Sejarah Krakatau: Kemiripan Sebab Tsunami Selat Sunda 1883 & 2018

Oleh: Iswara N Raditya - 27 Desember 2018
Dibaca Normal 1 menit
Tsunami di Selat Sunda pada 1883 disebabkan oleh longsornya lereng utara Gunung Krakatau di bawah laut.
tirto.id - BMKG memperkirakan, tsunami di Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) disebabkan karena longsornya bagian Gunung Anak Krakatau di bawah laut, seluas 64 hektare terutama di lereng barat daya. Sejarah mencatat, erupsi Krakatau pada 1883 atau 135 tahun silam juga memicu tsunami besar, sebagian penyebabnya ternyata sama.

Hasil penelitian G. Camus dan P.M. Vincent bertajuk “Discussion of a New Hypothesis for the Krakatau Volcanic Eruption in 1883” yang dimuat dalam Journal of Volcanology and Geothermal Research (1983) mengungkapkan, tsunami di Selat Sunda pada 1883 disebabkan karena runtuhan sektoral bagian utara Gunung Krakatau dalam skala besar.

Pendapat senada juga disampaikan P.W. Francis dalam hasil riset berjudul “The Origin of the 1883 Krakatau Tsunamis” (1985). Francis menguraikan empat mekanisme utama penyebab tsunami yang mengiringi letusan Krakatau tahun 1883, yaitu aliran awan panas (piroklastik), lateral blast, letusan bawah laut, dan longsornya sebagian besar tubuh Krakatau bagian utara.



Longsor pada dasar laut yang menggantikan bagian besar massa air memang menjadi salah satu sebab pemicu tsunami. Penelitian dari Natural Environment Research Council atau NERC (2000) menyebutkan, longsor di perairan laut mendorong massa air secara lateral dan menghasilkan aliran yang berkebalikan sehingga menimbulkan gelombang yang sangat besar atau tsunami.

Tsunami yang dipicu longsor dari bawah laut tidak hanya terjadi di Selat Sunda pada 1883. Timothy M. Kusky dalam buku Geological Hazards: Sourcebooks on Hazards and Disasters (2003) mencontohkan, gelombang setinggi 520 meter di Teluk Lituya, Alaska, pada 1958 merupakan salah satu fenomena tsunami luar biasa (mega-tsunami) yang disebabkan oleh longsor di bawah laut.

Erupsi Krakatau pada 1883 berhubungan dengan hidromagmatic atau phreatomagmatic. Dijelaskan Mathesa Resvi dalam artikel berjudul “Gemericik Raksasa Selat Sunda” (2015), ini termasuk letusan yang cepat, air laut yang dingin masuk ke dalam kantung magma Krakatau ketika dindingnya mulai pecah akibat lemahnya dasar dinding.



Uap panas membentuk tekanan yang amat besar sehingga menghasilkan letusan gunung api yang sangat besar pula. Menyusul letusan, pengosongan magma yang terjadi setelah Krakatau hancur membentuk kaldera yang di bawah permukaan laut. Air laut mengisi rongga itu dan menghimpun gelombang tinggi, maka terjadilah tsunami.

Tsunami akibat longsoran bawah laut dari letusan Krakatau pada 1883 mengakibatkan 36.417 orang meninggal dunia. Resvi mencatat, korban jiwa berasal dari 295 kampung di kawasan Pantai Merak, Cilegon, Cimalaya, Karawang, Pantai Barat Banten, hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon), serta sebagian Sumatera.

Di Ujung Kulon, air bah masuk ke dataran hingga 15 km ke arah barat. Esoknya hingga beberapa hari kemudian, matahari tak terlihat dari sebagian Lampung, juga Batavia (Jakarta), karena abu vulkanik menutupi langit. Gelombang tsunami kala itu juga merambat sampai ke pesisir Hawaii, pesisir barat Amerika Tengah, dan Semenanjung Arab.


Baca juga artikel terkait STATUS GUNUNG ANAK KRAKATAU atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight