Rupiah Ditutup Melemah Rp15.302/Dolar AS Usai Rilis Data Inflasi

Reporter: Dwi Aditya Putra, tirto.id - 3 Okt 2022 15:59 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Pelemahan nilai tukar terjadi pasca rilis BPS mengumumkan laju inflasi pada September 2022 sebesar 1,17 persen mtm dan secara tahunan menembus 5,95 persen.
tirto.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 75 poin di level Rp15.302 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp15.227 per dolar AS.

Pelemahan ini terjadi pasca rilis Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi pada September 2022 sebesar 1,17 persen (month to month/mtm) dan secara tahunan menembus 5,95 persen (year to year/yoy).

"Data yang dirilis tersebut lebih baik dibandingkan ekspektasi para analis yaitu laju inflasi 1,2 persen mtm sedangkan angka inflasi tahunan sebesar 5,98 persen yoy," ujar Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, Jakarta, Senin (3/10/2022).

Lonjakan inflasi didorong oleh naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Pada 3 September 2022, pemerintah Indonesia telah menaikkan harga BBM Subsidi Pertalite dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter.

Disusul, harga Solar subsidi dikerek menjadi Rp 6.800 per liter dari Rp 5.150 per liter. Dua BBM Subsidi terset rata-rata naik 31,4 persen.

Ibrahim menambahkan, walaupun inflasi masih di bawah ekspektasi para analis, namun hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah untuk menjaga transmisi harga energi dan komoditas.

Sebagaimana diketahui, pada Agustus 2022, inflasi nasional telah mencapai 4,69 persen. Angka tersebut sudah mengalami penurunan, tetapi sumbangan terbesarnya tetap berasal dari kelompok harga pangan bergejolak (volatile foods), kemudian juga dari proses transmisi dari harga-harga energi yang masuk ke dalam harga kelompok barang yang ditentukan pemerintah (administered price).

Kemudian inflasi yang terus tinggi, selanjutnya adalah kecepatan dari normalisasi moneter dari negara-negara maju sehingga menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Sejalan dengan itu, ke depannya tekanan inflasi masih terus berlanjut, harga pangan dan energi masih terus mengalami peningkatan, dan distrupsi dari pasokan juga terus terjadi sehingga risiko untuk inflasi nasional masih berada di atas 4 persen di 2022 dan 2023.

Dari sisi eksternal, dolar AS naik terhadap mata uang lainnya, setelah pemerintah Inggris setuju untuk mempermudah rencananya untuk pemotongan pajak (tax cut) yang tidak didanai.

Tren ini secara luas diperkirakan akan menguatkan dolar AS dalam beberapa bulan mendatang. Sebab, beberapa bank sentral menaikkan suku bunga lebih jauh untuk memerangi inflasi.

"Pemerintah Inggris memutuskan untuk membatalkan usulan penghapusan tarif pajak penghasilan tertinggi, sebuah rencana yang telah banyak dikritik di Partai Konservatif yang berkuasa serta negara secara keseluruhan," kata Ibrahim.


Baca juga artikel terkait RUPIAH MELEMAH atau tulisan menarik lainnya Dwi Aditya Putra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang

DarkLight