tirto.id - Rangkaian bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia belakangan ini kembali mengingatkan bahwa keadaan darurat bisa datang tanpa banyak waktu untuk bersiap.
Erupsi Gunung Anak Krakatau, misalnya, sempat mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah, sementara kejadian gempa, cuaca ekstrem, dan bencana lainnya masih dilaporkan di berbagai daerah.
Dalam situasi seperti ini, kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengetahui jalur evakuasi atau nomor darurat. Salah satu persiapan sederhana yang bisa dilakukan di rumah adalah menyiapkan tas siaga bencana, yakni tas berisi kebutuhan penting yang mudah dibawa ketika harus meninggalkan rumah dalam keadaan darurat.
Lantas, apa saja yang perlu dimasukkan ke dalam tas siaga bencana dan bagaimana cara menyiapkannya agar benar-benar berguna saat dibutuhkan?
Isi Tas Siaga Bencana, Apa Saja?

Tas siaga bencana berguna untuk meminimalisir dampak bencana. Kita perlu mengetahui apa saja yang perlu dipersiapkan serta cara menyiapkan tas bencana. Demikian, kita dapat bertahan hidup selama menunggu evakuasi.
Isi Tas Siaga Bencana, Apa Saja? Isi tas siaga bencana perlu komprehensif, praktis, serta mempertimbangkan portabilitas. Berikut daftar berdasarkan Manual Praktis Denk Vooruit dari Belanda:
Air Minum dalam Kemasan
Simpan air minum tiga liter per orang untuk tiga hari. Air sangat penting karena tubuh manusia umumnya hanya dapat bertahan hidup tanpa asupan air selama 2 hingga 4 hari.Kita tidak mengetahui kondisi apa yang menimpa kita saat siaga dalam bencana. Dalam kondisi ekstrem seperti suhu panas, batas ini bisa berkurang menjadi 1-2 hari, sementara dalam kondisi dingin bisa bertahan lebih lama (5-7 hari).
Makanan Tahan Lama
Pilihlah makanan yang memiliki masa simpan panjang serta fleksibel dibawa kemanapun. Spesifikasi tersebut bisa ditemukan pada makanan kaleng, produk kacang-kacangan, dan buah kering. Kita perlu mempertimbangkan asupan dalam makanan kita, misalnya memilih makanan yang padat kalori.
Ilustrasi tas siaga bencana. FOTO/iStockphoto
Alat Komunikasi
Ketika bencana datang, kita perlu mengupayakan untuk tetap mendapatkan informasi. Selain membawa ponsel, kita perlu mengantisipasi cadangan energi seperti membawa power bank.
Namun, kita perlu mengantisipasi jika tidak ada jaringan selama siaga bencana. Radio mini atau walkie talkie bisa menjadi alternatif untuk tetap berada dalam jaringan informasi.
Senter
Senter memang terdengar sepele. Namun, kita perlu mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi saat bencana. Sumber cahaya sangat penting ketika listrik tidak berjalan ketika bencana. Senter dapat menerangi medan gelap serta membantu penglihatan penyintas.
Kotak P3K
Kotak P3K setidaknya berisi obat-obatan, cairan pembersih luka, salep antiseptik, dan plester. Jika kita atau orang terdekat kita menderita penyakit tertentu, kita perlu memasukkan obatnya ke dalam tas siaga bencana.
Selimut
Pilihlah selimut yang sudah cukup membuatmu hangat. Selimut dapat membantu kita menjaga hangat tubuh dari suhu ekstrem. Selain itu, jaket juga bisa menjadi alternatif untuk menjaga tubuh kita tetap stabil.
Peluit
Peluit dapat menjadi simbol komunikasi dalam keadaan darurat. Ketika dalam kondisi yang membuatmu tidak mampu bergerak atau bahkan berbicara, membunyikan peluit bisa menjadi kode SOS bagi penyintas sekitar. Mengalungkan peluit dapat mengantisipasi masalah komunikasi jika kita tersesat.
Uang Tunai
Uang tunai berguna ketika kita hendak membeli sesuatu dalam keadaan tersesat. Kita tidak bisa selalu memanfaatkan metode cashless.
Perkakas & Kunci Cadangan
Kita perlu mengantisipasi urusan teknis jika menjadi penyintas. Perkakas dan kunci cadangan berguna untuk membantu memperbaiki barang-barang yang ada di emergency kit ataupun lingkungan sekitar.Disinfektan
Selain P3K, gel desinfektan dan hand sanitizer sangat penting. Kita tetap membutuhkan sanitasi guna mencegah infeksi. Ketika siaga bencana, kita perlu menghemat persediaan air. Gel desinfektan dan hand sanitizer berperan menjadi cairan pembersih pengganti air.Kartu Identitas dan Dokumen Berharga
Kartu identitas dan dokumen berharga perlu dibawa karena bertahan hidup bukan berarti sepenuhnya meninggalkan kehidupan sehari-hari. Kita perlu mengantisipasi kejadian yang memungkinkan kita tidak dapat kembali ke rumah. Selain itu, kartu identitas dan dokumen berharga penting untuk identifikasi ketika evakuasi datang.
Cara Menyiapkan Tas Siaga Bencana

Menyiapkan tas siaga bencana bukan sembarang menjejalkan barang. Kita perlu mengetahui portabilitas dan kesiapannya supaya mampu bertahan dalam keadaan darurat.
Memilih tas yang tepat akan membantu tas siaga bencana lebih efektif. Pilihlah tas berbahan kuat dan tahan air. Hindari tas troli atau koper yang tidak praktis dan fleksibel. Tas punggung dan semacamnya direkomendasikan karena portabilitasnya,
Kelola persediaan makanan, minuman, dan obat-obatan dengan baik. Prioritaskan ransum yang memiliki masa simpan panjang dan fleksibel. Selain itu, tetap perhatikan tanggal kadaluarsa tiap produk,
Kemas barang dengan prioritas di tas siaga bencana serta simpan tas siaga bencana di lokasi strategis,
Tetap menyiapkan kebutuhan pribadi. Kebutuhan berdasarkan referensi individu tetap penting karena kapabilitas tiap individu berbeda-beda. Misalnya menyiapkan pembalut untuk perempuan, popok untuk bayi, dan lainnya,
Tas siaga bencana tidak hanya berupa tumpukan barang, tetapi juga kesepakatan sosial. Diskusi dengan orang terdekat merupakan bagian krusial dari kesiapsiagaan yang sering terabaikan.
Tas siaga bencana bukan sekadar formalitas ketika menghadapi bencana. Namun, sebagai upaya bertahan hidup di tengah kondisi lingkungan yang kian tidak dapat diprediksi. Tas siaga bencana diharapkan mampu memastikan kita bertahan hidup secara mandiri selama minimal 72 jam pertama setelah bencana.
Penulis: Daffa Liebert
Editor: Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id







































