tirto.id - Defisit APBN per Februari 2020 tercatat berada di kisaran Rp62,8 triliun. Nilai itu lebih lebar dari realisasi Februari 2019 yang masih di kisaran Rp54 triliun.
Dengan posisi defisit ini, pemerintah telah merealisasikan 20,4 persen dari total batas defisit yang ditargetkan selama 2020 di angka Rp307,2 triliun. Dari batas defisit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), posisi saat ini adalah 0,37 persen sementara target APBN dibatasi di angka 1,76 persen dari PDB.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan capaian defisit ini terjadi lantaran penerimaan negara pada Februari 2020 mengalami kontraksi di minus 0,5 persen, anjlok dari capaian tahun 2019 yang masih tumbuh 8,5 persen. Realisasi Februari 2020 adalah Rp216,6 triliun atau setara 9,7 persen dari APBN.
Sementara itu, belanja negara tetap tumbuh di angka 2,8 persen melambat dari capaian Februari 2019 yang masih tumbuh 9,2 persen. Realisasinya adalah Rp279,4 triliun atau 11 persen dari target APBN.
“Pertumbuhan pendatan di bulan Februari minus 0,5 persen yoy, masih lebih baik dibanding Januari 2020 minus 4,6 persen yoy,” tulis Sri Mulyani dalam bahan paparannya yang ditampilkan secara live di akun Youtube Kemenkeu, Rabu (18/3/2020).
Sri Mulyani menyebutkan sejumlah penurunan pendapatan ini disumbang oleh anjloknya pos penerimaan pajak yang minus 5 persen dengan realisasi Rp178 triliun padahal Februari 2019 masih tumbuh 4,7 persen.
Lalu penerimaan bea cukai juga tumbuh 51,5 persen melambat dari capaian Februari 2019 di kisaran 120,8 persen yoy. Realisasinya hanya Rp25 triliun.
Sementara itu penerimaan negara bukan Pajak (PNBP) juga anjlok dengan kontraksi minus 4 persen secara yoy padahal sempat tumbuh di Februari 2019 2,1 persen yoy.
Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Askolani mengatakan tren pergerakan defisit ini bisa dan kemungkinan besar melebar ke kisaran 2,5 persen.
“Outlook defisit yang disampaikan bisa ke sekitar 2,5 persen dan tentunya akan kami monitor dalam effort kita serta stimulus yang ktia dorong lagi menanggapi dampak dari Covid-19,” ucap Askolani dalam siaran live Kemenkeu.
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Hendra Friana