Menuju konten utama
Edusains

Spons Cuci Piring, Sarang Bakteri Nyaris Setara Tinja

Selama ini banyak yang menganggap spons cuci piring sebagai pembersih ampuh, asalkan terendam sabun berhari-hari. Padahal, fakta ilmiah bilang sebaliknya.

Spons Cuci Piring, Sarang Bakteri Nyaris Setara Tinja
Ilustrasi spons cuci piring. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Malam usai perayaan atau syukuran, biasanya dapur bakal berantakan. Tumpukan piring, mangkuk, gelas, serta wajan berkerak rendang dan kuah opor yang mengental, memenuhi wastafel dapur. Lalu, diambillah spons cuci piring. Sabut hijaunya yang kasar untuk mengikis kerak membandel, sedangkan bantalan kuning berpori lembut untuk menghasilkan busa.

Dengan sedikit deterjen beraroma jeruk nipis dan aliran air wastafel, spons meluruhkan lemak, menghilangkan noda, hingga piring kembali berkilau. Gunung perabot kotor berganti rak pengering yang rapi dan bersih.

Namun, spons yang basah dan lembap ternyata bisa menjadi inkubator penyakit. Seratnya yang penuh sisa organik menjadi rumah bagi jamur, ragi, dan bakteri. Spora jamur tumbuh subur, yang sangat berbahaya jika masuk ke tubuh.

***

Mei 2026, publik Brasil diguncang skandal besar. Badan Pengawasan Kesehatan Nasional Brasil (Anvisa) menghentikan produksi dan menarik paksa ratusan lot produk pembersih bermerek Ypê dari rak-rak supermarket. Bukan hanya sabun cuci piring, tapi juga deterjen pakaian dan cairan disinfektan lantai.

Inspeksi mendadak sebulan sebelumnya menemukan 76 pelanggaran serius di pabrik, mulai dari pengawasan mikrobiologi yang lemah, penyimpanan bahan baku sembarangan, hingga rusaknya sistem penyaringan air.

Terdapat temuan bakteri berbahaya Pseudomonas aeruginosa di lebih dari seratus lot produk yang sudah beredar. Anvisa memperingatkan, meski risiko kecil bagi orang sehat risikonya kecil, bagi bayi, lansia, pasien kanker, penderita HIV, dan penerima transplantasi organ, bakteri tersebut bisa memicu infeksi paru-paru, keracunan darah, hingga kerusakan saluran kemih.

“Terkadang bakteri ini terdapat di ketiak dan area genital orang sehat,” tulis Asosiasi Medis São Paulo dalam laporannya.

Wadah Patogen Terkotor di Rumah

Ironis ketika produk yang diklaim berguna untuk membunuh kuman justru menjadi sarang patogen.

Akan tetapi, ada benda yang jauh lebih kotor dan dekat dengan meja makan kita, yakni spons dapur. Penelitian Lingchong You dan kolega (2022) dari Universitas Duke menunjukkan, struktur berpori spons lebih ideal menumbuhkan komunitas mikroba dibanding cawan petri laboratorium.

Berbeda dari cawan petri di laboratorium yang membuat semua bakteri bercampur di ruang terbuka, spons dapur punya banyak pori dan rongga kecil, bagai rumah susun bagi mikroba.

Terlihat dari mikroskop, banyak bakteri hidup bergerombol dan saling berbagi nutrisi di dalam spons. Ada juga yang tinggal di celah-celah kecil untuk menghindari persaingan dengan bakteri lain.

Kondisi itu membuat lebih banyak jenis bakteri bisa hidup bersama. Karena itulah spons mirip dengan habitat alami seperti tanah, yang penuh celah perlindungan sehingga beragam mikroba dapat bertahan hidup berdampingan.

Ilustrasi spons cuci piring

Ilustrasi spons cuci piring. FOTO/iStockphoto

Ekosistem bakteri di spons dapur terus berkembang dalam lingkungan yang lembap dan hangat. Setiap kali piring digosok, serpihan kandungan makanan, seperti protein, karbohidrat, hingga lemak, tersangkut di serat spons. Itulah yang menjadi sumber nutrisi bagi mikroba.

Dalam kondisi seperti itu, bakteri Gram-negatif, seperti Pseudomonas aeruginosa, mudah berkembang biak. Ia memiliki lapisan membran tambahan layaknya baju zirah yang membuatnya lebih tahan terhadap banyak disinfektan dan antibiotik. Beberapa tekanan bahkan diketahui mampu memanfaatkan senyawa deterjen tertentu sebagai sumber energi.

Menukil dari Journal of Environmental Biology (2014), molekul seperti Sodium Dodecyl Sulfate (SDS), yang seharusnya memecah lemak, justru didegradasi oleh enzim khusus yang diproduksi oleh bakteri Pseudomonas aeruginosa. Hasil riset menunjukkan, koloni Pseudomonas bisa mengurai hingga 96 persen konsentrasi deterjen sintetik dalam dua hari, lalu mempercepat perkembangbiakan.

Artinya, ketika kita menuangkan sabun ke spons dengan harapan membunuh kuman, bagi Pseudomonas, itu adalah jamuan tambahan. Spons pun berubah menjadi kerajaan mikroba yang tumbuh subur di balik rutinitas dapur sehari-hari.

Jejak Mikroba dan Ancaman Tersembunyi di Balik Busa

Skala kehidupan bakteri di dalam spons dapur telah terungkap lewat riset mikrobiologi modern. Pada Juli 2017, Dr. Markus Egert dan tim dari Furtwangen University mengumpulkan 14 spons bekas dari rumah tangga biasa, lalu mengekstraksi DNA dan memetakan komunitas mikroba di dalamnya.

Hasilnya, terdapat sebanyak 362 jenis bakteri di dalam spons tersebut, dengan kepadatan mencapai sekitar 50 miliar sel per sentimeter kubik spons. Dalam potongan spons kecil seukuran dadu, jumlah mikroba di dalamnya bisa berkali-kali lipat lebih banyak daripada populasi manusia di bumi.

Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa spons dapur merupakan salah satu benda paling kaya mikroba di rumah. Bahkan, dari segi kepadatan bakteri, konsentrasinya dapat mendekati yang ditemukan pada sampel tinja manusia.

Setahun sebelumnya, ada juga penelitian yang memetakan demografi bakteri dalam spons. Studi terbitan International Journal of Food Science (2016) itu menemukan, genus Pseudomonas mendominasi koloni di dalam spons (16,9 persen), disusul Bacillus (11,1 persen), Micrococcus (10,6 persen), Streptococcus (7,8 persen), dan Lactobacillus (6 persen).

Pseudomonas membangun benteng biofilm; ribuan sel merekat di serat spons, lalu menyekresikan matriks lendir polimer yang tebal dan lengket. Biofilm tersebut membuat koloni kebal terhadap bilasan air, deterjen, bahkan perasan tangan manusia.

Dari benteng biofilm itulah ancaman nyata bahwa spons berbahaya karena kontaminasi silang. Satu spons sering dipakai bergantian, misal menggosok talenan berdarah ayam mentah, lalu membersihkan meja berminyak, kemudian mencuci piring saji.

Banyak orang mengira keracunan makanan selalu berasal dari jajanan luar atau wabah industri pangan besar. Padahal, secara epidemiologis, peralatan dapur seperti spons, lap, talenan, dan wastafel, merupakan salah satu sumber utama penyebaran bakteri penyebab penyakit.

Penelitian mikrobiologi Universiry of Houston (2020) menunjukkan, patogen penyebab keracunan makanan, seperti Escherichia coli, Salmonella, dan Staphylococcus aureus, dapat bertahan hidup di dalam spons dapur selama berhari-hari, bahkan hingga lebih dari dua minggu dalam kondisi lembap. Artinya, cairan ayam mentah yang terserap beberapa hari sebelumnya masih berpotensi menyimpan bakteri aktif saat spons yang sama dipakai mencuci gelas atau peralatan makan lain.

Itulah yang disebut kontaminasi silang, jalur penularan yang sering luput disadari di dapur rumah tangga. Setiap kali spons diperas dan digosokkan ke piring, jutaan mikroba ikut berpindah bersama lapisan tipis air yang tertinggal di permukaan. Kepadatan bakterinya bahkan dapat mendekati konsentrasi mikroba pada sampel tinja manusia.

Ilustrasi spons cuci piring

Ilustrasi spons cuci piring. FOTO/iStockphoto

Krisis spons dapur pada akhirnya merupakan persoalan laten. Makin lama dipakai, struktur spons rusak, seratnya robek, menciptakan gua mikro baru yang justru melindungi biofilm bakteri dari air dan sabun.

Banyak orang kemudian percaya spons dapur bisa diselamatkan dengan cara direbus, direndam pemutih, atau dipanaskan dalam microwave. Metode tersebut memang mampu memangkas jumlah bakteri, tetapi tidak menghilangkan seluruh koloni yang bersembunyi di dalam pori-porinya.

Beberapa mikroba yang bertahan bahkan dapat berkembang kembali. Salah satu bakteri yang kerap bertahan adalah Moraxella osloensis, mikroorganisme yang dikenal sebagai penyebab bau apak pada jemuran lembap. Penelitian Hiromi Kubota dan kolega (2012) mengidentifikasi Moraxella osloensis sebagai mikroorganisme utama yang menghasilkan bau khas “lap basah” atau “jemuran lembap”.

Bakteri tersebut menghasilkan senyawa volatil 4-methyl-3-hexenoic acid (4M3H) yang menjadi sumber bau tersebut. Begitu suhu turun, mereka keluar, menemukan ruang kosong dan nutrisi dari bangkai bakteri lain, lalu berkembang biak lebih cepat dan kembali mendominasi spons.

Jalan Keluar Menuju Dapur Higienis

Para ahli keamanan pangan relatif sepakat terhadap dua langkah sederhana: mengganti spons secara rutin dan menjaga agar spons cepat kering setelah digunakan.

Markus Egert dan kolega mengatakan, lewat studinya, spons yang dipakai setiap hari sebaiknya diganti setiap satu hingga dua minggu, terutama bila mulai berbau atau menunjukkan tanda-tanda aus. Bau apak menandakan mikroorganisme telah berkembang aktif di dalam pori-porinya.

Setiap selesai digunakan, spons perlu diperas hingga kering, lalu disimpan di tempat terbuka agar sirkulasi udara mengurangi kelembapan yang menjadi sumber utama pertumbuhan bakteri.

Pilihan lainnya ialah beralih ke sikat cuci piring plastik atau sikat silikon. Menurut ahli mikrobiologi, Trond Møretrø, struktur sikat dengan bulu-bulu sintetik berdiri terpisah, bersifat tidak larut (hidrofobik), dan tidak menyimpan air.

Dalam eksperimen bersama timnya, ketika Salmonella ditempatkan di permukaan sikat lalu dibiarkan semalaman, keesokan harinya populasi bakteri itu mati karena dehidrasi dan paparan udara.

“Selain itu, karena sikat memiliki pegangan, hal ini mengurangi risiko kontak dengan tangan kosong pada bagian sikat yang terkena tumpahan makanan yang terkontaminasi,” tutur laporan studi tersebut.

Keunggulan lainnya, bulu sikat biasanya transparan sehingga sisa lemak mudah terlihat dan langsung bisa dibersihkan tuntas. Sebaliknya, di spons basah, kotoran bisa bertahan berhari-hari.

Langkah-langkah itu cukup untuk memastikan deterjen pembersih piring dan perangkat dapur lainnya benar-benar berfungsi sebagai pelindung kesehatan, bukan menjadi ladang bagi koloni bakteri di sudut wastafel.

Baca juga artikel terkait KEBERSIHAN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Edusains
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin