Setelah Melintasi Abad 19 dan 20, Apa Lagi dari Komunisme?

Oleh: Windu Jusuf - 30 September 2017
Dibaca Normal 3 menit
Ketika Tembok Berlin runtuh dan Uni Soviet bubar, komunisme dinyatakan mati. Apakah mungkin ia bangkit dengan bentuk lain?
tirto.id - Artikel ini merupakan pengantar untuk laporan visual interaktif "Masih Adakah Masa Depan Partai Komunis?" Laporan visual interaktif tidak hanya menapaktilasi jejak kelahiran, pertumbuhan, kejayaan dan kejatuhan (partai) komunis, juga sebaran komunisme global pada abad 20 hingga awal abad 21 melalui peta interaktif.

Komunisme — yang sering dipertukarkan dengan istilah Marxisme-Leninisme — hanyalah satu varian dari luasnya spektrum sosialisme. Seluruh spektrum dipersatukan penentangan terhadap kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi yang menyebabkan ketidakadilan sosial dan menghambat manusia merealisasikan potensinya secara utuh.

Kaum sosialis percaya hierarki sosial bukanlah suratan takdir melainkan produk sejarah dan karena itu bisa diubah. Mereka percaya, sebagaimana judul tulisan Marxis asal Trinidad C.L.R James, “tiap tukang masak di dapur mesti bisa memerintah”.

Perdebatan teoretis, pertikaian internal, perpecahan, pembaharuan dan revisi doktrin terus bermunculan. Beberapa aliran menyasar perubahan-perubahan kecil (seperti pengurangan jam kerja) tanpa meniadakan kapitalisme. Corak sosialisme ini, yang di abad ke-20 berkembang di banyak negara Eropa Barat dan AS, dilabeli reformis.

Sementara lainnya menghendaki perubahan revolusioner, pemerintahan dewan-dewan buruh, demokrasi langsung, peniadaan hak milik pribadi atas sarana produksi, serta penghapusan total kapitalisme. Kepada tendensi yang terakhir inilah istilah “komunis” disematkan, terutama sejak abad ke-20, untuk menegaskan perbedaan dengan “reformis".

Baca juga: Ketakutan Muncul Negara Komunis Sebenarnya Sudah Tak Ada

Periode Revolusi Perancis (1789-1794) yang mendeklarasikan “Kemerdekaan, Kesetaraan, Persaudaraan” sering disebut sebagai momentum sejarah yang penting bagi kelahiran sosialisme di zaman modern dengan berhimpunnya massa pekerja dan kaum miskin kota dalam kerja-kerja mendirikan republik, penghapusan monarki dan hak-hak istimewa para bangsawan, dan tuntutan pelaksanaan program-program ekonomi pro-rakyat.

Sebagai alternatif dari kapitalisme, pemikir seperti Henri de Saint-Simon, Fourier, Cabet, dan Robert Owen—orang-orang tercerahkan pada zamannya—bereksperimen dengan pelbagai jenis komunitas produksi yang bercorak sosialistik, bahkan berambisi mendirikan masyarakat yang terpisah dari tatanan ekonomi-kapitalis saat itu. Beberapa jenis dari upaya ini umumnya terlokalisir, dampaknya sangat terbatas, dan sulit bertahan lama.

Serikat-serikat buruh sosialis di Eropa juga mempelopori pergolakan politik berskala besar untuk menurunkan penguasa lama dan mengerek penguasa baru yang dinilai gagal memenuhi tuntutan-tuntutan buruh. Napoleon III, misalnya, melesat ke kursi presiden Perancis pada 1848 dengan sokongan buruh tapi juga digocoh oleh gerakan buruh, yang setelah kekalahan sang Kaisar dalam Perang Perancis-Prussia, mendirikan Komune Paris, sebuah pemerintahan buruh pertama yang berumur singkat pada 1871 karena dihabisi serdadu-serdadu Jerman.

Lalu sampailah perjuangan buruh ke tingkat elektoral. Di Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat, serikat-serikat buruh memperjuangkan hak pilih universal dalam pemilu, menitipkan tuntutan ke partai-partai (kiri atau kanan), hingga akhirnya mendirikan partai buruh sosialis secara mandiri. Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) lahir sebagai partai Marxis pertama yang legal pada 1863, setahun setelah Jerman mengizinkan semua laki-laki mencoblos dalam pemilu.

Marx dan Engels yang menarik gerakan sosialis ke dalam perkembangan kapitalisme ke dalam dimensi global. Sosialisme, dalam versi Marx dan Engels, merupakan fase ketika alat-alat produksi kapitalis didistribusikan ke kelas pekerja lewat tangan negara. Sedangkan komunisme didefinisikan sebagai kondisi saat alat-alat produksi telah terdistribusi secara merata dan kerja dilakukan berdasarkan kebutuhan tiap-tiap orang.

Organisasi sosialis global pun dirintis sejak berdirinya Asosiasi Pekerja Internasional (International Workingmen’s Association, atau lebih populer dengan nama “International I”) pada 1864 namun bubar pada 1876 karena perpecahan kelompok Marxis dan anarkis.

International II didirikan pada 1879 dan bubar pada 1916 menyusul pecahnya sikap gerakan-gerakan kiri Eropa dalam menanggapi Perang Dunia I. Tugas dari asosiasi-asosiasi internasional ini adalah memperhebat gerakan buruh sosialis di masing-masing negara.

Baca juga: Kisah Partai-Partai Komunis Palestina Melawan Israel

Komunisme, Sosialisme Abad ke-20

Usia seumur jagung Komune Paris 1871 membuat tak sedikit orang menyatakan sosialisme mati bersama hancurnya Komune.

Belajar dari kegagalan Revolusi Perancis dan Komune Paris, revolusi sosialis global jadi tak terelakkan. Asumsinya, sosialisme di satu negara saja tidak cukup karena akan sangat mudah dipadamkan oleh intervensi militer negara-negara di sekitarnya. Komintern (kemudian Kominform setelah Perang Dunia II) yang menjadi wadah global partai dan gerakan komunis seluruh dunia, salah satunya berangkat dari kekhawatiran ini.

Pelajaran krusial lain: pentingnya kepemimpinan partai yang kuat. Komune menunjukkan, tulis revolusioner Rusia Leon Trotsky, “ketidakmampuan massa untuk memilih jalan sendiri, kegagapan mereka dalam kepemimpinan gerakan, dan kecenderungan fatalis untuk berhenti setelah sukses meraih kesuksesan awal...”

Karl Marx


Sejak itu, partai diletakkan sebagai model dan sentra aktivitas-aktivitas komunis di seluruh dunia. Soviet menjadi model dari corak ini. Sementara di negara-negara non-komunis seperti Italia dan Perancis, partai berjuang melalui parlemen dan membangun aliansi dengan kekuatan-kekuatan politik non-komunis, dengan Partai Kristen Demokrat di Italia misalnya.

Di Dunia Ketiga, koalisi dengan kekuatan non-komunis menjadi ciri khas gerakan sosialis, termasuk di Indonesia (D.N. Aidit menyebutnya Front Persatuan Nasional). Di Cile pada 1970, partai komunis mendukung calon sosialis Salvador Allende.

Di Guatemala pada 1940an, program-program reforma agraria dan nasionalisasi perkebunan asing di bawah Kolonel Jacobo Arbenz disusun oleh anggota-anggota partai komunis yang berpengikut kecil tapi berpengaruh besar. Di Iran pada 1951, kebijakan nasionalisasi minyak di bawah Perdana Menteri Mossadegh juga disokong penuh oleh Partai Tudeh.

Baca juga: Daftar Bunuh PKI, Made in USA

Sosialisme Abad ke-21?

Ketika Tembok Berlin runtuh dan Uni Soviet bubar, komunisme dinyatakan mati. Ada banyak partai dan organisasi komunis seluruh dunia membubarkan diri atau mengubah nama dan program. Segelintir lainnya, seperti di Kolombia dan Afrika, masih bergerilya di hutan. Nubuat tentang “akhir sejarah” yang dimenangkan kapitalisme dan demokrasi liberal muncul, seperti pernah dialamatkan pada sosialisme pasca-kekalahan Komune Paris.

Penyebab keruntuhan dialamatkan pada—di antaranya—praktik kediktatoran partai. Jauh sebelum 1989, kritik-kritik internal terhadap kediktatoran dan birokratisme partai (di Eropa Timur) atau elitisme partai (di Eropa Barat) telah dilontarkan gerakan-gerakan sosialis/komunis yang menolak berpartai dan memilih jalan kolektif-kolektif anarkis, serta kelompok-kelompok sempalan Trotskis. Peristiwa Mei 1968 di Paris jadi puncak kritik-kritik tersebut: buruh dan mahasiswa turun ke jalan dan menguasai Paris selama dua bulan tanpa restu partai komunis.

Hanya beberapa tahun setelah komunisme (dan sosialisme) divonis mati, gerakan-gerakan menolak kapitalisme neoliberal yang telah berlangsung sejak awal 1980an merebak di mana-mana dalam berbagai corak yang kerap terinspirasi pengalaman gerilya di Amerika Latin maupun sosialisme demokratik. Pada 1994, kelompok EZLN memaklumatkan perang terhadap pemerintah Meksiko dan korporasi-korporasi dunia yang telah menjarah tanah adat di Chiapas.

Lima tahun kemudian Hugo Chavez memenangkan pemilu di Venezuela, mengamandemen konstitusi, menasionalisasikan industri migas dan reformasi agraria, memberlakukan program-program jaminan sosial secara luas, dan menciptakan dewan-dewan komunal untuk melaksanakan dan mengawasi program-program ekonomi kerakyatan. Sejak itu, kandidat-kandidat sosialis menang di Brazil, Argentina, Cile, Bolivia, Ekuador, dan Nikaragua serta menjalankan program-program serupa.

Namun tampak keterbatasan: eksperimen sosialisme pink di Amerika Latin umumnya masih berpijak pada sektor migas dan belum mampu mengubah struktur politik dan ekonomi. Krisis yang tengah menyapu Venezuela setelah turunnya harga minyak dunia serta kemenangan partai-partai kanan-tengah di Brazil dan Argentina segera menunjukkan keterbatasan tersebut.

Baca juga: Akhir Perjalanan Comandante Che

Dalam Communist Hypothesis (2010), filsuf Perancis Alain Badiou mendaraskan dua sekuens eksperimen komunis yang berjarak 46 tahun. Sekuens pertama berlangsung sejak fase radikalisasi Revolusi Perancis (1792) hingga Komune Paris (1871), sementara sekuens kedua antara Revolusi Rusia (1917) dan ditutup oleh berakhirnya Revolusi Kebudayaan di China (1976).

Tiap jeda antar sekuens yang ditandai hancurnya gerakan kiri melapangkan jalan bagi kapitalisme dalam bentuknya yang paling brutal, tapi juga menyediakan ruang untuk evaluasi besar atas teori dan praktik-praktik komunis yang menemui kebuntuan.

Bisakah kemajuan dan keterbatasan gerakan rakyat di Amerika Latin, Kerala (India), kebangkitan partai-partai kiri di Eropa hari ini dianggap sebagai rajutan menuju sekuens ketiga?

Baca juga artikel terkait G30S PKI atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Windu Jusuf
Penulis: Windu Jusuf
Editor: Zen RS
Artikel Lanjutan