Menuju konten utama

Tepuk Sakinah: Upaya Pengingat Prinsip Berkeluarga

Popularitas "Tepuk Sakinah" sebagai bagian dari kampanye keluarga sakinah diharapkan selaras dengan program lintas lembaga, terutama persoalan ekonomi.

Tepuk Sakinah: Upaya Pengingat Prinsip Berkeluarga
Tepuk Sakinah. tiktok/kua_menteng
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Berpasangan, berpasangan, berpasangan (tepuk 3 kali),

Janji kokoh, janji kokoh, janji kokoh (tepuk 3 kali)

Saling cinta, saling hormat, saling jaga, saling ridho

Musyawarah untuk sakinah

Lirik lagu “Tepuk Sakinah” itu kini viral di media sosial, baik berupa repost unggahan maupun parodi dari lagu tersebut. Lagu yang dikenalkan oleh salah satu akun KUA (Kantor Urusan Agama) ini direspons beragam oleh warga.

Dalam rekaman yang tersebar luas di media sosial, tampak pembimbing calon pengantin memandu yel-yel dan gerakan Tepuk Sakinah. Muatan liriknya seputar lima pilar keluarga sakinah yang mencakup Zawaj (berpasangan), Mitsaqan Ghalizan (janji kokoh), Mu'asyarah Bil Ma'ruf (saling cinta, hormat, menjaga, dan berbuat baik), Musyawarah, serta Taradhin (saling ridha).

Oleh pihak KUA, “Tepuk Sakinah” ini menjadi salah satu materi ajar, bagian dari bimbingan perkawinan sebagai bekal bagi para calon pengantin. Gerakan dan yel-yel "Tepuk Sakinah" digadang-gadang Kementerian Agama menjadi strategi untuk melekatkan pilar keluarga sakinah kepada calon pengantin.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menuturkan bahwa program bimbingan perkawinan didesain sebagai pembekalan bagi calon pengantin demi siap lahir batin membangun rumah tangga.

“Melalui Tepuk Sakinah, pilar keluarga sakinah lebih mudah diingat dan suasana pembekalan menjadi lebih hidup,” ujar Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad di Jakarta, Kamis (25/9/2025).

Kata Abu, gerakan tepuk tangan "Tepuk Sakinah" jangan cuma dimaknai seremonial. Sebab, pesan yang ingin dilekatkan adalah tiap pasangan sebisa mungkin dapat bermusyawarah dengan sehat dan menemukan solusi bersama kala terjadi konflik. Yel-yel dan gerakan "Tepuk Sakinah" yang riang gembira dilakoni calon pengantin itu diharapkan untuk memudahkan pasangan mengingat esensinya.

Abu mengatakan keluarga sakinah mesti mengacu prinsip keadilan, keseimbangan, dan kesalingan.

Fondasi keluarga sakinah bukan perkara perkawinan yang sah dan tercatat semata, tapi dilandasi prinsip nondiskriminasi dan nonkekerasan. Juga dirawat dengan kasih sayang dan moderasi beragama.

Singkatnya, Abu bilang "Tepuk Sakinah" adalah gerakan untuk menjaga keharmonisan keluarga. Dari gerakan yang mungkin dianggap sepele, tapi ditujukan menjaga keutuhan rumah tangga.

“Program Bimwin ini bertujuan menyiapkan catin membentuk keluarga yang kuat, menurunkan angka perceraian, dan meningkatkan kualitas rumah tangga,” katanya.

"Tepuk Sakinah" dan Masalah Perceraian di Indonesia

Tak lama viral video tepuk Keluarga Sakinah dilakoni di setiap KUA, muncul video dari netizen sebagai respons. Ada yang mengkritik terang-terangan, dan ada pula yang memparodikan secara sarkas gerakan dan yel-yel.

Seperti unggahan video parodi akun Instagram @listy_adiva, yang ceritanya ada seorang istri menanyakan suaminya begini: “Pah, beras abis, gas abis, minyak abis”. Sekiranya membelikan, sang suami justru mengajak istrinya berdendang Tepuk Sakinah.

Muatan video lain netizen pun senada konteksnya. Mereka seakan hendak bilang bahwa masalah keluarga, utamanya ekonomi tidak bisa selesai dengan mengayunkan kaki dan tangan sembari bernyanyi "Tepuk Sakinah".

Pemikiran serupa juga disampaikan pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah. Dia bilang gerakan dan yel-yel "Tepuk Sakinah" memang tidak sekonyong-konyong bisa memecahkan masalah rumah tangga.

“Urusan menikah ini kan urusan privat. Apakah gebrakan Tepuk Sakinah ini bisa cegah orang bercerai. Faktor perceraian itu kan banyak. Yang paling terbesar adalah faktor ekonomi, yang juga dipicu karena ada pasangan yang menganggur,” kata dia kepada Tirto, Jumat (26/9/2025).

Dia berpendapat terobosan Kemenag semacam ini untuk menyasar kalangan generasi Z yang bakal menikah. Tapi, kata dia, jangan sampai strategi penyampaian termasuk muatan kontennya justru tidak bisa diterima calon pengantin.

Prinsip atau pilar keluarga sakinah mesti dikaitkan pula dengan realitas hari ini. Trubus berkata para calon pengantin perlu diajak memahami realitas kehidupan rumah tangga yang bakal berbeda jauh dari segala aspek.

“Masyarakat hari ini logis. Karena cinta zaman sekarang tidak dimaknai sebagai kasih sayang seutuhnya. Karena zaman sekarang cinta itu bermuatan materialistik,” kata dia.

“Yang terpenting pastikan ada konten atau muatan tepuk sakinah mengajarkan bagaimana bisa terus bersama saat keadaan susah maupun senang,” imbuhnya.

Ilustrasi Keretakan Rumah Tangga

Ilustrasi keretakkan rumah tangga karena faktor financial. Getty Images/iStockphoto

Sehingga, Trubus menekankan kampanye keluarga sakinah yang dibangun Kemenag mesti selaras dengan aksi konkret menjawab masalah perceraian. Dalam hal ekonomi, misalnya, gerakan "Tepuk Sakinah" bisa menjadi pintu masuk lintas sinergi dalam menguraikan masalah pengangguran.

“Kalau mau efektif, harus minta kebijakan ke kementerian lain, misal Kemnaker agar bisa memastikan akses lapangan kerja bagi pasangan yang mau nikah,” kata dia.

Bicara soal ekonomi menjadi faktor perceraian, data BPS menunjukkan tingkat perceraian karena ekonomi menempati posisi kedua secara konsisten sejak 2021 sampai 2024. Dalam tiga tahun tersebut, angka perceraian selalu di atas 100.000 kasus. Adapun pemicu faktor perceraian terbanyak adalah perselisihan dan pertengkaran terus-menerus.

"Tepuk tangan itu menjadi metode menyampaikan materi, selain ceramah, role play atau diskusi berpasangan. Sebagai bagian dari metode pendidikan, harus mencerminkan isi materinya. Saya pikir, tepuk tangan ini sudah berhasil memperkenalkan prinsip keluarga sakinah kepada publik."

Komisioner Komnas Perempuan 2020-2025, Siti Aminah

Komisioner Komnas Perempuan periode 2020-2025, Siti Aminah, meyakini viralnya tepuk tangan sakinah sebagai awal baik untuk kinerja Kemenag menekan upaya perceraian. Baginya, ada sejumlah makna di balik yel-yel dan gerakan tepuk sakinah yang berdurasi satu menit itu.

“Tepuk tangan itu menjadi metode menyampaikan materi, selain ceramah, role play atau diskusi berpasangan. Sebagai bagian dari metode pendidikan, harus mencerminkan isi materinya. Saya pikir, tepuk tangan ini sudah berhasil memperkenalkan prinsip keluarga sakinah kepada publik,” kata dia kepada Tirto, Jumat (26/9).

Namun, katanya, upaya untuk meredam angka perceraian melalui cara seni dan budaya mesti dilakukan evaluasi berkala. Dari setiap evaluasi mesti memetakan apa saja yang tren pemicu perceraian. Dari sana, mesti dirancang konten atau muatan yang bisa mendukung calon pasangan bertahan di situasi sulit.

“Sebagai bagian dari bimbingan perkawinan, saya mendukung upaya upaya untuk mempersiapkan setiap orang memasuki lembaga perkawinan agar perkawinan yang dibangun adalah perkawinan yang mengedepankan kesalingan,” katanya.

“Jadi jangan dilihat tepuk tangannya saja, tapi keseluruhan program bimbingan perkawinan,” imbuhnya.

Baca juga artikel terkait KUA atau tulisan lainnya dari Rohman Wibowo

tirto.id - News Plus
Reporter: Rohman Wibowo
Penulis: Rohman Wibowo
Editor: Rina Nurjanah