Menuju konten utama

Telur Sumbang Inflasi, NFA Genjot Koneksi Pangan Antar Daerah

Bapanas akan fokus tiga komoditas pangan yang terpantau berkontribusi signifikan terhadap inflasi yaitu daging ayam, telur ayam, dan bawang putih.

Telur Sumbang Inflasi, NFA Genjot Koneksi Pangan Antar Daerah
Peternak mengumpulkan telur ayam di peternakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Ternak Non Ruminansia Dinas Peternakan Provinsi Aceh, di kabupaten Aceh Besar, Aceh, Rabu (24/5/2023). ANTARA FOTO/Ampelsa/nym.

tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Juni 2023 secara bulanan mencapai 0,14 persen. Komoditas penyumbang inflasi terbesar yaitu daging ayam ras dengan andil sebesar 0,06 persen.

Lalu, tarif angkutan udara dengan andil sebesar 0,04 persen dan telur ayam ras dengan andil sebesar 0,02 persen. Terkait hal itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) akan fokus tiga komoditas pangan yang terpantau berkontribusi signifikan terhadap inflasi, yaitu daging ayam, telur ayam, dan bawang putih.

"Saat ini langkah pengendalian inflasi kita fokuskan kepada tiga komoditas tersebut (daging ayam, telur dan bawang putih). Secara bertahap komoditas lain juga terus kita pantau,” kata Kepala Bapanas Arief Prasetyo dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (4/7/2023).

Arief menuturkan, untuk mempertahankan tren pengendalian inflasi pangan bulan Juli 2023 pihaknya pun terus melakukan upaya. Salah satunya, memperkuat konektivitas pangan antar daerah. Hal tersebut guna menjaga stabilisasi stok dan harga pangan, serta meningkatkan keterjangkauan pangan masyarakat.

“Untuk memastikan tercapainya sasaran tersebut, pemerintah terus melakukan sejumlah intervensi, diantaranya melalui Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) antar daerah, Penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk stabilisasi harga dan bantuan pangan, serta operasi pasar atau Gerakan Pangan Murah (GPM),” bebernya.

Terkait pelaksanaan FDP, Arief menuturkan pelaksanaan akan terus dilakukan dengan melakukan integrasi data neraca pangan daerah dengan pusat. Integrasi tersebut akan memudahkan pemantauan kondisi pangan dan memetakan mana daerah surplus dan defisit, sehingga diharapkan mitigasi untuk pemenuhan pangan, khususnya di daerah defisit dapat dilakukan lebih cepat.

Arief merinci pada periode Maret sampai 2 Juli 2023 NFA telah melaksanakan FDP sebanyak 1.215,7 ton. Terdiri dari pendistribusian jagung sebanyak 1.113 ton serta komoditas lainnya seperti beras, gula, minyak goreng, telur ayam, bawang merah, dan terigu.

Sementara itu, pengendalian inflasi juga akan terus dilakukan dengan mengoptimalkan stok CPP, melalui penyaluran CPP untuk program beras SPHP Bulog yang dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) di seluruh Indonesia dan melalui bantuan pangan (beras, daging ayam, dan telur ayam) selama 3 bulan.

“Bantuan pangan beras berfungsi sebagai bantalan, sehingga keberadaannya sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama 21,3 juta Kelompok Penerima Manfaat (KPM) yang masuk dalam program bantuan ini. Penyaluran untuk 3 bulan pertama telah hampir rampung, saat ini kita sedang berupaya untuk mengajukan penambahan periode penyaluran bantuan selama 3 bulan ke depan,” ungkapnya.

“Upaya pemberian bantuan pangan ini sejalan dengan arahan Bapak Presiden dalam sidang Kabinet Paripurna hari ini, yang menekankan akan tetap melakukan subsidi, bantuan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat,” tambahnya.

Arief menuturkan, pihaknya saat ini akan terus mendorong dinas yang membawahi urusan pangan untuk melaksanakan kegiatan operasi pasar atau Gerakan Pangan Murah (GPM) di provinsi atau Kabupaten/Kota masing-masing.

"Kita akan dorong GPM terus dilakukan. Pelaksanaannya bisa dilakukan secara general (seluruh komoditas pangan) atau spesifik dengan memprioritaskan komoditas yang harganya sedang tinggi," imbuhnya.

"Seperti minggu lalu kita lakukan GPM khusus daging ayam ras di lebih dari 3.900 titik bersama Pemda, BUMD, privat sector, dan asosiasi untuk menjaga stabilitas harga daging ayam nasional,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengklaim inflasi Juni yang bertepatan dengan momen Iduladha 2023 tetap terkendali. Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 3,52 persen (yoy), telah kembali dalam rentang target sasaran tahun 2023 yakni 3 plus minus 1 persen.

Sementara secara bulanan, terjadi inflasi sebesar 0,14 persen (mtm), lebih tinggi dibanding inflasi bulan sebelumnya (Mei 2023) yang sebesar 0,09 persen (mtm), namun lebih rendah dibandingkan inflasi bulan yang sama tahun sebelumnya (Juni 2022) yang sebesar 0,61 persen (mtm).

Secara historis, kata Airlangga pada momen Iduladha umumnya didorong oleh kenaikan harga pangan. Inflasi harga pangan bergejolak (volatile food/VF) tercatat sebesar 0,44 persen(mtm), yang disumbang oleh kenaikan harga komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih.

Baca juga artikel terkait INFLASI 2023 atau tulisan lainnya dari Hanif Reyhan Ghifari

tirto.id - Bisnis
Reporter: Hanif Reyhan Ghifari
Penulis: Hanif Reyhan Ghifari
Editor: Intan Umbari Prihatin