tirto.id - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyebut bakal melaksanakan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek EPC (Engineering, Procurement, Construction) Lapangan Abadi di Blok Masela, Maluku setelah Hari Raya Idul Fitri.
Ia menyebut, sebagai persiapan, pihaknya sudah memulai tahapan desain rekayasa awal atau front-end engineering and design (FEED) untuk memenuhi kebutuhan pekerja proyek, serta menyiapkan lahan untuk jalan dan pagar menuju proyek Masela.
“Terakhir September 2025 kita mulai FID dan saya sudah menandatangani untuk personel, recruitment personel itu sejumlah Rp200 miliar dan sudah menandatangani untuk yearly production untuk bikin jalan. Persiapan lahan itu sebesar Rp1 triliun, yang nantinya Insya Allah habis lebaran kita groundbreaking,” ungkapnya dalam Sidang Satuan Tugas (Satgas) Debottlenecking di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (24/2/2026).
Kata Djoko, groundbreaking ini dilakukan sebagai persiapan masuknya proyek ke fase onshore LNG (OLNG) sekaligus juga karena sudah terbitnya izin Amdal proyek Masela. Meski begitu, groundbreaking tidak termasuk untuk memulai pembangunan fasilitas teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS).
“Ini di luar yang tadi CCS,” tuturnya.
Rencana groundbreaking ini pun sudah mendapatkan persetujuan dari Inpex Corporation Ltd yang merupakan operator utama Lapangan Gas Abadi Blok Masela dengan hak partisipasi 65 persen.
Project Director Inpex Masela, Jarrad Blinco, mengungkapkan, persetujuan soal groundbreaking pembangunan jalan dan pagar diberikan Inpex agar proyek yang sudah mangkrak selama puluhan tahun ini bisa segera dimulai.
“Itu juga target kami. Kami ingin mempercepat dan memulai pekerjaan ini sesegera mungkin. Jadi, ya kami berencana (groundbreaking) di awal April,” katanya.
Meski begitu, Jarrad mengakui, pihaknya masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangan Blok Masela. Dengan posisi Blok Masela yang berada di Timur Indonesia, pengembangan proyek abadi ini ia sebut seakan seperti pengembangan sebuah wilayah di Indonesia.
Hal ini menjadi tantangan besar, terutama untuk kegiatan konstruksi yang harus dilakukan karena minimnya infrastruktur.
“Nilai belanja modal proyek ini diperkirakan lebih dari 20 miliar dolar AS. Kami memperkirakan, dengan adanya tekanan global dan inflasi, angka 20 miliar dolar AS ini bisa meningkat ketika proses penawaran sebenarnya dimulai. Ini menjadi kekhawatiran kami saat ini karena total investasi bisa melebihi 20 miliar dolar AS dan dapat berdampak pada keekonomian dan kelayakan proyek,” beber Jared.
Tantangan tidak hanya berasal dari dalam negeri, melainkan juga internasional. Jared menjelaskan, kontraktor dan pemasok yang dibutuhkan untuk membangun proyek ini sebagian besar adalah kontraktor dan pemasok internasional.
Namun, saat ini, proyek semacam ini sangat diminati karena tingginya permintaan LNG, terutama di Amerika Serikat dan Timur Tengah.
“Artinya, kami bersaing dengan Amerika Serikat dan Timur Tengah. Proyek sebesar ini berarti kami bersaing secara global. Inilah mengapa kami membutuhkan dukungan pemerintah untuk memahami bahwa ini adalah proyek internasional dengan persaingan global,” tukasnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id



































