Suntik Lagi Lazada, Alibaba Siap Bertarung di Luar Kandang

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 3 Juli 2017
Dibaca Normal 2 menit
Setelah membeli Lazada seharga $1 miliar pada tahun lalu, Alibaba berencana menyuntikkan dana tambahan $1 miliar. Apa target Alibaba?
tirto.id - Alibaba makin mengukuhkan cengkeraman bisnisnya di Asia Tenggara. Setelah 12 April tahun lalu, Alibaba resmi mengakuisisi 67 persen saham Lazada senilai $1 miliar, Alibaba Group Holding Ltd berencana kembali menggelontorkan $1 miliar. Suntikan modal ini akan meningkatkan kepemilikan saham perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma ini di Lazada menjadi 83 persen.

"Pasar e-commerce di wilayah ini masih tergolong belum tergali, dan kami melihat pertumbuhan yang sangat positif di depan kami," ungkap Chief Executive Officer Alibaba Daniel Zhang dalam sebuah pernyataan resmi.

"Kami akan terus menempatkan sumber daya kami untuk bekerja di Asia Tenggara melalui Lazada untuk menangkap peluang pertumbuhan ini," imbuhnya dikutip dari Bloomberg.

Lazada adalah jangkar Alibaba dalam meraup pasar di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Pada sebuah survei W & S Market Research 2014 lalu, Lazada adalah pemimpin pasar e-commerce di Indonesia. Kontribusi Lazada Indonesia disebut-sebut paling dominan terhadap penjualan Lazada Group SA selain di Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Techinasia menulis kontribusi Indonesia terhadap penjualan Lazada di Asia Tenggara lebih dari 30 persen,

Langkah ini sekaligus upaya mewujudkan cita-cita Jack Ma menjadikan Alibaba perusahaan global. Tahun lalu, kepada Fortune, Alibaba menyatakan targetnya untuk mengembangkan bisnis di luar Cina. Saat itu, penjualan Alibaba di luar Cina hanya 5 persen. Pada 2026 targetnya bisa mencapai 40 persen.

Bagi Lazada, tambahan investasi Alibaba tentu akan menambah kekuatan mereka. Sejak berdiri, Lazada kerap mendapat suntikan dana dari beragam investor. Pada September 2012, Lazada mendapat kucuran dana dari JP Morgan dengan nilai yang dirahasiakan. Berselang dua bulan, e-commerce itu kembali mendapat suntikan senilai $40 juta dari perusahaan ritel asal Swedia, Kinnevik. Sebulan kemudian, Lazada memperoleh dana investor lagi sebesar $26 juta dari Summit Partners—perusahaan ekuitas swasta di Jerman.

Pada 2013, Tengelman, sebuah modal ventura di Jerman menyuntikkan dana ke Lazada senilai $20 juta. Sampai 2014, kucuran dana investor terus mengalir ke Lazada, bahkan Temasek—modal ventura pemerintah Singapura—ikut menyuntikkan dana sebesar $250 juta.

Meskipun mendapat banyak kucuran dana, setiap tahun Lazada masih terus “membakar uang”. Pada 2014, Rocket Internet mengumumkan laporan tahunan dari perusahaan-perusahaan mereka. Dari laporan tahunan itu, terlihat bahwa Lazada mencatatkan kerugian operasional hingga $152,5 juta atau sekitar Rp2 triliun. Walaupun merugi, performa perusahaan terus tumbuh. Total transaksi di Lazada pada 2015 tercatat lebih dari $1 miliar, tumbuh tiga kali lipat dari transaksi di tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang pesat ini tentu jadi peluang dan modal Lazada di masa depan.



infografik masa depan alibaba

Lazada, Indonesia, dan Dunia


Alibaba digadang-gadang akan menjadi kompetitor kuat Amazon di pasar global. Di sisi lain, secara gamblang Jack Ma tak melihat Amazon sebagai kompetitor. “Tugas kami bukan menjadi seperti Amazon, tetapi membuat setiap perusahaan yang menjual barangnya di Alibaba menjadi seperti Amazon,” kata Jack Ma dikutip dari Fortune.

Namun, bisa jadi itu hanya retorika semata. Pada kenyataannya, masuknya Alibaba di pasar Asia Tenggara untuk pasar e-commerce kategori business-to-consumer (B2C) melalui Lazada, jadi jalan terang untuk menguasai dunia. Dengan kata lain untuk jangka panjang tak menutup peluang bisa menyalip Amazon.

Dari sisi pendapatan total, Amazon memang masih mengalahkan Alibaba. Pendapatan Amazon pada 2015 mencapai 107 miliar dolar di seluruh dunia. Sementara pendapatan Alibaba Grup hanya mencapai 101,143 juta yuan atau sekitar 12,23 miliar dolar. Untuk menggenjot pendapatan apalagi menyalip Amazon, tentu Alibaba tak cukup jadi raja di Cina saja, butuh pasar baru seperti Asia Tenggara.

Asia Tenggara bagaimanapun bakal menjadi kunci pertarungan para pemain e-commerce global. Tahun lalu, Frost and Sullivan memperkirakan bisnis B2C di Asia Tenggara akan tumbuh dari $11 miliar di 2015 menjadi $25 miliar di 2020 atau rata-rata tumbuh 17 persen per tahun. Pasar e-commerce Asia Tenggara tak terpisahkan dari Asia Pasifik yang merupakan kawasan dengan pertumbuhan B2C tercepat dan kue e-commerce yang besar, ditaksir hampir menguasai 50 persen pangsa pasar dunia pada 2021.

Seksinya pasar Asia Tenggara, tentu juga jadi bidikan Amazon untuk masuk ke pasar dengan 600 juta jiwa ini. Namun, beberapa waktu lalu kabar masuknya Amazon ke Singapura sebagai pintu masuk awal operasional lokal mereka di Asia Tenggara, akhirnya ditunda dari triwulan pertama 2017 menjadi akhir tahun. Rencananya ini tentu makin meramaikan persaingan e-commerce di Asia Tenggara terutama Indonesia yang sudah dimasuki Alibaba dan JD.com dari Cina. Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terpadat keempat di dunia, dianggap sebagai pasar e-commerce yang paling menjanjikan di Asia Tenggara.

Langkah Alibaba bertarung di luar kandang untuk merajai e-commerce dunia atau menyalip Amazon tentu terbuka lebar. Salah satu caranya dengan menggelontorkan dana lewat tambahan investasi khususnya Lazada yang mendapat julukan "Amazon-nya Asia Tenggara. Memperkuat Lazada sebelum Amazon datang jadi pilihan Alibaba bertarung di luar kandang.

Baca juga artikel terkait ALIBABA atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Suhendra