Menuju konten utama

Putri Thailand Bajrakitiyabha Wafat Usai Koma, Ini Profilnya

Putri Bajrakitiyabha dari Thailand meninggal dunia. Ia dikenal sebagai putri kerajaan yang digadang mampu menggantikan sang raja kelak. Simak profilnya.

Putri Thailand Bajrakitiyabha Wafat Usai Koma, Ini Profilnya
Putri Bajrakitiyabha dari Thailand menyampaikan pidato pada tanggal 14 September 2009, pada hari pembukaan sesi ke-12 Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di kantor PBB di Jenewa. AFP/ Fabrice COFFRINI
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Putri Kerajaan Thailand Bajrakitiyabha meninggal dunia usai tiga tahun mengalami koma. Pihak kerajaan telah mengonfirmasi wafatnya sang putri pada usia 47 tahun.

Melansir BBC, pihak Istana Thailand menyatakan bahwa Bajrakitiyabha meninggal dunia pada Kamis (11/6/2026) pukul 19.48 waktu setempat. Ia meninggal dunia di Rumah Sakit Chulalongkorn, Pathum Wan, Bangkok.

“Tim medis memberikan perawatan semaksimal dan seintensif mungkin, tetapi kondisinya terus memburuk secara progresif,” kata istana pada Jumat (12/6) pagi.

Bajrakitiyabha meninggal usai jatuh pingsan pada Desember 2022 lalu. Kala itu ia kolaps ketika mengajak anjing-anjingnya berolahraga.

Putri kerajaan ini kemudian mengalami koma sejak itu. Dokter menduga, ia terjangkit infeksi mikoplasma pada jantung yang menyebabkan detak jantungnya sangat tidak teratur.

Selain jadi kehilangan bagi keluarga, wafatnya Bajrakitiyabha juga merupakan berita kehilangan bagi para pendukung monarki di Thailand. Hal ini lantaran ia selama ini dipandang sebagai sosok yang paling tepat untuk menggantikan sang raja.

Profil Putri Bajrakitiyabha

Bajrakitiyabha merupakan anak pertama Raja Vajiralongkorn dari Thailand. Ia lahir pada 7 Desember 1978 dan ibunya adalah istri pertama sang raja, Putri Soamsawali.

Di Thailand, Bajrakitiyabha dikenal sebagai sosok putri kerajaan yang punya ketertarikan di dunia hukum. Ia menempuh pendidikan di bidang itu dan memperoleh dua gelar pascasarjana dari Universitas Cornell di Amerika Serikat (AS).

Selama bermukim di AS, Bajrakitiyabha sempat bekerja membawa misi Thailand untuk PBB di New York. Hal ini jadi salah satu awal kariernya di bidang hukum dan hubungan internasional, sebelum kembali ke Thailand dan bekerja di kantor Jaksa Agung di Bangkok.

Perjalanan kariernya kemudian membawa sang putri kerajaan itu jadi duta besar Thailand untuk Austria pada 2012 hingga 2014. Selama menjabat posisi tersebut, ia membangun hubungan dengan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC).

Pertaliannya dengan UNODC ini membawanya jadi Duta Besar UNODC untuk Penegak Hukum di Asia Tenggara.

Di bidang hukum, Bajrakitiyabha memang kerap menyuarakan perlunya reformasi sistem peradilan pidana. Ia sering mengadvokasi perlunya perbaikan hukum yang lebih ramah untuk perempuan.

Kampanyenya untuk reformasi sistem peradilan itu didasari dari pemikirannya bahwa perempuan Thailand adalah salah satu kelompok masyarakat yang paling rentan di pengadilan negara itu. Thailand kini merupakan salah satu negara dengan narapidana perempuan tertinggi di dunia.

Oleh karenanya, ketika jadi Duta Besar UNODC untuk Penegakan Hukum di Asia Tenggara, ia menggunakannya untuk mendorong perubahan sistem peradilan di Thailand. Beberapa topik yang ia suarakan saat itu termasuk perubahan untuk mencegah hukuman berat bagi orang yang didakwa atas kepemilikan narkoba yang relatif ringan.

Pada 2021, ia ditunjuk Raja Vajiralongkorn alias ayahnya untuk jadi kepala staf pribadinya. Jabatan itu membuatnya menyandang gelar jenderal di Thailand.

Pencapaian sang putri itu lalu jadi cukup populer, terutama bagi publik pendukung monarki di Thailand. Ia selama ini dipandang sebagai sosok yang paling menunjukkan kapabilitas untuk memimpin setelah ayahnya.

Raja Vajiralongkorn yang kini berusia 73 tahun belum menunjuk pewaris secara resmi. Adat Thailand juga masih menetapkan pewaris takhta adalah seorang laki-laki, meskipun amandemen konstitusi tahun 1974 memungkinkan perempuan jadi pemegang kekuasaan tertinggi kerajaan.

Sang raja sebenarnya memiliki lima anak laki-laki, namun hak waris empat anak di antaranya telah dicabut pada 1996 dan sejak itu mereka tinggal di AS. Kini, tinggal satu anak laki-laki dari istri ketiga raja yang secara hukum dan adat bisa jadi penerus raja.

Akan tetapi, penilaian publik terhadap anak laki-laki kelima raja bernama Dipangkorn itu tak selalu positif. Muncul pertanyaan di antara publik tentang kapabilitas sang pangeran untuk menjalankan peran raja yang punya pengaruh besar dalam sistem politik Thailand.

Alih-alih sang pangeran, selama ini sosok putri Bajrakitiyabha dianggap lebih kompeten untuk menggantikan tugas ayahnya sebagai raja. Namun, ia meninggal dunia setelah tiga tahun lebih mengalami koma.

Baca juga artikel terkait KERAJAAN THAILAND atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar