Menuju konten utama

Siapa Pengganti Ali Khamenei yang Tewas karena AS-Israel?

Deretan nama calon pengganti pemimpin Iran, Ali Khamenei yang tewas dalam serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Siapa Pengganti Ali Khamenei yang Tewas karena AS-Israel?
Ali Khamenei. [Foto/Antaranews]

tirto.id - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026. Siapa calon terkuat pengganti Ali Khamenei?

Presiden AS, Donald Trump memastikan kematian Khamenei melalui unggahan di akun Truth Socialnya @realdonaldtrump.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati. Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika yang hebat, dan orang-orang dari banyak negara di seluruh dunia, yang telah dibunuh atau dimutilasi oleh Khamenei dan geng preman haus darahnya,” tulis Trump.

Media milik pemerintah Iran juga membenarkan kabar kematian Ali Khamenei, setelah rentetan serangan mematikan oleh Amerika Serikat dan Israel. Gempuran udara tersebut turut merenggut nyawa anggota keluarga inti sang pemimpin spiritual tertinggi itu.

"Media pemerintah Iran mengatakan putri, menantu laki-laki, dan cucu Khamenei juga tewas," demikian dilaporkan Aljazeera, Minggu (1/3/2026).

Dalam serangan yang sama, beberapa tokoh penting lain juga tewas, termasuk penasihat keamanan senior Ali Shamkhani dan panglima tertinggi IRGC Mohammad Pakpour.

Siapa Pengganti Ali Khamenei?

Kematian Ayatollah Ali Khamenei yang telah berkuasa sejak 1989 itu bukan hanya mengguncang struktur politik, namun juga memaksa elite pemerintahan di Teheran segera memulai proses suksesi di tengah perang terbuka dengan kekuatan militer terkuat dunia.

Beberapa nama mulai disebut sebagai kandidat potensial, antara lain:

1. Mojtaba Khamenei

Putra kedua Khamenei ini dianggap memiliki pengaruh kuat di kalangan IRGC dan elite keamanan. Namun peluangnya terhambat oleh sentimen publik yang menolak suksesi turun-temurun, terutama mengingat Revolusi 1979 menggulingkan monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi.

2. Alireza Arafi

Alireza Arafi adalah ulama senior Iran berusia 67 tahun yang berpengaruh dalam struktur keagamaan Republik Islam, meski tidak dikenal sebagai figur politik populer.

Ia menjabat sebagai wakil ketua Majelis Ahli yang bertugas memilih pemimpin tertinggi, serta anggota Dewan Garda yang menyaring calon pemilu dan meninjau Undang Undang.

Setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, Arafi ditunjuk sebagai anggota ulama dalam Dewan Kepemimpinan Sementara yang menjalankan tugas pemimpin tertinggi hingga pengganti resmi dipilih.

Ia juga merupakan pemimpin salat Jumat di Qom dan kepala sistem seminari nasional, menjadikannya tokoh penting dalam pendidikan dan otoritas keagamaan Syiah di Iran.

3. Mohammad Mehdi Mirbagheri

Mohammad Mahdi Mirbagheri adalah seorang ulama Syiah yang dikenal sebagai suara ultra-garis dalam struktur elite keagamaan dan politik Iran.

Ia lahir di Qom pada 1961 dan saat ini menjabat sebagai anggota Assembly of Experts, lembaga yang bertanggung jawab secara konstitusional memilih pemimpin tertinggi negara.

Mirbagheri juga menjadi kepala Islamic Sciences Academy di Qom dan dikenal karena pandangannya yang sangat kritis terhadap Barat serta penolakannya terhadap model modernisasi sekuler.

4. Gholam-Hossein Mohseni-Ejei

Gholam‑Hossein Mohseni‑Ejei adalah seorang ulama senior Iran dan tokoh penting dalam struktur hukum dan keamanan negara yang sekarang memegang jabatan Kepala Yudikatif (Chief Justice) Republik Islam sejak Juli 2021, setelah diangkat oleh almarhum Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam kariernya yang panjang, Mohseni-Ejei pernah menjabat sebagai Menteri Intelijen (2005–2009) dalam pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, kemudian menjadi Jaksa Agung, Wakil Kepala Yudikatif, dan juru bicara sistem peradilan sebelum akhirnya memimpin cabang kehakiman Iran yang memiliki kekuasaan luas dalam menegakkan hukum syariah dan menangani kasus-kasus penting negara.

5. Hassan Khomeini

Hassan Khomeini merupakan salah satu nama yang paling banyak dibahas dalam perbincangan suksesi pemimpin tertinggi Iran. Ia adalah cucu dari Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam, dan saat ini juga bertugas sebagai penjaga makam kakeknya di Teheran.

Meskipun belum pernah memegang jabatan publik, Hassan dikenal sebagai tokoh reformis dengan pandangan moderat mengenai kehidupan publik dan kebijakan negara.

Pada 2016, ia mencoba mencalonkan diri ke Majelis Ahli (Assembly of Experts), namun pencalonannya dibatalkan oleh Dewan Garda (Guardian Council).

Situasi Pemerintahan Iran Usai Khamenei Wafat

Sesuai konstitusi Iran, dikutip Al Jazeera, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts), yaitu lembaga beranggotakan 88 ulama yang dipilih rakyat setiap delapan tahun.

Namun, para calon anggota majelis ini harus terlebih dahulu lolos seleksi Dewan Garda (Guardian Council), lembaga kuat yang sebagian anggotanya ditunjuk oleh pemimpin tertinggi.

Jika jabatan pemimpin tertinggi kosong karena wafat atau mengundurkan diri, Majelis Ahli akan bersidang dan memilih pengganti dengan suara mayoritas sederhana. Kandidat harus seorang ulama senior dengan pemahaman mendalam tentang hukum Islam Syiah, serta memiliki kemampuan politik, keberanian, dan kecakapan administrasi.

Selama masa kekosongan kepemimpinan, Pasal 111 Konstitusi Iran mengatur bahwa tugas pemimpin tertinggi dijalankan oleh dewan sementara beranggotakan presiden, kepala kehakiman, dan seorang ulama dari Dewan Garda.

Saat ini, Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan Ayatollah Alireza Arafi ditunjuk sebagai bagian dari dewan tersebut sampai Majelis Ahli memilih pemimpin baru.

Pejabat keamanan senior Ali Larijani menyatakan proses transisi sedang berjalan dan struktur kekuasaan tetap terkendali.

Dalam sistem Republik Islam Iran yang menganut prinsip velayat-e faqih (kepemimpinan ulama), pemimpin tertinggi adalah otoritas politik dan agama tertinggi.

Ia merupakan panglima tertinggi angkatan bersenjata, memiliki keputusan final dalam urusan strategis negara, serta menunjuk pejabat penting di bidang militer, peradilan, dan media. Karena itu, pemilihan sosok pengganti Khamenei akan sangat menentukan arah Iran ke depan, baik dalam perang maupun hubungan internasional.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra