tirto.id - Presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian, mengecam keras serangan Amerika Serikat-Israel ke negaranya sejak akhir pekan lalu yang menewaskan Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei. Pezeshkian bahkan dipercaya juga menjadi target dalam operasi militer tersebut.
Salah satu serangan militer AS-Israel menyasar kota Minab. Sekolah yang terkena dampak serangan tersebut adalah Shajareh Tayyebeh Girls’ Elementary School yang mengakibatkan korban tewas meningkat menjadi 165 orang, sedangkan 96 lainnya mengalami luka-luka.
In the course of the U.S. and Zionist regime attacks on various parts of #Iran, a Red Crescent relief and rescue base in Lorestan Province — a civilian facility engaged in humanitarian activities — sustained serious damage. pic.twitter.com/yvBOZW6mgr
— Government of the Islamic Republic of Iran (@Iran_GOV) March 3, 2026
Presiden Masoud Pezeshkian mengecam keras serangan yang mengenai rumah sakit dan sekolah di Iran dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, menyatakan bahwa tindakan seperti itu merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan.
“Serangan terhadap rumah sakit menyasar nyawa itu sendiri. Serangan terhadap sekolah menargetkan masa depan suatu bangsa. Menargetkan pasien dan anak-anak secara terang-terangan melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan. Dunia harus mengutuknya. Saya berdiri bersama bangsa saya yang berduka. Iran tidak akan tinggal diam atau menyerah pada kejahatan ini,” tulisnya di akun X @drpezeshkian.
Profil Masoud Pezeshkian Presiden Iran Sekarang
Masoud Pezeshkian adalah seorang politikus reformis sekaligus ahli bedah jantung yang memenangkan pemilihan presiden Iran pada 5 Juli 2024. Ia lahir pada 1954 di Mahabad, Provinsi Azerbaijan Barat.
Setelah menamatkan pendidikan di sekolah teknik pertanian di Urmia, ia menjalani wajib militer di Zabol pada 1973–1975. Pezeshkian kemudian melanjutkan studi kedokteran di Universitas Ilmu Kedokteran Tabriz pada 1976.
Semasa mahasiswa, ia aktif mengorganisasi kelas Al-Qur’an dan turut menggerakkan mahasiswa dalam demonstrasi nasional yang berpuncak pada 11 Februari 1979 dan berujung pada runtuhnya monarki Iran.
Selama perang Iran–Irak (1980–1988), Pezeshkian mengirim tim medis ke garis depan dan merawat korban luka perang. Ia menyelesaikan pendidikan dokter umum pada 1985, lalu mengambil spesialisasi bedah umum dan akhirnya meraih gelar spesialis bedah jantung dari Universitas Ilmu Kedokteran Iran pada 1993.
Karier medisnya berkembang pesat hingga memimpin Rumah Sakit Shahid Madani di Tabriz. Pada 1994 ia diangkat menjadi rektor Universitas Ilmu Kedokteran Tabriz selama sekitar lima tahun.
Karier politik nasionalnya dimulai saat ia menjabat wakil menteri kesehatan pada periode pertama pemerintahan Presiden Mohammad Khatami (1997–2001), lalu menjadi menteri kesehatan pada periode kedua Khatami (2001–2005).
Ia tidak bergabung dalam pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad (2005–2013), yang berhaluan garis keras, dan justru mencalonkan diri sebagai anggota parlemen pada 2006 sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan belanja negara yang dinilainya berlebihan.
Ia terpilih mewakili daerah Tabriz, Osku, dan Azarshahr dan terpilih kembali empat kali berturut-turut. Pada 2009, ketika protes besar meletus atas dugaan kecurangan pemilu yang menguntungkan Ahmadinejad, Pezeshkian secara terbuka mengkritik tindakan keras aparat keamanan di parlemen.
Ia menjabat sebagai wakil ketua pertama parlemen dari 2016 hingga 2020 dan memimpin Kaukus Azeri. Ia pernah memuji Korps Garda Revolusi atas penembakan drone AS pada 2019, namun juga menyalahkan pemerintah atas penanganan protes kenaikan harga bahan bakar di tahun yang sama.
Pada 2021, ia mendaftar sebagai calon presiden tetapi didiskualifikasi oleh Dewan Garda. Pada 2022, ia mengecam kematian Mahsa Amini dalam tahanan, menyebut peristiwa itu tidak dapat diterima, meskipun ia juga memperingatkan agar kritik tidak berubah menjadi penghinaan terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Awalnya kembali didiskualifikasi dalam pemilu parlemen 2024, ia akhirnya diizinkan maju. Namanya mulai dikenal secara nasional setelah disetujui sebagai kandidat dalam pemilu presiden 2024 yang digelar menyusul wafatnya Presiden Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter.
Didukung tokoh dan partai reformis besar, termasuk Khatami, Pezeshkian meraih suara terbanyak pada putaran pertama 28 Juni dan mengalahkan Saeed Jalili dalam putaran kedua pada 5 Juli 2024, menjadikannya presiden dengan latar belakang medis pertama dalam sejarah Republik Islam Iran.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































