Salip Mobil Jepang, Manuver Wuling Jorjoran Melepas Produk Baru

Vice President Vehicle Sales, Service and Marketing of Wuling Motors Cindy Cai mempromosikan Wuling Formo minibus. tirto.id/Yudistira Perdanaimandiar
Oleh: Yudistira Perdana Imandiar - 8 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sebagai pendatang baru Wuling meluncurkan beberapa produk anyar dalam waktu singkat, agresif dan meninggalkan dua pemain Jepang.
tirto.id - Rabu 7 November 2018, Wuling Motors meluncurkan produk baru, Wuling Formo. Mobil kategori light commercial vehicle (LCV) tersebut merupakan produk keempat yang dipasarkan Wuling di Indonesia, setelah Confero, Cortez 1.8, dan Cortez 1.5.

Manufaktur kendaraan asal Cina ini seolah langsung tancap gas dalam berbisnis di pasar otomotif Tanah Air. Dalam kurun waktu 15 bulan, Wuling sudah merilis empat produk artinya rata-rata ada satu produk setiap empat bulan.

Pada Agustus 2017, Wuling mulai menunjukkan eksistensi di Indonesia dengan meluncurkan mobil multi purpose vehicle (MPV) Wuling Confero dan Confero S. Mobil tersebut meramaikan pasar low MPV (LMPV) mengedepankan kekayaan fitur dan harga paling murah dibandingkan LMPV Jepang, seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Honda Mobilio, Suzuki Ertiga, dan Mitsubishi Xpander.

Di awal kehadirannya, Confero dan Confero S dijual dengan rentang harga Rp128,8 juta sampai Rp162,9 juta (on the road Jakarta), selisih cukup jauh dengan LMPV Jepang versi terendah yang dihargai Rp180 jutaan.


Enam bulan setelah Confero dirilis, Wuling Motors menggelontorkan varian MPV lainnya, Wuling Cortez 1.8. Mobil tersebut masuk di ceruk medium MPV, berhadapan dengan Toyota New Kijang Innova. Seperti halnya Confero, Wuling Cortez pun dilabeli harga “miring” ketimbang kompetitor. Wuling membenderol harga Cortez Rp218-264 juta, sedangkan Innova termurah sampai Rp300 jutaan.

Pada April 2018, Wuling kembali mengeluarkan produk baru, yakni Cortez 1.5, bermesin 1.500cc. Wuling Cortez 1.5 menempati level lebih tinggi daripada Confero. Wuling Motors meyakinkan, mesin Confero dan Cortez berbeda jenis.

Wuling Cortez 1.5 mengaplikasi sistem penggerak roda depan yang digadang-gadang lebih nyaman dan efisien ruang, sementara Confero mengenakan penggerak roda belakang yang berorientasi pada kekuatan. Saat diluncurkan, Cortez 1.5 dijual dengan harga Rp193,8 juta sampai Rp203,8 juta (on the road Jakarta).

Di akhir 2018, Wuling kembali bermanuver lewat produk baru Wuling Formo Blind Van dan Formo Minibus. Lewat sepasang produk itu, Wuling mencoba keluar dari pasar MPV dan masuk ke segmen light commercial vehicle (LCV), mengincar pangsa pasar kendaraan niaga.





Kecepatan Wuling membuat produk-produk baru di Indonesia berkaitan dengan banyaknya jenis mobil Wuling yang sudah ada di Cina. Dengan begitu, Wuling Motors tidak butuh proses panjang untuk melakukan pengembangan produk dari nol. Wuling Confero sudah ada di Cina dengan nama Hong Guang, sementara Cortez di negara asalnya bernama Baojun 730.

Meskipun mengambil produk yang proses research and development (R&D) dilakukan di Cina, Wuling Motors menegaskan setiap mobil sudah disesuaikan dengan kebutuhan konsumen dan kondisi infrastruktur di Indonesia. Sebelum dijual, mobil-mobil Wuling diuji jalan terlebih dahulu untuk memastikan kondisinya sudah layak untuk jalanan di Indonesia.

“Kalau ngomongin produk (Wuling), di Cina banyak banget dari komersial sampe passenger, itu semua ada, ada elektrik car segala dan itu menjadi bahan referensi kami, produk produk apa yang bisa dibawa ke Indonesia. Tapi sekali lagi itu tetap bertahap,” ujar Brand Manager Wuling Indonesia Dian Asmahani kepada Tirto, Rabu (7/11/2018).

“Banyak perubahan (mobil Wuling di Indonesia) karena yang jelas market-nya beda, banyak fitur-fitur (tambahan), akan ada penyesuaian. Dari setir aja beda. Walaupun RnD di sana, tapi produksi tetap di Cikarang. (Sebelum dipasarkan) tes sesuai kondisi jalan,” kata Dian.


Wuling memang sedang berusaha masuk ke celah pasar yang dianggap bisa mendatangkan volume penjualan, seperti MPV dan LCV. Mereka melakukan riset untuk mendapatkan formulasi produk paling sesuai dengan selera pasar Tanah Air.

“Kalau kita udah mapping di mana yang potensial baru kita akan lihat portofolio produk kita sekarang ada di mana, (kelas) apa yang bisa kita isi. Saat ini kita lihat portofolio (pilihan produk) yang ada. Karena gini, pada akhirnya ya produk kita bikin untuk bisa kompetitif, kita harus lihat skala ekonomi, volumenya seperti apa,” jelas Direktur Aftersales Wuling Motors Taufik S Arief.

Upaya Wuling menggelontorkan beragam varian produk berbuah positif. Melansir data Gaikindo, volume wholesales (distribusi unit dari pabrik ke dealer) Wuling Motors periode Januari-September 2018 mencapai 12.317 unit. Wuling sudah melampaui angka wholesales Datsun (9.324 unit) dan Nissan (5.392 unit).

Namun, pekerjaan rumah Wuling tidak sebatas soal menyodorkan beragam varian mobil kepada konsumen Indonesia. Membangun kepercayaan masyarakat pada merek “Cina” yang sudah telanjur coreng.

Garansi komponen mesin selama lima tahun atau 100.000 kilometer dan gratis biaya perawatan selama 2,5 tahun atau 50.000 kilometer disodorkan Wuling Motors untuk menyenangkan konsumen. Selama 1,5 tahun ini, Wuling juga gencar memperluas jaringan dealer penjualan dan perawatan di seluruh Indonesia. Ada 84 dealer Wuling yang sudah berdiri, 74 di antaranya kategori dealer 3S (service, sales, sparepart).

Kualitas mobil Cina pun kini sudah tidak lagi mengkhawatirkan seperti satu dekade lalu. Data hasil observasi J.D. Power tahun 2017 menyebutkan, rata-rata jumlah kerusakan komponen mobil Cina membaik dari tahun ke tahun. Studi dilakukan dengan melakukan survei kepada 23.993 pemilik 251 model mobil baru dari 68 merek berbeda keluaran September 2016 sampai Mei 2018.

Hasil survei itu rata-rata kerusakan menurun, menjadi 100 kerusakan per 100 kendaraan, dibandingkan 107 kerusakan per 100 kendaraan di 2016. Perbaikan kualitas tersebut signifikan jika dibandingkan statistik J.D. Power 2009, yang mana tingkat kerusakan mobil Cina masih ada di ambang 178 kerusakan per 100 kendaraan

Studi J.D. Power juga mengevaluasi perbandingan kualitas antara merek mobil Cina dengan Internasional (Jepang, Eropa, Amerika). Untuk kali pertama sejak tahun 2000, kualitas mobil Cina unggul dalam tiga aspek, yakni interior, fitur, dan sistem audio. Sementara, masalah aroma tidak sedap dalam kabin masih jadi masalah terbesar mobil Cina.

Dalam konteks Wuling di Indonesia, torehan positif mobil Cina di atas kertas belum cukup untuk mengambil hati sepenuhnya konsumen di Indonesia. Klaim Wuling mengoperasikan 80-an dealer di seluruh Indonesia, masih butuh bukti dukungan pelayanan prima, dan pembuktian apakah mobil Cina benar-benar bisa diandalkan. Meski sejauh ini mereka sudah mampu melibas Datsun dan Nissan.

Baca juga artikel terkait WULING atau tulisan menarik lainnya Yudistira Perdana Imandiar
(tirto.id - Otomotif)

Penulis: Yudistira Perdana Imandiar
Editor: Yudistira Perdana Imandiar
DarkLight