The Power of Jastip

Reporter: Mawa Kresna - Rabu, 25 Oktober 2017 01:25 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Demi menekuni jasa titip, mereka keluar kerja kantoran. Keuntungan kotor bisa jutaan dalam sebulan.
tirto.id - “Bud, ambil karpetnya tiga,” kata Pipit kepada Budi yang mendorong troli penuh barang belanja.

“Tunggu di sini ya, aku ambil barang lain dulu,” kata Pipit.

Budi mengambil tiga gulung karpet sesudah Pipit pergi. Ia menunggu di sebelah rak karpet sembari menjaga dua troli yang pepak belanjaan.

Lima menit kemudian Pipit muncul dengan membawa rel tirai aluminium putih. “Ini masukin dulu,” katanya kepada Budi. Pipit segera berjalan seraya melihat daftar belanjaan. Budi mengikutinya.

Jadwal belanja Pipit di IKEA hari itu sedikitnya harus membawa 50 item barang. Masing-masing item tak hanya satu.

“Ada yang tiga, ada yang delapan, jadi belanja bisa banyak banget,” kata Pipit.

Rudini Saputra, suaminya, juga belanja di tempat yang sama dengan daftar barang berbeda. Setelah satu setengah jam berkeliling di lantai 1 dan 2, keduanya istirahat di sebuah kursi di dekat kasir. Total barang belanjaan ada enam troli besar.

“Paling ini habis sekitar 20 jutaan,” celetuk Rudini.

Kegiatan belanja ini tiap hari dilakoni suami-istri tersebut, tetapi bukan untuk mereka sendiri. Barang belanja itu titipan orang-orang dari pelosok Indonesia. Dari sana mereka mendapatkan imbalan. Budi bahkan bekerja untuk mereka menjalani jasa semacam itu.

Kegiatan yang dilakukan Pipit ini dikenal jasa titip atau disingkat jastip. Kini bisnis jastip naik daun. Banyak orang menawarkan jastip melalui media sosial, seperti di Facebook dan Instagram serta aplikasi pesan macam WhatsApp dan BlackBerry Messenger. Orang yang ingin belanja, tapi malas keluar rumah atau sibuk atau tak bisa menjangkau lokasi belanja lantaran jarak jauh, bisa menggunakan jasa ini.

Baca juga:

Bagaimana Jastip Muncul

Semula jastip muncul karena orang sulit mengakses suatu produk. Misalnya produk-produk IKEA, sebuah peritel perabotan rumah tangga dan perkantoran dari Swedia. Di Indonesia hanya ada satu gerai IKEA, yang berada di Alam Sutra, Tangerang. Orang-orang di luar Tangerang terkendala jarak jika harus belanja ke sana. Keterbatasan inilah yang melahirkan jastip.

Liza Apriyani, seorang ibu rumah tangga di Bengkulu, kesulitan membeli barang yang hanya dijual di Jakarta. Contoh sederhana adalah sendok bermotif unik. Jika ia harus pergi ke Jakarta cuma untuk membeli sendok, tentu biaya transportasi bisa berkali-kali lipat dari harga sendok.

Kalaupun tersedia di toko online, Liza masih ragu soal kualitas barang. Ia hanya bisa melihat foto yang dipajang, tanpa bisa berinteraksi dengan penjual untuk menanyakan detail, seperti warna dan jumlah.

“Pilihannya akhirnya pakai jastip. Kalau dihitung ongkos kirim dan jastip, jauh lebih murah daripada harus ke Jakarta untuk beli langsung. Kalaupun ada barangnya di sini, harganya biasanya dua kali lipat dari harga di Jakarta. Masih tetap lebih murah pakai jastip,” kata Liza.

Hitung-hitungan harga dan kemudahan itu pula yang akhirnya menyuburkan bisnis jastip.

Jauh sebelum bisnis jastip booming pada 2015, Meida Liya sudah menggeluti bisnis titip-menitip ini sejak 2009. Saat itu ia bekerja di Zara, sebuah produsen pakaian merek internasional yang hanya dijual di Jakarta. Sebagai kasir, ia kerap menerima telepon dari pelanggan yang menanyakan detail pakaian yang akan dipesan lewat situs resmi Zara.

“Karena sering menerima telepon, akhirnya mereka titip lewat saya. Minta tolong dibelikan baju, uangnya ditransfer ke rekening saya,” kata Liya.

Lama-lama Liya mendapat banyak pesanan untuk membelikan pakaian bermerek populer lain, seperti Manggo dan Zogo. Liya diberi upah untuk setiap kali belanja.

“Itu orang-orang kaya di Semarang, di Magelang, sekali belanja bisa puluhan. Beli satu tas saja harganya bisa 20 jutaan. Ada juga yang telepon, bilang mau ada pesta kebun, minta tolong dibelikan outfit warna hitam, dari bawahan sampai atasan,” ujarnya.

Selama tiga tahun, Liya mendapatkan penghasilan tambahan dari kegiatan itu. Pada 2012 ia memutuskan keluar dari Zara dan sepenuhnya menekuni jasa titip. “Tapi waktu itu hanya pakaian, belum barang lain,” imbuhnya.

Cerita sama dari mulut Pipit. Bermula dari sering mendapatkan titipan membeli barang, ia berani meninggalkan pekerjaannya di BNI. Semula hanya lewat toko online dengan memajang khusus pakaian anak, ia kerap mendapat pesanan untuk membeli barang di Jakarta. Lama-lama pesanan titipan itu jauh lebih banyak dari pembelian di toko online. Ia memutuskan banting setir dan membuka jastip.

Dalam perjalanannya, jastip dimudahkan lewat kehadiran media sosial, terutama Instagram. Baik Liya maupun Pipit memanfaatkan Instagram untuk meraih calon pembeli, serta mengandalkan grup WhatsApp mereka untuk menyebarkan penawaran jastip. (Per 24 Oktober, masing-masing akun Instagram mereka, @meidha_liya dan @dev_ikea, memiliki 75 ribu pengikut.)

Infografik HL Jastip

Cara Kerja Jastip

Untuk menggunakan jastip sangat sederhana. Anda cukup menghubungi penyedia jastip, memberi daftar belanjaan dan detailnya, sehingga penyedia jastip tinggal pergi membelikan buat Anda. Interaksi secara live dilakukan melalui pesan singkat atau bahkan video call. Beberapa penyedia jastip menyiarkan langsung proses belanja di akun Instagram agar pembeli bisa menentukan barang.

Namun, sebelum hal itu dilakukan, Anda harus menyepakati dulu fee dan perkiraan ongkos kirim. Anda harus mengirim sejumlah uang kepada penyedia jastip sesuai kesepakatan. Beberapa penyedia jastip meminta pembayaran langsung lunas, tetapi ada pula memakai sistem panjar. Untuk yang terakhir, jika barang sudah dibeli dan siap dikirim, pembeli akan segera mentransfer pembayaran ke penyedia jastip.

Besaran komisi jastip beragam, dari Rp5 ribu hingga Rp100 ribu per barang. Imbalan ini ditentukan oleh penyedia jastip.

Pipit, misalnya, menerapkan fee jastip Rp5 ribu untuk barang-barang dengan harga di bawah Rp20 ribu. Khusus barang pecah-belah dan keramik, fee jastip jauh lebih mahal karena risiko pengiriman.

“Salah satu yang penting itu proses pengiriman. Kalau untuk barang pecah-belah itu butuh packing yang bagus, jangan sampai barang pecah di jalan. Kita packing dengan bubble plastik, biayanya memang lebih mahal, karena itu fee lebih mahal,” ujar Pipit.

Peluang Menggiurkan

Percaya atau tidak, bisnis jastip cukup membuat Rudini, suami Pipit, meninggalkan pekerjaannya di salah satu perusahaan rokok di Indonesia. Rudini yang banyak belajar tentang strategi pemasaran di kantor lamanya melihat bisnis jastip sebagai peluang besar dan sandaran utama pendapatan keluarga.

Hitungannya sederhana. Jika dalam sekali belanja ada seratus barang, dengan rata-rata fee jastip Rp10 ribu, Rudini sudah mendapatkan untung Rp1 juta dalam satu kali belanja. Hitungan ini tidaklah mengada-ada. Rudini dan Pipit sudah membuktikannya. Dalam sebulan, perputaran uang untuk belanja barang titipan yang mereka lakukan mencapai Rp500 juta.

Pada akhir pekan kemarin, misalnya, pasangan itu menghabiskan Rp21 juta untuk belanja di IKEA. Struk belanjaan itu diunggah Pipit di akun Instagramnya.

“Saya itu enggak pernah hitung-hitungan berapa dapatnya dalam sebulan. Tapi setiap kali belanja itu dua puluhan jutalah. Paling sepi pernah cuma delapan juta, hitung aja sebulan bisa berapa,” ujar Pipit.

Perputaran uang besar ini pula yang membuat Rudini dan Pipit berani mempekerjakan dua karyawan untuk membantu belanja dan mengemas barang untuk dikirim ke pelanggan. Mereka juga menggandeng beberapa ekspedisi pengiriman barang untuk bekerja sama. Mereka tak perlu repot mengantar barang; pihak ekspedisi akan menjemput barang ke rumah.

Hitungan fee jastip ini bukan satu-satunya pendapatan utama mereka. Keuntungan lain diperoleh mereka dari toko tempat belanja. Misalnya di Informa, salah satu peritel furnitur besar di Indonesia, pasangan ini selalu mendapatkan voucer belanja dan cash back lantaran belanja dalam jumlah besar.

“Voucer belanja ini menarik, bisa dapat lima belas juta sebulan. Ini yang besar. Ada cash back juga. Kalau untuk fee jastip itu sudah habis untuk karyawan, transportasi, dan packing,” ujar Rudini.

Hal serupa diungkapkan Liya, yang bermain jastip dari IKEA dan Informa. Meski enggan membagi rahasia keuntungannya dalam sebulan, tetapi ia sudah bisa membeli mobil dalam enam bulan pertama menekuni jastip.

“Ya lumayanlah,” kata Liya. “Beli mobil itu juga sekalian untuk belanja, biar lebih mudah.”

Baca juga artikel terkait JASTIP atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam

Artikel Lanjutan
DarkLight