Sejarah G30S 1965 & PKI

Siapa Saja Anggota Pasukan Cakrabirawa & Kapan Dibubarkan?

Penulis: Zen Wisa Sartre, tirto.id - 4 Okt 2022 11:52 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Pasukan Cakrabirawa dibentuk untuk melindungi Presiden Sukarno dan dibubarkan sejak Soeharto mulai berkuasa.
tirto.id - Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, satuan keamanan presiden dikenal dengan nama Resimen Cakrabirawa. Anggota Resimen Cakrabirawa diambil dari TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian Republik Indonesia yang bertugas khusus menjaga keamanan Presiden RI.

Sebelum pembentukan Resimen Cakrabirawa, yang bertugas atas pengamanan presiden diserahkan kepada Detasemen Kawal Pribadi yang beranggotakan satuan-satuan kecil dari Kepolisian dan Detasemen Pengawal Chusus.

Dalam perkembangannya, kebutuhan akan pengamanan presiden ini meningkat. Puncaknya adalah peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno pada Hari Raya Idul Adha 14 Mei 1962 di halaman Istana Negara. Setelah peristiwa itu Sukarno menerima usulan dan pertimbangan dari para ajudan untuk membentuk pasukan pengamanan presiden.


Resimen Cakrabirawa akhirnya dibentuk pada 6 Juni 1962 berdasarkan Surat Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia No. 211/Plt/1962. Anggotanya terdiri dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian.

Nama Resimen Tjakrabirawa ini lahir atas usul Hankam dan dari Surat Keputusan Presiden RI tertanggal 6 Juni 1962 No. 211/PLT/1962.


Nama-nama Penting dalam Resimen Cakrabirawa

Pada awal berdirinya Resimen Cakrabirawa dipimpin oleh Brigadir Jenderal Mohamad Sabur. Sedangkan Kepala Staf dijabat oleh Kolonel Maulwi Saelan. Resimen ini beranggotakan sekitar 3.000 pasukan elit yang ditarik dari berbagai kesatuan tiap angkatan.

Resimen Cakrabirawa dibagi menjadi tiga bagian dengan berdasarkan tugas yang terkhusus pada tiap detasemen, yakni Detasemen Kawal Pribadi, Detasemen Pengawal Chusus, dan Batalyon Kawal Kehormatan.

Detasemen Kawal Pribadi (DKP) dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi Mangil M., bertugas mengawal keselamatan presiden beserta keluarga secara langsung dari jarak dekat.

Detasemen Pengawal Chusus (DPC) dipimpin oleh Letnan Kolonel CPM Djokosujatno. DPC bertugas mengamankan dan melakukan survei atas gedung, area atau wilayah. Mereka melakukan pengamanan di mana pun presiden dan keluarga sedang berada serta mempersiapkan protokol pengamanan kemanapun presiden dan keluarga akan berada.

Batalyon Kawal Kehormatan (KK) dibagi menjadi empat batalyon. Batalyon I KK terdiri dari Angkatan Darat, yang dipimpin oleh Mayor Ali Ebram. Jabatan ini kemudian digantikan oleh Letnan Kolonel Untung--komandan dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S).

Batalyon II KK terdiri dari anggota KKO (Marinir) Angkatan Laut, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel KKO Saminu. Batalyon III KK terdiri dari para anggota Angkatan Udara, yang dipimpin Letnan Kolonel PGT (Pasukan Gerak Tjepat) Sutoro.

Batalyon IV KK terdiri dari anggota Brigade Mobil Angkatan Kepolisian Indonesia (BRIMOB), yang dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi M. Satoso. Keempat batalyon ini menangani sistem pengamanan dan pengawalan presiden yang jauh lebih kompleks dan terperinci dari detasemen lainnya.


Pembubaran Resimen Cakrabirawa

Pada masa-masa akhir jabatan Presiden Sukarno, marak terjadi pemberontakan yang berujung pada peristiwa G30S. Salah satu hal yang paling diingat dari peristiwa ini adalah keterlibatan sebagian anggota Resimen Cakrabirawa dalam penculikan 6 jenderal petinggi AD.

Meski tidak semua pasukan terlibat langsung dengan peristiwa ini, keberadaan Resimen Cakrabirawa dinilai loyal terhadap Presiden Sukarno. Faktor tersebut yang kemudian mempengaruhi sejarah Cakrabirawa di kemudian hari.

Peran Cakrabirawa menyusut sejak Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) dikeluarkan Presiden Sukarno. Surat itu memberikan wewenang kepada Soeharto sebagai Panglima Keamanan dan Ketertiban.

Atas dasar keputusan bersama empat Menteri Panglima Angkatan (Darat, Laut, Udara, dan Polisi) dilakukan serah terima jabatan dari Brigadir Jendral Sabur kepada Brigadir Jendral Sudirgo yang merupakan Direktur Polisi Militer. Setelah surat keputusan tersebut keluar maka Resimen Cakrabirawa akhirnya bubar dan anggotanya kembali ke masing-masing angkatannya pada 23 Maret 1966.

Pasukan pengamanan Presiden kembali dibentuk pada 13 Januari 1976 ketika Soeharto menjadi Presiden RI dengan nama Pasukan Pengawal Presiden (Paswalpres). Paswalpres inilah yang menjadi cikal dari Paspampres sekarang.


Baca juga artikel terkait CAKRABIRAWA atau tulisan menarik lainnya Zen Wisa Sartre
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Zen Wisa Sartre
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight