Sejarah Erupsi Gunung Tangkuban Parahu: Meletus Antara 1829-2019

Oleh: Iswara N Raditya - 29 Juli 2019
Dibaca Normal 1 menit
Sejarah erupsi Gunung Tangkuban Parahu paling tua yang tercatat terjadi pada 1829 dan beberapa kali meletus hingga 2019.
tirto.id - Erupsi Gunung Tangkuban Parahu atau yang lebih sering disebut Tangkuban Perahu terjadi pada Jumat (26/7/2019). Sejarah mencatat, gunung yang terletak di Provinsi Jawa Barat ini pernah beberapa kali meletus, termasuk tahun 1829 hingga erupsi terbaru pada 2019.

Menurut keterangan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) yang dilansir melalui siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), erupsi Gunung Tangkuban Parahu pada 26 Juli 2019 lalu berlangsung 5 menit lebih 30 detik.

Akibat erupsi ini, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu ditutup selama tiga hari sejak Sabtu (27/7/2019). Segenap pihak terkait termasuk Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat berhati-hati terkait meletusnya Gunung Tangkuban Parahu.

“Masyarakat sekitar Tangkuban Perahu waspada. Ikuti semua yang disampaikan oleh aparat disampaikan oleh petugas,” ucap Presiden Jokowi di Jakarta, Jumat (26/7/2019).

Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu gunung api di Indonesia yang masih aktif. Asal-usul yang gunung berbentuk seperti perahu terbalik ini kerap dikaitkan dengan mitos Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang sudah terdengar akrab bagi masyarakat Sunda.


Di masa silam, Tangkuban Parahu pernah mengalami erupsi besar dan menghasilkan 9 kawah. Dikutip dari Baseline Kegunungapian Indonesia (2012) terbitan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB), ke-9 kawah itu dinamakan Kawah Ratu, Upas, Baru, Lanang, Jurig, Siluman, Domas, Jarian, dan Pangguyangan Badak.

Kawah Ratu merupakan kawah yang terbesar, diikuti Kawah Upas yang terletak di sebelahnya. Beberapa kawah di Tangkuban Parahu mengeluarkan asap belerang, juga terdapat beberapa kawah yang dilarang dikunjungi karena bau asapnya mengandung racun

Letusan Tangkuban Parahu

Peristiwa erupsi tertua–meskipun bukan yang pertama–Tangkuban Parahu yang berhasil dicatat PVMBG terjadi pada 1829. Kala itu, erupsi mengakibatkan hujan abu serta batu dari Kawah Ratu dan Kawah Domas, dua dari 9 kawah yang ada di sekitar gunung setinggi 2.084 meter di atas permukaan laut atau 1300 meter di atas dataran tinggi Bandung ini.

Selanjutnya, berdasarkan data dari situs resmi PVMBG, terjadi puluhan kali erupsi yang berlangsung dalam tiga abad hingga sekarang. Erupsi tahun 1846, misalnya, disebut adanya peningkatan kawah yang salah satunya mengakibatkan terbentuknya fumarol (lubang di dasar gunung) pada 1896.

Kawah Ratu kembali mengalami erupsi pada 1900, 1910, dan 1926. Di letusan kedua, terlihat kolam asap setinggi 2 kilometer di atas dinding kawah tersebut. Sedangkan pada 1926, terjadi erupsi freatik di Kawah Ratu yang mengakibatkan terbentuknya lubang baru.


Untuk diketahui, erupsi freatik adalah proses keluarnya magma ke permukaan bumi karena pengaruh uap yang disebabkan sentuhan air, baik air tanah, air laut, air danau kawah, atau air hujan.

Tahun 1935, terbentuk fumarol baru yang cukup besar dan menjadi kawah baru yang diberi nama Kawah Badak. Selang 17 tahun kemudian, terjadi erupsi abu yang didahului oleh erupsi freatik.

Erupsi freatik berturut-turut terjadi lagi pada 1957, 1961, 1965, 1969, 1971, 1992, dan 1994. Dalam periode ini, yakni 1983, terlihat awan abu panas setinggi 159 meter di atas Kawah Ratu. Sedangkan pada erupsi freatik tahun 1992 disertai gempa seismik dangkal yang merupakan dampak peningkatan aktivitas gunung.

Setelah satu dekade cukup tenang, Tangkuban Parahu kembali beraktivitas pada 2004 hingga 2006 dengan tercatatnya peningkatan kegempaan. Sejak awal 2013, terjadi peningkatan aktivitas yang menghasilkan 11 kali letusan freatik selama 4 hari pada 5 hingga 10 Oktober 2013.


Usai itu, Gunung Tangkuban Parahu tidak menunjukkan tanda-tanda menggeliat lagi. Hingga akhirnya, pada 26 Juli 2019 lalu, gunung yang berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Subang ini terbangun, mengalami erupsi dengan menyemburkan abu setinggi 200 meter di atas puncak, serta material dingin.

PVMBG memastikan letusan Tangkuban Parahu ini sudah terdeteksi sebelumnya. Penyebab utamanya adalah berkurangnya air tanah akibat perubahan musim sejak Juni 2019, sehingga air tanah yang tersisa menjadi panas dan menimbulkan erupsi.

Baca juga artikel terkait GUNUNG TANGKUBAN PERAHU atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Abdul Aziz
DarkLight