tirto.id - Setiap April, jutaan orang di berbagai belahan dunia terjun ke lapangan dengan ponsel di tangan. Mereka mengamati burung di taman kota, memotret sampah plastik di pantai, atau merekam rumput laut di perairan dangkal. Tangkapan warga tersebut lantas dikemas jadi satu himpunan megadata yang bisa menghidupi ilmu pengetahuan sekaligus menyajikan temuan baru untuk kebaikan umat manusia.
Itulah semangat Citizen Science Month atau Bulan Sains Warga, gerakan global yang dirayakan setiap April. Pada 2026, acara tahunan itu menarget 2,5 juta aksi ilmiah dengan berbagai topik, dari proyek NASA, UNESCO, sampai Citizen Science Asia.
Namun di Indonesia, April 2026 hampir berlalu tanpa gaung berarti. Padahal, pada akhir bulan sebelumnya, dua peneliti Indonesia menemukan tiga spesies tanaman baru di Sumatra, bermula dari foto-foto yang beredar di grup Facebook jual beli tanaman hias.
Masyarakat Indonesia sebenarnya memang dekat dengan citizen science dan sudah menikmati dampaknya.
Studi Insurgent Planning Practice, misalnya, melibatkan sejumlah warga Makassar untuk memantau banjir di wilayahnya. Tujuannya akhirnya adalah perencanaan infrastruktur terbaik. Artinya, mereka ikut memperjuangkan hak atas kota dan terlibat aktif membentuk masa depan sendiri.
Di pulau seberang, lebih dari tiga ribu karyawan kebun sawit di Kalimantan membantu pemetaan biodiversitas di Pulau Borneo. Mereka berkontribusi dalam pengamatan 148.286 satwa liar, termasuk 699 spesies fauna dan 186 spesies bunga, sepanjang 2019-2024.
Ada banyak ratusan contoh lain yang membuktikan bahwa Indonesia sudah andil dalam sains warga. Hanya saja, apakah kita sudah memahami betul betapa penting paradigma baru sains warga, yang bisa mengubah wajah "elitisme" sains? Bagaimana jika citizen science ternyata mampu mendorong kebijakan yang lebih baik bagi Indonesia?
Mengenal Citizen Science dan Sejarahnya
Padahal, sesuatu yang dicari oleh para peneliti bisa jadi merupakan keseharian warga, misalnya satwa liar yang sudah hidup berdampingan bertahun-tahun dengan masyarakat setempat. Karena itulah Caren Cooper menyebut, sains warga sebenarnya sudah populer, bahkan sebelum istilah sains warga didefinisikan.
Salah satu contoh, peta arus laut yang kita pakai hari ini berutang budi pada catatan-catatan lusuh para nelayan, sebelum dikepul oleh Matthew Fontaine Maury.
Pengetahuan soal migrasi Kupu-kupu Monarch dari Midwest ke Meksiko juga bukan hasil kerja satu-dua ilmuwan saja.
"Salah satu Kupu-kupu Monarch yang pertama kali terlacak di Meksiko berasal dari tangan seorang guru sekolah dan dua muridnya. Alih-alih ilmuwan professional. Mereka hanya orang-orang yang cukup peduli untuk memperhatikan," tegas Cooper.
Seiring perkembangan teknologi, sains warga menemukan napas baru. Kebiasaan mengabadikan hal-hal menarik di lingkungan via kamera ponsel merupakan hal sederhana yang jarang dianggap penting, tapi bisa berdampak signifikan. Cooper mengibaratkannya seperti suara dalam pemilu, bahwa satu suara tak cukup berarti, tetapi jutaan suara bisa mengubah arah dunia.
Itulah yang kemudian disebut sebagai sains warga, istilah baru, tapi praktiknya sudah berlangsung lama. Ia mengajak siapa saja untuk tetap menjadi manusia yang penasaran.

Dalam bukuThe Science of Citizen Science (2021), Katrin Vohland bersama kolega melacak jejak diksi citizen science dan menemukannya pertama kali dipakai dalam sebuah artikel di MIT Technology Review pada Januari 1989.
Konteksnya, saat itu pemerintah AS gemar menahan data riset selama bertahun-tahun. Menyikapi kebijakan itu, organisasi lingkungan bernama National Audubon Society memutuskan untuk melibatkan 225 warga dari 50 negara bagian AS dalam program citizen science, yang mampu menghasilkan informasi dalam waktu lima minggu saja.
Relawan warga mengumpulkan sampel hujan, menguji tingkat keasaman, lalu melaporkan hasilnya ke kantor pusat Audubon. Kantor tersebut merilis peta nasional bulanan menyangkut tingkat hujan asam.
Seiring waktu, istilah citizen science mulai didefinisikan pada abad ke-20 oleh dua orang yang tak saling kenal, yakni Rick Bonney, ahli ornitologi dari AS, dan Alan Irwin, sosiolog asal Inggris.
Alan Irwin memaknai sains warga sebagai upaya mengembangkan konsep ilmiah warga dengan menekankan pentingnya membuka proses sains dan kebijakan sains kepada publik. Ia menyorot dua aspek utama: Pertama, bahwa sains harus mampu merespons kebutuhan dan kekhawatiran masyarakat. Kedua, masyarakat juga punya kapasitas menghasilkan pengetahuan ilmiah yang bisa dipercaya.
Sementara itu, Rick Bonney mendefinisikan sains warga lebih sempit, yakni proyek yang melibatkan partisipasi sukarela dari kalangan non-ilmuwan untuk mengumpulkan data ilmiah, contohnya pengamat burung amatir. Definisi tersebut menempatkan peran masyarakat pada tingkat lebih terbatas dalam proses penelitian dibanding pandangan Irwin.
Sampai saat ini, definisi dan metodologi sains warga masih menjadi perdebatan. Merujuk riset dari M. Haklay dan tim dari European Citizen Science Association, terdapat lebih dari 30 definisi sains warga yang dipakai oleh lembaga terkemuka, seperti NASA, UNESCO, dan Uni Eropa.
Di satu sisi, fleksibilitas definisi sains warga menunjang ragam disiplin ilmu untuk mengadopsi partisipasi publik secara luas. Namun di lain sisi, hal tersebut memperumit pembuat kebijakan saat menetapkan standar pendanaan dan akurasi data.
Salah satu studi kasus paling menarik di mata komunitas sains warga internasional terjadi di Austria pada 2017 melalui platform Österreich forscht. Saat itu, mereka mencoba membuat "standar kualitas" untuk menyeleksi proyek sains warga yang layak masuk ke platform mereka.
Langkah tersebut memicu debat sengit. Sebagian praktisi menilai kriteria tersebut terlalu eksklusif dan berisiko menyingkirkan riset akar rumput yang dipimpin oleh masyarakat non-akademisi. Namun, bagi pendukungnya, standar tersebut penting untuk membangun kepercayaan publik dan penyedia dana terhadap integritas data yang dihasilkan warga.
Arifin Surya Dwipa Irsyam selaku Peneliti dari Herbarium Bandungense SITH ITB, sekaligus penemu spesies baru tanaman lewat media sosial, menjelaskan bahwa media sosial kini berperan penting dalam tahap awal penemuan spesies.
"Media sosial, berfungsi sebagai alat bantu atau tahap early detection, bukan pengganti metode ilmiah," ujarnya.
Mengapa Indonesia Harus Merayakan Bulan Sains Warga?
Terlepas dari perdebatan soal definisi dan metodologi, Indonesia punya potensi besar menggarap Bulan Sains Warga sebagai agenda nasional berdampak. Negara ini dikenal akan megabiodiversitas dengan jutaan warga yang tiap hari berinteraksi langsung dengan alam. Perayaan Bulan Sains Warga berpotensi mempercepat pembangunan berbasis data, memberdayakan masyarakat, sekaligus membentuk kebijakan lebih tepat dan inklusif.
Ribuan karyawan kebun sawit di Kalimantan sudah menghasilkan ratusan ribu pengamatan satwa liar. Penemuan spesies tanaman baru di Sumatra berawal dari foto-foto di grup Facebook. Platform seperti iNaturalist dan Burungnesia juga aktif menghimpun data biodiversitas secara masif.
Potensi sains warga jauh bisa lebih luas dari itu, termasuk untuk menghadapi krisis mendesak, misalnya bencana. Salah satu contohnya adalah PetaBencana.id, platform urun daya yang mengubah warga biasa jadi sensor hidup pemantauan bencana. Data sains warga tersebut terintegrasi ke peta dan dimanfaatkan BNPB, BPBD, serta masyarakat, untuk evakuasi dan respons darurat.
Di Makassar, proyek Citizen Science Flood Monitoring melalui program Revitalising Informal Settlements and their Environments (RISE) melibatkan warga kampung informal untuk mengumpulkan lebih dari 5.000 foto banjir sepanjang 2018-2020. Hasilnya membantu ilmuwan merancang infrastruktur berbasis alam (nature-based solutions) sekaligus mendorong keterlibatan warga dalam perencanaan kota.
Warga, alih-alih diposisikan sebagai objek kebijakan semata, bisa menjadi mitra aktif dalam memperjuangkan lingkungan aman. Manfaatnya terasa langsung: data warga mempercepat peringatan dini, menekan korban, serta mendorong kebijakan berbasis bukti lokal.
Di tengah risiko banjir dan bencana hidrometeorologi lain, pendekatan tersebut jauh lebih terukur dibanding bergantung sepenuhnya pada sensor mahal atau tim ilmuwan yang masih terbatas.
Dari sisi kebijakan nasional, data sains warga bernilai strategis, mengingat Indonesia bakal jadi tuan rumah World Science Forum (WSF) 2026 dengan tema “Science for Global Resilience and Equity”.
Maka, melihat berbagai potensi, praktik, dan manfaat yang sudah dirasakan di Indonesia, sudah sepatutnya Bulan Sains Warga dirayakan. Merayakan itu berarti mengakui bahwa ilmu pengetahuan milik semua orang, bahwa jutaan aksi kecil warga bisa menghasilkan perubahan besar bagi kebijakan dan masa depan bersama.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id




































