Masa Depan Alibaba di Indonesia

- 20 April 2016
Dibaca Normal 3 menit
Raja e-commerce Cina, Alibaba mengakuisisi Lazada. Transaksi ini hanya sebagian dari aliran gelombang besar modal ke pelaku startup e-commerce di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Wall Street Journal menyebut, pembelian Lazada merupakan transaksi terbesar Alibaba di luar Cina, dengan penguasaan saham Lazada sebesar 67 persen.
tirto.id - Jagad bisnis e-commerce Indonesia makin semarak dengan masuknya Alibaba. Penguasa e-commerce Cina, Alibaba Group Holding itu masuk ke Indonesia dengan membeli saham Lazada Group SA. Nilainya cukup fantastis hingga 1 miliar dolar atau sekitar Rp13 triliun. Setelah transaksi ini, Alibaba menjadi pemegang saham pengendali Lazada Group SA yang membawahi wilayah Asia Tenggara.

Bukan kali ini saja pasar e-commerce Indonesia dimasuki investor asing. Sebelumnya sudah ada Grup OLX yang membeli Tokobagus. Kemudian ada Tokopedia, yang juga mendapatkan sejumlah kucuran dana dari investor asing. Ini belum termasuk investor lokal yang menggebu masuk ke bisnis e-commerce seperti Matahari Mall ataupun Bukalapak.

Dengan jumlah penduduk yang besar dan kelas menengahnya yang tumbuh pesat, Indonesia memang menjadi bidikan empuk untuk pasar e-commerce. Jutaan dolar dana asing masuk untuk menggarap pasar e-commerce Indonesia. Sayangnya, pemerintah tergagap menghadapi perkembangan e-commerce ini. Padahal, pemerintah sangat dibutuhkan agar sektor ini bisa terus berkembang, yang pada akhirnya memberikan pemasukan besar pada negara.

Gelombang Modal

Medio April 2016, Alibaba menghiasi media massa Indonesia dan juga dunia dengan berita pembelian saham Lazada. Wall Street Journal menyebut, pembelian Lazada merupakan transaksi terbesar Alibaba di luar Cina, dengan penguasaan saham Lazada sebesar 67 persen. Investasi Alibaba mencapai 1 miliar dolar. Rinciannya, 500 juta dolar untuk modal Lazada melalui penerbitan saham baru, dan sebagian lagi untuk mengakuisisi saham para pemegang saham lama. Tesco Plc salah satu pemegang Lazada melepas sebagian saham dengan nilai 129 juta dolar, AB Kinnevik mendapatkan 57 juta dolar, dan Rocket Internet meraih 137 juta dolar untuk 9,1 persen sahamnya.

"Dengan berinvestasi di Lazada, Alibaba mendapatkan akses untuk basis pasar yang besar dan terus tumbuh di luar Cina. Melalui tim manajemen yang solid, Alibaba akan mendapatkan pertumbuhan di salah satu kawasan yang paling menjanjikan di bisnis e-commerce global," kata Presiden Alibaba Michael Evans dikutip dari CNBC, Selasa (19/4/2016)

Lazada saat ini merupakan salah satu pemimpin pasar e-commerce di Indonesia. Dalam Popular Brand Index Result (PBI) yang dirilis W & S Market Research pada 2014, Lazada menempati posisi teratas sebagai e-commerce yang paling diingat konsumen. Pangsa pasar Lazada sekitar 23,7 persen dari hasil survei tersebut. Selain ada di Indonesia, Lazada beroperasi di Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Lazada umumnya menjadi pemimpin pasar di enam negara tersebut.

Kontribusi Lazada Indonesia disebut-sebut paling dominan terhadap penjualan Lazada Group SA. Techinasia menulis kontribusi Indonesia terhadap penjualan Lazada di Asia Tenggara lebih dari 30 persen.

Beberapa media yang menyoroti transaksi fantastis ini, Reuters misalnya menulis nilai Lazada saat ini sekitar 1,5 miliar dolar. Artinya, dengan mengeluarkan 1 miliar dolar, Alibaba sudah cukup untuk memborong 67 saham Lazada. Bila menghitung nilai Lazada sebesar 1,5 miliar dolar dan kontribusi Indonesia sekitar 30 persen, maka "harga" Lazada Indonesia sekitar 450 juta dolar atau setara Rp 5,8 triliun (1USD=Rp 13.000).

Nilai Lazada di Indonesia tersebut cukup beralasan, bila melihat perkembangan Indonesia bagi bisnis Lazada dibandingkan negara di kawasan. Berdasarkan ICD Research Institute, perkembangan pasar e-commerce Indonesia naik 42 persen untuk periode dari 2012 ke 2015. Angka ini jauh lebih tinggi dari pertumbuhan bisnis e-commerce di negara-negara tempat Lazada membuka lapaknya. Malaysia misalnya hanya tumbuh 14 persen, Thailand 22 persen, dan Filipina 28 persen.

Jauh sebelum Alibaba membeli Lazada, ada Grup Naspers melalui OLX, mengakuisisi 65 persen saham Tokobagus pada November 2012. Grup OLX merupakan perusahaan yang sudah hadir di 106 negara. Tahun 2010, Naspers mulai masuk sebagai investor strategis di OLX, dengan transaksi yang disebut-sebut mencapai 20 – 40 juta dolar. Daily Social menyebut, sebelum masuknya Naspers, OLX telah mendapat pendanaan sebesar 28,5 juta dolar dari beberapa investor yaitu Bessamer Venture Partners, Founders Fund, DN Capital, General Catalyst Partners, dan Nexus Ventures.

Ada pula Tokopedia yang mendapatkan suntikan modal dari para investornya. Media Techinasia menulis, startup yang lahir 2009 lalu ini akan meraih dana segar 147 juta dolar. CEO Tokopedia William Tanuwijaya sendiri belum mau mengkonfirmasi nilai transaksinya.

Suntikan modal untuk Tokopedia ini jauh lebih besar dari yang terjadi 2 tahun lalu. Ketika itu, Tokopedia mendapat kucuran investasi sebesar 100 juta dolar dari Sequoia Capital dan SoftBank Internet and Media Inc. Totalnya, dalam waktu 2 tahun Tokopedia mendapat dana segar hingga 247 juta dolar.



Polemik Pajak

Investasi besar-besaran untuk Tokobagus, Tokopedia hingga Lazada merupakan sebuah penanda kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia. Mereka yang menanamkan uang, pasti melihat ada potensi di masa depan di Indonesia. Jika menilik perkembangan beberapa tahun terakhir, optimisme itu memang ada. Media startupbisnis.com menulis nilai penjualan e-commerce segmen B to C di Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai 4,89 miliar dolar, atau naik dari tahun lalu yang hanya 3,56 miliar dolar.

Sementara lembaga konsultan internasional, Accenture memperkirakan pasar e-commerce Indonesia akan tumbuh pesat dari hanya 1,3 miliar dolar pada 2015 menjadi 7,9 miliar dolar pada 2020.

Pemerintah melihat potensi besar tersebut. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) pun mencoba membuat peta jalan untuk mengawal perkembangan e-commerce Indonesia. Sayangnya, peta jalan yang sudah diluncurkan sejak Februari 2016 itu belum bisa digunakan karena belum ada titik temu dengan aturan perpajakan.

Kementerian Keuangan menilai, pajak yang dikenakan kepada UKM sebesar satu persen, bisa diterapkan untuk bisnis startup yang omzet usahanya di bawah Rp5 miliar per tahun. Pengenaan pajak e-commerce salah satunya mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Sementara pelaku UKM minta adanya masa tenggang untuk pengenaan pajak tersebut.

Hingga kini, belum ada titik temu untuk masalah perpajakan e-commerce. Peta Jalan yang akan menjadi panduan e-commerce pun belum bisa dijalankan. Di saat yang sama, industri ini terus tumbuh pesat sehingga menarik modal-modal asing. Untuk sementara, Alibaba dan investor asing lainnya harus berjalan tanpa peta panduan dari pemerintah.

Baca juga artikel terkait ALIBABA atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Suhendra
Penulis: