tirto.id - “Pas kemarin ketemu anak, pelukan lama. Dua tahun bayangin, mas. Udah dua tahun lebih. Bayangin. Batin saya gimana, pelukan itu sangat berharga.”
Hal itu disampaikan Dwiyanti, warga binaan Lapas Perempuan Kelas II A Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat kala menceritakan ulang momen penuh haru dapat menghabiskan hampir 24 jam berkegiatan bersama kedua anaknya. Saat bercerita kepada Tirto di lapas, matanya berkaca-kaca, sesekali mengusap air mata yang sudah tidak terbendung lagi.
“Sampai anak-anak saya nangis. Kangennya bukan main. Namanya anaknya ditinggal ibu. Kalau peluk cuman di ruang kunjungan, peluknya cuman sebentar,” lanjut perempuan berusia 43 tahun itu kepada Tirto baru-baru ini.
Ia divonis 6 tahun 3 bulan penjara terkait kasus narkoba. Kini, Dwiyanti sudah menjalani masa hukuman selama 2 tahun penjara. Selama itu pula, ia belum lagi dapat berbincang lama dan tidur bersama buah hatinya.
Sebetulnya ada kesempatan berbincang, tapi hanya bisa dilakukan dalam waktu terbatas saat kunjungan keluarga. Itu pun terhalang kaca pembatas. Ia amat terharu tatkala muncul program khusus Obat Rindu Ibu dan Anak atau disingkat Barudak.
Terhitung sudah dua kali kegiatan tersebut dilakukan Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung. Lapas yang berada di wilayah Arcamanik itu mulai menjalankan program untuk mempertemukan warga binaan dengan anaknya ini sejak Desember 2025.
“Paling enggak bisa dilupain. Mana ada sih di Lapas bisa nginep anaknya?” katanya sumringah. “Dengan acara kemarin jadi banyak ngobrol bareng. Chemistry kami ada. Batin kami nyambung lagi kan sama anak. Ya Allah. ‘Mama dede rindu’ kata anak saya,” lanjut Dwiyanti.
Sejak kemunculan program itu, Dwiyanti rutin mengajukan diri untuk bertemu anaknya. Syarat bagi warga binaan supaya dapat menjalani kegiatan Barudak, satu di antaranya memiliki catatan perilaku baik saat menjalani masa tahanan.
Dua kali sudah ia berkesempatan melakukan kegiatan nyaris 24 jam di sebuah aula yang disediakan lapas. Dwiyanti banyak berbagi pengalamannya semasa menjalani masa tahanan, begitupun sebaliknya, dua anak berusia 4 dan 10 tahun itu juga, membagikan cerita-cerita keseharian mereka di dunia luar.
“Di aula ada fasilitasi tenda. Terus ada tempat tidur buat. Terus juga diadain game. Terus saya tegasin, ‘Mama di sini sedang menjalani kesalahan kemarin.’ Main bareng anak, bobo bareng. Mandi bareng. Itu momen yang gak bisa kami lakukan, mas,” ungkapnya.
“Saya juga bisa tahu kan perkembangan lewat cerita mereka. Terus cara mereka mengutarakan, ternyata udah dua tahun ditinggalin, sekarang gini ya. Sudah pinter. Banyak perkembangan yang nggak saya tau,” imbuhnya.
Dengan adanya kesempatan bertemu dua buah hati setiap 3 bulan sekali, Dwiyanti pun bertekad menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Ia ingin memanfaatkan program yang disediakan lapas, terlebih kuota warga binaan yang berpartisipasi amat terbatas.
“Ini hampir 24 jam bersama anak, Alhamdulillah yang biasanya cuman dibatas gitu ya Allah kalau kunjungan cuma setengah jam. Jadi bakal Lebih perbaiki diri. Harus jadi pemicu saya semangat lagi,” ujarnya.

Hal itu juga tak jauh berbeda dirasakan Siti, seorang warga binaan lain yang masih menjalani masa hukuman di Lapas Perempuan IIA Bandung. Ia sempat terpilih untuk mengikuti program Barudak. Rasa rindu yang terpendam sekian lama, akhirnya membuncah ketika bertemu dengan buah hatinya.
“Semalaman di aula pake tenda. Senang. Hangat suasananya. Bisa deket, bercerita kan ya, semuanya. Sampai minta dimandiin. Namanya anak kan ya, udah lama,” ujar Siti kepada Tirto saat bertemu di kawasan lapas.
Ketika penangkapan tiga tahun silam, buah hati Siti masih berusia sekira 4 tahun. Tatkala bertemu kembali lagi di tempat yang berbeda, anaknya sudah masuk sekolah dasar. Ia pun memanfaatkan momen semalam itu untuk berbincang lama. Selama mungkin.
“Sangat bahagia sekali. Meluapkan rasa rindu ataupun hal-hal yang mengganjal dalam hati selama bertahun-tahun. Enggak bisa bersama, bisa terobati dalam walau sekejap,” ceritanya.
Ia juga menguatkan anaknya, apalagi dia mendengar bahwa stigma negatif narapidana sempat melekat juga terhadap anak. Ia menyayangkan sang buah hati sempat mengalami perundungan tersebut di lingkungan rumahnya.
“Minta sabar, jadi anak yang baik. Selama mama gak ada, belajar. Karena masuk SD. Anak akhirnya berusaha mengerti,” ujar Siti.
“Mungkin berusaha mengerti dan dipaksa untuk bisa dewasa. Karena memang harusnya diurusin sama ibunya, kondisi ibunya seperti ini,” sesal perempuan berusia 49 tahun itu.
Ia juga berjanji untuk anak dan keluarga yang menanti, kelak setiap detik, menit hingga hari bakal dimanfaatkan semaksimal mungkin. Ia berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Saat ini, kegiatan sehari-harinya kerap berkaitan dengan pendidikan mengajar ngaji para narapidana. Ia ingin menjadi seorang yang berguna, baik itu sebelum maupun nanti saat kembali di lingkungan masyarakat.
“Saya berusaha meningkatkan kualitas diri. Walaupun minimal dalam sehari 0,1 persen. Terus belajar, belajar, belajar. Insya Allah saya ingin belajar lebih baik lagi,” jelasnya demi sang anak.

Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Gayatri, mengungkapkan program Barudak diadakan supaya hubungan emosional antara ibu dan anak tetap terjaga.
“Warga binaan juga memiliki hak yang diatur di dalam UU Pemasyarakatan, itu ada hak mengunjungi dan hak dikunjungi. Artinya, mereka juga berhak dikunjungi oleh keluarga,” ungkap Gayatri.
Sepanjang berlangsungnya program Barudak, terdapat beragam kegiatan bagi para warga binaan dan anak mereka, di antaranya berbagai permainan, lomba, hingga kemah bersama.
Ia menjelaskan, warga binaan yang mengikuti program itu harus memenuhi sejumlah syarat, seperti berkelakuan baik dan aktif dalam pembinaan di lapas. Anak yang ikut serta juga dibatasi hingga usia 10 tahun.
Rencananya, sambung Gayatri, kegiatan tersebut bakal dilakukan rutin setiap tiga bulan sekali. Ia berharap ikatan antara ibu dan anak tidak terputus meski dipisahkan masa hukuman.
"Harapannya, yang pertama tentunya mempererat ya, mempererat hubungan antara ibu dan anak, karena namanya ikatan batin itu kan tidak bisa diputuskan," kata Gayatri.

Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





























