikan bahwa nilai-nilai yang direfleksikan oleh mereka yang merayakan puasa Ramadan dapat “memperkuat komunitas kita, membantu yang membutuhkan, dan menjadi contoh yang baik untuk menjalani kehidupan suci.”

Hubungan antara sebagian besar muslim AS dan Trump semakin buruk, terlebih selama pencalonannya. Sebab, ia telah mengusulkan untuk melarang semua muslim dari AS sebagai tindakan pengamanan terhadap terorisme. Pada 2016, ia bahkan mulai memerintahkan untuk mengawasi masjid.

Tahun lalu, Trump juga melanggar tradisi dengan tidak mengadakan perayaan buka puasa Ramadan yang sebelumnnya telah dijalankan di Gedung Putih selama 20 tahun.

Namun, pada Ramadan 2018 ini, Trump dilaporkan siap bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri untuk menjadi tuan rumah untuk berbuka pada 6 Juni mendatang. Beberapa lusin orang diundang, dengan para peserta terutama adalah duta dari negara-negara dengan populasi Muslim yang besar dan beberapa pemimpin Muslim AS.

Mengutip laporan Washington Post, perubahan kebijakan Trump ini masih belum jelas alasannya. Namun, beberapa pengamat melihat bahwa cara Presiden terlibat dengan isu-isu Muslim tahun-tahun lalu berkaitan dengan Stephen K. Bannon yang saat itu masih menjadi ahli strategi di Gedung Putih.

Bannon telah lama mengkritik Islam dengan berbagai cara dan banyak yang menganggap politikus itu bermusuhan dengan Muslim. Seperti diketahui, Bannon telah meninggalkan Gedung Putih pada Agustus 2017.

Saya berpendapat ada rasa urgensi yang lebih akut karena sentimen anti-Muslim telah menjadi begitu mainstream. Ada perasaan bahwa acara semacam ini dibutuhkan lebih banyak lagi,” kata salah satu dari pengamat tersebut kepada Washington Post.


Baca juga artikel terkait KEBIJAKAN TRUMP atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Politik)


Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live