tirto.id - Penembakan massal terjadi di SMA Nasional San Jose, Kota Tacloban, Filipina bagian tengah, pada Senin (22/6/2026) pagi dan mengakibatkan tiga siswa tewas serta tujuh lainnya mengalami luka-luka.
Hasil investigasi awal, dua pelaku yang juga merupakan siswa dari sekolah tersebut diduga korban bullying (perundungan).
Menteri Dalam Negeri dan Pemerintahan Daerah, Jonvic Remulla, menyatakan bahwa insiden tersebut diduga berawal dari perundungan yang dialami oleh dua pelaku yang masih berstatus anak di bawah umur.
Menurut Remulla, kedua siswa tersebut diduga menjadi korban intimidasi dalam lingkungan sekolah, yang kemudian memengaruhi kondisi psikologis mereka.
Ia juga menyebut bahwa para pelaku diduga terpengaruh oleh video game, meskipun pernyataan tersebut masih merupakan bagian dari penilaian awal dan belum menjadi kesimpulan resmi hasil penyelidikan.
“Berdasarkan penilaian awal, itu adalah intimidasi yang salah. Kedua siswa tersebut dilaporkan di-bully sehingga mereka terpengaruh oleh video game," kata Remulla dikutip Philippine News Agency, Rabu(24/6/2026).
Menanggapi tragedi tersebut, Remulla menekankan pentingnya memperkuat perlindungan bagi peserta didik serta meningkatkan sistem keamanan di sekolah.
Ia menjelaskan bahwa kepolisian Filipina sebenarnya telah menempatkan petugas di seluruh sekolah, namun terdapat keterbatasan kewenangan dalam melakukan pemeriksaan fisik terhadap siswa.
“Ada petugas polisi yang bertugas di setiap sekolah, tapi kami tidak boleh menggeledah siswa,” ujar Remulla.
“Wilayah PNP berada di luar sekolah. Kepala sekolah bertugas di lingkungan sekolah. Tapi, kita harus meninjau kembali kebijakan kita,” tambahnya.
Pelaku Penembakan di Sekolah Filipina Mengaku Korban Bullying
Kepala Kepolisian Regional, Jason Capoy, menyatakan bahwa kedua pelaku yang berusia 14 dan 15 tahun, segera ditangkap setelah kejadian. Penyelidikan lalu dilakukan untuk mengungkap motif dan latar belakang serangan tersebut.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa kedua tersangka mengaku pernah mengalami bullying di sekolah. Meskipun demikian, polisi belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai bentuk perundungan yang mereka alami maupun apakah tindakan tersebut secara langsung menjadi pemicu penembakan.
Kedua remaja tersebut diketahui tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya. Fakta ini menunjukkan bahwa mereka bukan pelaku kejahatan yang telah lama dikenal aparat penegak hukum, sehingga kasus ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana tekanan sosial, kondisi psikologis, dan faktor lingkungan dapat berkontribusi terhadap tindakan kekerasan yang ekstrem di kalangan remaja.
Penyelidikan juga mengungkap bahwa kedua pelaku menggunakan senjata api berbeda dalam serangan tersebut. Salah satu tersangka menggunakan pistol kaliber 9 mm yang diduga diperoleh dari bibinya yang merupakan seorang polisi.
Akibat temuan tersebut, sang bibi turut menjadi subjek investigasi karena kemungkinan adanya kelalaian dalam penyimpanan senjata dinas. Sedangkan pelaku lainnya menggunakan revolver kaliber 38.
Menurut polisi, kedua siswa berhasil membawa senjata masuk ke area sekolah karena sistem keamanan yang lemah. Pada saat kejadian, hanya terdapat satu petugas keamanan yang bertugas mengawasi beberapa pintu masuk dan keluar sekolah yang memiliki lebih dari 1.500 siswa. Kondisi ini dianggap sebagai salah satu faktor yang memungkinkan para pelaku membawa senjata tanpa terdeteksi.
“Para tersangka menerobos masuk ke dalam dua ruangan karena setelah penembakan di ruangan pertama, anak-anak berlarian dan para tersangka rupanya mengejar beberapa korban ke ruangan lain,” kata Capoy kepada wartawan dikutip NPR, Senin (22/6/2026).
Serangan berlangsung dengan sangat cepat dan brutal. Berdasarkan keterangan polisi, setelah menembaki korban di satu ruang kelas, para pelaku mengejar siswa yang berusaha melarikan diri ke ruangan lain. Mereka kemudian memasuki kelas kedua dan kembali melepaskan tembakan.
Polisi menemukan sedikitnya 40 selongsong peluru di lokasi kejadian. Sebagian besar korban yang meninggal maupun terluka diketahui merupakan siswi perempuan, meskipun alasan mereka menjadi sasaran utama belum dapat dipastikan oleh penyidik.
“Para tersangka menerobos masuk ke dalam dua ruangan karena setelah penembakan di ruangan pertama, anak-anak berlarian dan para tersangka rupanya mengejar beberapa korban ke ruangan lain,” jelas Capoy.
Peristiwa ini juga terekam dalam sejumlah video yang beredar di media sosial. Dalam salah satu rekaman, terdengar suara siswa yang bersembunyi di bawah meja di dalam ruang kelas yang terkunci sambil menangis, berteriak ketakutan, dan mendengar suara tembakan dari luar ruangan. Beberapa siswa bahkan terdengar menghubungi ibu mereka melalui telepon dalam kondisi panik.
Video lain memperlihatkan para siswa berlarian keluar dari area sekolah dengan ekspresi ketakutan, sebagian saling berpelukan dan berusaha menenangkan satu sama lain.
Setelah serangan berakhir, salah satu tersangka berhasil ditangkap di lingkungan sekolah. Tersangka kedua akhirnya berhasil ditangkap Polisi setelah sempat melarikan diri dan bersembunyi di sebuah rumah di sekitar lokasi kejadian.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































