Menuju konten utama

Synchronize Festival 2025, 10 Tahun Merayakan Musik Indonesia

Tahun ini, Synchronize Festival kembali digelar di Gambir Expo Kemayoran pada 3–5 Oktober 2025 dengan mengusung tema besar “Saling Silang”.

Synchronize Festival 2025, 10 Tahun Merayakan Musik Indonesia
Konferensi Pers Synchronize Festival 2025. Foto/ Synchronize Festival.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Satu dekade sudah Synchronize Festival hadir sebagai ruang perayaan musik Indonesia lintas generasi, lintas genre, dan lintas energi. Sejak digelar pertama kali, festival ini berkembang menjadi lebih dari sekadar panggung hiburan: ia menjelma menjadi titik temu ratusan ribu penikmat musik, ribuan musisi, puluhan ribu pekerja kreatif, serta jaringan media dan sponsor yang bersama-sama membangun ekosistem musik yang sehat dan berdaya.

Dalam perjalanannya, lebih dari 700.000 penonton telah merasakan atmosfer festival, 5.000 musisi tampil, dan 30.000 pekerja gotong-royong di balik layar. Semua ini menegaskan satu hal: musik Indonesia pantas menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Tahun ini, Synchronize Festival kembali digelar di Gambir Expo Kemayoran pada 3–5 Oktober 2025 dengan mengusung tema besar “Saling Silang”. Terinspirasi dari simbol angka romawi X (sepuluh), tema ini dimaknai sebagai ruang perjumpaan lintas zaman, genre, dan gagasan.

Semangat itu diwujudkan lewat kolaborasi istimewa bersama ruangrupa, kolektif seni kontemporer asal Jakarta yang tahun ini juga genap berusia 25 tahun, bersamaan dengan deMajors, label rekaman independen yang menjadi ibu kandung Synchronize. Kolaborasi ini akan menghadirkan pameran seni di Hall D2 JIEXPO, di mana musik dan seni rupa melebur menjadi kosmos baru.

Lebih dari 20 kolektif seni ikut serta, mulai dari Taring Padi (Yogyakarta), Jatiwangi Art Factory (Majalengka), Forum Sudut Pandang (Palu), Komunitas KAHE (Maumere), hingga Indonesia Art Movement (Jayapura). Semua hadir menunjukkan bahwa semangat “saling silang” bukan jargon, tapi praktik nyata lintas medium.

“Dalam tubuh Synchronize, ‘Saling Silang’ bukan jargon, melainkan praktik yang hidup,” ujar David Karto, Director Synchronize Festival.

Wajah Musik Indonesia: Dari Nostalgia hingga Eksperimen

Seperti tradisi setiap tahunnya, kurasi lineup Synchronize Fest tidak tunduk pada algoritma atau tren sesaat. Ratusan penampil dipilih untuk merepresentasikan keragaman musik Indonesia—dari pop mainstream, dangdut, rock cadas, hingga eksperimental.

Nama-nama seperti Hindia, JKT48, Silampukau, Jamrud, Shaggydog, Padi Reborn, Polka Wars feat. Alahad, Anisa Bahar X Juwita Bahar, hingga Whisnu Santika X Dipha Barus akan tampil bergantian. Ada pula kolaborasi unik semacam Idgitaf Ngamen Sore-Sore atau Avhath & Kuntari yang memberi warna berbeda dalam lineup.

Tak ketinggalan, tiga panggung signature kembali hadir:

  • OLENG UPUK – dikurasi LaMunai Records, menampilkan musik eksperimental, dub, hingga elektronik. Tahun ini hadir Cul De Sac Collective, Dubyouth, Kasimyn, Maft Sai (Thailand), Prontaxan, dan lainnya.

  • PANGGUNG GETARRR – hasil kurasi Kobra Musik, yang dikenal mengangkat musik akar rumput dan dangdut alternatif. Di sini tampil Asep Balon, Orkes Pensil Alis, Bujang Orgen Lampung, Syarikat Idola Remaja, hingga Orkes Nunung Cs.

  • GIGS STAGE – digarap Extreme Moshpit, media musik cadas yang konsisten mengangkat skena bawah tanah. Penonton bisa menyaksikan Final Attack, Negatifa, MTAD, Rounder, Iron Voltage, hingga Peach. Penampilan ini juga akan disiarkan langsung lewat kanal YouTube Extreme Moshpit.

Synchronize selalu menghadirkan program spesial yang sulit diulang, dan tahun ini deretan penampilan eksklusif patut diantisipasi.

  • Centil Era – reuni nama-nama besar pop 2000-an seperti Astrid, Aura Kasih, Shanty, Duo Maia, hingga T2. Musik diiringi Oomleo Berkaraoke.

  • Riffmeister: The Legacy of Ricky Siahaan – tribut untuk gitaris Seringai, menampilkan Amerta, Burgerkill, Komunal, Stepforward, dengan host Arian13, Soleh Solihun, Jill Van Diest, dan lainnya.

  • Ambon Jazz Rock – persembahan Barry Likumahuwa yang menghidupkan kembali genre khas dari Maluku.

  • Stadium All-Star – Bobby Suryadi, Jacky, dan Zaldy Garcia menghadirkan nuansa klub malam legendaris dengan set 150 menit, terpanjang dalam sejarah Synchronize.

  • Guruh Gipsy – proyek legendaris yang dirilis pada 1977 akan dihidupkan kembali oleh Guruh Sukarno Putra, Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan musisi lintas generasi.
“Guruh Gipsy itu album tonggak musik populer Indonesia—progressive rock yang relevan sekaligus bernarasi keindonesiaan,” jelas David Tarigan, A&R Synchronize Fest.

Baca juga artikel terkait SYNCHRONIZE FEST atau tulisan lainnya dari Nuran Wibisono

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nuran Wibisono