Menuju konten utama

Reformasi Struktural Harus Sejalan dengan Stabilitas Makro

Reformasi Struktural Harus Sejalan dengan Stabilitas Makro

tirto.id - [caption id="attachment_1599" align="alignnone" width="1200"]Petugas menunjukkan uang rusak sebelum dimusnahkan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal (KPw BI), Jawa Tengah, Senin (22/2). Menurut Bank Indonesia Tegal, pemusnahan uang kertas yang rusak di KPw BI Tegal meningkat 0,44 persen dari Rp870,55 miliar pada 2014 menjadi Rp1,25 triliun pada 2015, peningkatan disebabkan oleh tingginya standar kelayakan uang beredar (standar kelusuhan uang) . ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/aww/16. Ilustrasi. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah[/caption]

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menilai, untuk mencapai suatu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan, upaya reformasi stuktural yang tengah dilakukan oleh pemerintah Indonesia harus berjalan seimbang dengan stabilitas makro .

"Kecepatan reformasi struktural dan kestabilan makro itu harus berimbang. Jangan sampai terjadi pemanasan ekonomi," ujar Perry di sela-sela seminar internasional "Structural Reforms in Emerging Asia" di Jakarta, Rabu, (23/3/2016).

Perry menuturkan, reformasi yang sedang dilakukan oleh pemerintah salah satunya ialah dengan meningkatkan belanja modal dan investasi, khususnya bidang infrastruktur. Bidang ini disebut oleh Perry sebagai sektor yang akan meningkatkan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Walaupun, peningkatan CAD merupakan hal wajar dan masih dalam batas aman.

Perry menambahkan Bank Indonesia memperkirakan CAD pada 2016 akan meningkat menjadi 2,6 persen, dibandingkan posisi tahun lalu yang hanya mencapai 2 persen.

"Dari sisi makro ekonomi (2,6 persen) apakah membahayakan? Tidak. Karena 2,5-3 persen masih oke. Mari kita percepat reformasi struktural dan beberapa tahun ke depan kami belum lihat bahaya dalam makro ekonomi," kata Perry.

Menurut Perry, melalui reformasi struktural, baik dari sisi modal maupun produktivitas tenaga kerja, diharapkan pertumbuhan ekonomi akan lebih meningkat.

"Reformasi struktural dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita jangka menengah panjang," ujar Perry.

Perry menekankan, reformasi struktural harus diterapkan di segala sektor dan yang paling utama adalah sektor investasi dan infrastruktur. (ANT)

Baca juga artikel terkait CURRENT ACCOUNT DEFICIT atau tulisan lainnya

Reporter: Mutaya Saroh