Sejarah Majalah Tempo Bermula dari Modal Ciputra

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 28 November 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah terbitnya Majalah Tempo tidak bisa dilepaskan dari andil Ciputra sebagai pemodal.
tirto.id - Pengusaha nasional yang juga chairman sekaligus founder Ciputra Group, Ir. Ciputra, wafat pada Rabu tanggal 27 November 2019 dini hari di RS Gleneagles Hospital Singapore dalam usia 88 tahun. Sejarah mencatat, Ciputra pernah ikut memberikan modal demi mendukung terbitnya Majalah Tempo pada awal dekade 1970-an.

Ciputra merupakan salah satu baron properti di Indonesia. Selain mendirikan Ciputra Group, ia juga merupakan pendiri dari Jaya Group, Metropolitan Group, Pondok Indah Group, dan Jaya Ancol. Pria yang biasa disapa Pak Ci ini turut pula merintis asosiasi properti terbesar di Indonesia, Real Estate Indonesia (REI).

Selama hidupnya, Ciputra juga dikenal sebagai filantrop dan kolektor lukisan. Selain itu, taipan berjuluk kuda pekerja ini tenyata juga punya peran memodali pendirian majalah berita Tempo pada 1971.


Memodali Majalah Tempo

Pada November 1970, Goenawan Mohamad (GM), Fikri Jufri, dan Christianto Wibisono dipecat dari Majalah Ekspres gara-gara dianggap terlalu kritis terhadap Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Dari situ, GM dan kawan-kawan berkeinginan membuat majalah berita yang lebih idealis dan nonpartisan, semacam Time atau Newsweek.

Namun, ada kendala, yaitu persoalan modal. Masing-masing dari mereka mencoba mencari investor, namun tak kunjung dapat. GM pun sempat mendatangi wartawan senior Mochtar Lubis untuk menjajaki kemungkinan kerja sama, tapi gagal mencapai kata sepakat.

Ketika GM dan kawan-kawan hampir putus asa mencari pemodal, mantan wartawan Kompas Lukman Setiawan datang dengan kabar gembira. Seorang pengusaha properti dikabarkan tertarik dengan ide penerbitan majalah tersebut. Siapa dia? Ciputra.


Kala itu, Ciputra sudah dikenal sebagai pengusaha properti top dan dekat dengan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Ia adalah pemimpin PT Jaya Development Group (JDG) yang sedang mengembangkan pembangunan infrastruktur di ibu kota.

JDG kemudian berhubungan dengan GM dan kawan-kawan melalui Yayasan Jaya Raya yang dipimpin oleh Ciputra sendiri.

Janet Steele dalam Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia (2005), mengungkapkan, saat itu Yayasan Jaya Raya juga berkeinginan menerbitkan majalah.

Sebelumnya, yayasan ini sudah punya Majalah Jaya tapi berhenti terbit pada 1969. Tahun 1970, Gubernur Ali Sadikin meminta yayasan ini menerbitkan majalah yang mengekspresikan semangat zaman baru.

Ciputra kemudian meminta Lukman Setiawan mengajak mereka bertemu. Ia bahkan turun tangan sendiri menemui dan bernegosiasi dengan GM dan kawan-kawan. Saat itu Ciputra sebenarnya belum mengenal GM tapi cukup mengetahui reputasi majalah Ekspres.

“Ciputra menyodorkan Rp18 juta kepada mereka. Perusahaan penerbit majalah Tempo yang pertama adalah Jaya Press yang merupakan anak usaha Yayasan Jaya Raya,” tulis Janet Steele.


Pihak Ciputra dan kelompok GM sepakat bahwa kepemilikan perusahaan akan dibagi 50:50. Jaya Raya menyediakan modal dan para wartawan itu menyumbangkan kemampuan jurnalistik mereka. Kesepakatan tersebut dibikin untuk menjamin kekebasan editorial, lepas dari kepentingan pemodal.

Nama Tempo sendiri dipilih oleh GM dan kawan-kawan. Selain mudah diucapkan, nama itu juga dipandang netral dan bukan simbol suatu golongan.

Ivan Aulia Ahsan dalam risetnya bertajuk “Pergulatan Si Malin Kundang: Pemikiran GM tentang Kebebasan, Kekuasaan, dan Demokrasi dalam Caping Majalah Tempo (1977-1994)” menulis:

“Memang sangat penting untuk menegaskan netralitas atau independensi sebuah media massa. Tempo lahir dalam sebuah era ketika sentimen antipartai dan penolakan terhadap kepentingan partai politik dalam pers begitu kuat.”

Modal yang digelontorkan Ciputra bukanlah duit pribadinya, melainkan milik Yayasan Jaya Raya. Ia sendiri tak punya saham pribadi atau memegang kendali di perusahaan penerbitan Tempo. Sebagai representasi Yayasan Jaya Raya, Ciputra menempatkan Eric Frits Samola sebagai direktur.

Setelah terbit, Tempo terbilang sukses menjalankan misinya sebagai majalah yang kritis dan independen. Majalah Tempo yang lahir salah satunya berkat andil Ciputra masih eksis hingga detik ini, kendati sempat diberangus rezim Soeharto pada 1994.

Baca juga artikel terkait CIPUTRA WAFAT atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight