tirto.id - Di sebuah rumah sederhana bercat hijau di Desa Bahalayung, Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, harapan baru perlahan tumbuh bagi keluarga Megawati. Rumah yang berada di deretan ketiga dari sebuah jembatan kecil di tepian Sungai Barito itu menjadi tempat tinggal bagi Megawati, suaminya Abdullah, dan sembilan anak mereka.
Selama bertahun-tahun, keluarga ini hidup dalam keterbatasan. Penghasilan Abdullah sebagai pencari ikan di pematang sawah hanya sekitar Rp80 ribu per hari yang harus mencukupi kebutuhan sebelas orang dalam satu rumah. Hasil tangkapan yang tidak dijual biasanya dimasak untuk lauk keluarga, sementara uang yang diperoleh dipakai membeli beras.
Dalam kondisi seperti itu, Megawati tak jarang harus menjalani hari-hari yang berat. Ia mengenang satu peristiwa pada Ramadan tahun ini yang begitu membekas.
"Ketika sahur kemarin, kami sekeluarga hanya makan nasi ditemani dengan lauk garam. Anak-anak tetap berpuasa meskipun siangnya anak kecil kami yang kembar sudah tidak kuat lagi dan terpaksa berbuka dengan hanya minum air putih karena tidak ada makanan di rumah," ucap Megawati sambil terisak menahan tangis.
Ia juga menceritakan bagaimana beras yang ada harus dibagi untuk seluruh anggota keluarga.
"Beras seliter dibagi 11 orang, tapi tidak ada lauknya hanya ada garam. Saya bilang ke anak, sabar ya tunggu ayah pulang dari merengge (mencari ikan)," ujarnya.
Selain bergantung pada penghasilan suami, Megawati juga berusaha membantu ekonomi keluarga dengan menjadi buruh harian untuk membersihkan lahan sawah milik orang lain. Upah yang diterimanya sekitar Rp50 ribu per hari, namun pekerjaan tersebut tidak selalu tersedia karena bergantung pada musim tanam dan panen.
Keterbatasan ekonomi juga membuat keluarga ini pernah hidup tanpa listrik selama beberapa hari.
"Pernah 3 hari kami di sini gelap (listrik mati) karena tidak bisa membeli pulsa listrik," ujarnya.
Untuk membeli barang kebutuhan dagangan kecil-kecilan yang ia jual, Megawati bahkan harus berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju agen terdekat karena tidak memiliki kendaraan.
"Saat saya jalan kaki membawa stok dagangan, ada orang yang bilang 'ga capek kah membawa' dan saya pun bilang mau kaya gimana lagi ga ada motornya," sambungnya.
Di tengah berbagai kesulitan itu, satu harapan besar selalu Megawati gantungkan pada pendidikan anak-anaknya, terutama Kholemy Almu Dhatser (15), anak ketiga dari sembilan bersaudara. Kholemy kini menjadi siswa kelas 1 di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 20 Banjarbaru.
"Selalu berdoa ke Allah, saya rela berkorban apa saja asal anak nasibnya tidak seperti saya," lirih Megawati seraya menyeka air mata.
Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Kholemy sempat putus sekolah selama setahun karena keterbatasan biaya. Dalam masa itu, ia bekerja serabutan untuk membantu orang tua, termasuk menjadi buruh angkut sawit dan pekerjaan harian lainnya.
Keadaan keluarga ini mulai berubah setelah Kholemy diterima di program Sekolah Rakyat. Melalui salah satu Unit Pelaksana Teknis Kementerian Sosial, Sentra Budi Luhur Banjarbaru, keluarga Megawati juga mendapatkan bantuan usaha untuk mendukung kemandirian ekonomi.
Megawati menerima bantuan berupa warung kelontong sederhana serta ternak ayam. Bantuan tersebut diserahkan pada Senin (9/3/2026).
"Setelah menerima bantuan ini (bantuan kewirausahaan orang tua SR), serasa hidup kembali, ibarat pohon yang telah lama layu disiram jadi mekar kembali," ucap Megawati.
Warung kecil yang kini ia jalankan mulai memberikan pemasukan tambahan bagi keluarga. Dalam beberapa hari setelah bantuan diterima, ia sudah merasakan hasil dari usahanya.
"Sejak bantuan diterima hari Senin (9/3) kemarin, total yg didapat dari berjualan kelontong sebesar Rp400 ribu. Alhamdulillah bisa makan untuk sekeluarga dan sebagian besar lainnya diputar untuk modal warungan lagi," kata Megawati.
Ia berharap usaha tersebut dapat terus berkembang sehingga bisa membantu menopang kebutuhan keluarga.
"Semoga saya bisa mengembangkan bantuan ini. Rasanya seperti bermimpi mendapat bantuan ini," ungkapnya.
Selain bantuan usaha, Sentra Budi Luhur Banjarbaru juga memberikan dukungan berupa kebutuhan dasar serta nutrisi untuk membantu keluarga menjalani Ramadan dengan lebih layak.
Bagi Megawati, bantuan tersebut bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang masa depan anaknya.
"Saya hari ini melihat Kholemy sekolah di SR rasanya bahagia sekali, dibantu oleh Pemerintah, meringankan beban kami. Bersyukur sekali ada SR. Kalau tidak ada program ini mungkin anak saya Kholemy putus sekolah," ucap Megawati.
Kini, bagi keluarga yang tinggal di tepian Sungai Barito itu, pendidikan Kholemy menjadi simbol harapan baru: sebuah kesempatan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang selama ini mereka alami.
Editor: Tim Media Service
Masuk tirto.id





























