Tren Bunuh Diri di Kalangan Anak dan Remaja Jepang Meningkat

Oleh: Tony Firman - 9 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sebanyak 250 anak SD sampai SMA di Jepang memilih mengakhiri hidupnya sendiri dalam kurun waktu 2016 sampai 2017.
tirto.id - Laporan Kementerian Pendidikan Jepang baru-baru ini mengungkap sisi gelap kehidupan generasi penerus negeri sakura. Dalam kurun waktu 2016 sampai 2017, sebanyak 250 anak dan remaja yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri alias bunuh diri. Jumlahnya mengalami peningkatan sebanyak lima anak dari tahun sebelumnya.

Praktis jumlah ini menjadi yang tertinggi sejak 1986. Pada tahun itu tercatat 268 anak dan remaja bunuh diri.

Anak dan remaja yang bunuh diri ini tersebar dari tingkat Sekolah Dasar (SD) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Masing-masing enam dari tingkat SD, 84 dari SMP dan 160 dari SMA. Di Jepang, siswa SMA biasanya lulus sekolah di usia 18 tahun.

Dilansir dari NHK, alasan bunuh diri tersebut beragam. Sebagian besar (140 kasus) tak diketahui. Ada pula yang khawatir akan masa depan setelah lulus sekolah (33 kasus), masalah keluarga (31 kasus), perundungan (bullying) (10 kasus). Sisanya, ada yang memilih alasan lebih dari satu alias kombinasi dari beberapa kasus yang disebutkan tadi.

Jika melihat semua kelompok usia, terdapat 21.321 kasus bunuh diri di Jepang pada 2017. Puncak kematian akibat bunuh diri tertinggi sejauh ini tercatat pada 2003 dengan jumlah korban mencapai 34.424 jiwa, menurut data Badan Kepolisian Nasional.

Bunuh diri di kalangan anak-anak Jepang sebenarnya bukan hal baru. Namun, depresi dan gangguan mental yang dialami anak sebelum memutuskan bunuh diri masih belum menjadi topik yang bisa didiskusikan secara terbuka. Akibatnya, anak dan remaja yang tertekan sulit mendapatkan pertolongan.


Kepada New York Times, Vickie Skorji, direktur hotline krisis di TELL, sebuah layanan konseling di Tokyo menyatakan bahwa pengidap gangguan kejiwaan di Jepang masih mendapat stigma buruk. "Kemungkinan besar Anda akan dirisak serta tak mendapatkan layanan dan dukungan dari orangtua Anda."

Kultur Bunuh Diri?

Jepang sudah lama berjuang melawan kasus bunuh diri warganya. Kendati sudah menjadi isu nasional, bunuh diri tampaknya masih menjadi topik yang tabu untuk dibicarakan, bahkan sejak akhir 1990-an. Kondisi ini justru meningkatkan potensi bunuh diri pada orang-orang yang mengalami depresi berat dan gangguan kesehatan mental lainnya.

Pada Natal 2015, Matsuri Takahashi, seorang perempuan berusia 24 yang bekerja di sebuah perusahaan periklanan Dentsu memilih mengakhiri hidup. Menurut penyelidikan polisi, Matsuri terlalu sering lembur. Sejak 9 Oktober 2015, durasi lembur Matsuri mencapai 105 jam tiap bulannya. Jam kerja yang luar biasa panjang inilah yang diduga kuat membuat Takahashi tertekan dan akhirnya bunuh diri.

Catatan Kementerian Kesehatan Jepang menyebutkan bahwa jumlah kasus bunuh diri karena persoalan pekerjaan mencapai 2.159 kasus sepanjang 2015.


Bunuh diri juga dilakukan oleh orang-orang lanjut usia. Hidup sendiri di usia senja, ditinggal anak merantau, terbelit masalah keuangan, dan merasa tak lagi butuh pencapaian adalah beberapa faktor penyebab bunuh diri lansia.

"Isolasi adalah pendorong nomor wahid untuk depresi dan bunuh diri," ujar psikolog di Universitas Temple Tokyo Wataru Nishida kepada BBC. "Sekarang, kisah orang tua yang sekarat sendirian di apartemen mereka lebih sering dijumpai," katanya. "Mereka diabaikan. Anak-anak biasa mengurus orang tua mereka di masa tua, tapi kini tidak lagi."

Praktik bunuh diri tradisional Jepang kerap diungkit dalam pembicaraan seputar bunuh diri. Ada konsep "bunuh diri terhormat", misalnya, yang merujuk pada praktek samurai yang melakukan seppuku (bunuh diri dengan membedah perut sendiri), atau pilot Jepang yang menabrakkan pesawat-pesawat tempur mereka ke kapal musuh dalam Perang Dunia II (kamikaze).

Seppuku adalah metode bunuh diri yang menyakitkan karena dilakukan dengan cara menancapkan pedang pendek ke sisi kiri perut, lalu menariknya ke kanan dan memutarnya ke atas. Sang samurai akan dianggap makin terhormat jika prosedur itu dilanjutkan dengan cara yang lebih ekstrem: pedangnya ditusukkan di bawah tulang dada dan ditarik ke bawah melintasi potongan pertama, lalu ditembuskan ke atas menuju tenggorokan. Para samurai perempuan juga melakukan ritual bunuh diri yang disebut jigai. Mereka memotong leher sendiri dengan pedang pendek atau belati.

Selama perang yang terjadi di Jepang pada abad ke-12, seppuku (yang kadang disebut harakiri) kerap dilakukan oleh prajurit Jepang yang kalah dalam pertempuran. Encyclopedia Britannica menyebutkan bahwa mati kerap jadi pilihan ketimbang ditawan atau melayani musuh. Kadang mereka juga melakukan seppuku untuk menunjukkan kesetiaan kepada tuannya dengan ikut mati atau untuk menebus kegagalan dalam menjalankan tugas.


Masalah Sehari-hari

Ken Joseph bekerja di Japan Helpline, organisasi yang telah melakukan pendampingan terhadap orang-orang yang rentan bunuh diri selama 40 tahun. Kepada BBC, ia menuturkan bahwa orang tua yang mengalami kesulitan keuangan cenderung menganggap bunuh diri sebagai solusi masalah mereka.

Pasalnya, setelah bunuh bunuh diri, dana asuransi bisa cair sehingga bisa dimanfaatkan oleh anggota keluarga yang masih hidup.

Ada sebuah fenomena di kalangan muda Jepang dikenal sebagai Hikikomori. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mendefinisikannya sebagai keadaan di mana seseorang menolak untuk keluar rumah dan mengisolasi diri dari masyarakat dalam jangka waktu lebih dari enam bulan.

Pada 2010, data pemerintah Jepang menunjukkan bahwa sekitar 700.000 penduduknya hidup sebagai hikikomori dengan usia rata-rata 31 tahun. Dilansir dari BBC, fenomena serupa Hikikomori juga ditemukan di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Oman, Spanyol, Italia, Korea Selatan, dan Prancis.

Infografik Kasus Bunuh Diri di Jepang


Jepang bukan negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di Asia dan dunia. Data Statistik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2017 (PDF) mencatat Korea Selatan sebagai negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di Asia dengan rata-rata 26,9 kematian per 100.000 orang pada 2016, dibandingkan dengan 18,5 untuk Jepang dan 3,2 untuk Filipina. Sedangkan di tingkat dunia, peringkat kematian bunuh diri tertinggi diduduki oleh Lithuania dengan 31,9 per 100.000 orang, disusul Rusia (31), Guyana (29,2), Korea Selatan (26,9), dan Belarusia 26,2.

Pada 2017, pemerintah Jepang berencana menekan angka bunuh diri di negaranya sebanyak 10 persen dalam 10 tahun ke depan, salah satunya dengan mengurangi jumlah jam kerja ekstrem yang selama ini dianggap berperan meningkatkan angka bunuh diri.

Bagaimana dengan di Indonesia? Indonesia punya statistik 3,4 kematian akibat bunuh diri per 100.000 orang. Dibandingkan dengan Asia maupun dunia, Indonesia memang masih tergolong rendah. Namun, data WHO 2012 juga mencatat Indonesia sebagai satu-satunya negara ASEAN dengan korban bunuh diri perempuan tertinggi. Menurut laporan WHO, korban bunuh diri laki-laki sebesar 3,7 orang per 100.000 penduduk dan perempuan 4,9 orang per 100.000 penduduk.

Penyebabnya beragam, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, tekanan sosial, dan kesulitan ekonomi. Sementara bagi laki-laki, faktor utamanya adalah perasaan tak mampu berperan sebagai kepala keluarga yang ideal sehingga memicu depresi berkepanjangan.

Baca juga artikel terkait BUNUH DIRI atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf