Puskesmas: Digagas di Era Sukarno, Dikerjakan Bawahan Soeharto

Infografik Sejarah Puskesmas
Puskesmas Lokpaikat is one of 12 community health center those do not have pharmacists. Antaranews Kalsel/M Husein Asy'ari
Oleh: Petrik Matanasi - 9 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejak lama para dokter pribumi telah memikirkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara luas. Leimena, Abdoel Patah, dan Siwabessy, punya andil besar dalam sejarah puskesmas di Indonesia.
tirto.id - Johannes Leimena (1905-1977) adalah dokter asal Ambon lulusan Sekolah Pendidikan Dokter Hindia atau School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) pada 1930. Setelah itu ia melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedokteran atau Geneeskundig Hooge School (GHS) pada 1939.

Leimena pernah menjadi dokter zending di rumah sakit Immanuel Bandung. Menurut Hans Pols dalam Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia (2019:281), ia termotivasi oleh agama Kristen dan cita-cita akan keadilan sosial.

Ia berkali-kali dipercaya oleh Presiden Sukarno untuk menjadi Menteri Kesehatan. Selama menjadi menteri, Leimena tertarik dengan bantuan dan saran ahli organisasi kesehatan soal pelayanan kesehatan.

Salah seorang kolega Leimena adalah Abdoel Patah (1898-1959), seniornya di STOVIA yang lulus pada 1921. Dokter kelahiran Majalaya, Jawa Barat itu kemudian melanjutkan belajar ilmu kedokteran di Belanda pada 1930-an. Disertasinya berjudul De Medische Zijde van de Bedevaart naar Mekka.

“Abdoel Patah beberapa kali mengikuti kapal haji dan tujuh tahun lamanya bekerja di perwakilan Belanda di Jeddah,” tulis Harry Poeze dalam Di negeri penjajah: orang Indonesia di negeri Belanda, 1600-1950 (2008).



Setelah revolusi kemerdekaan, keduanya memikirkan bagaimana pengobatan modern ala kedokteran barat bisa dinikmati masyarakat luas hingga ke pelosok desa. Mereka seperti disebut Lucia Endang dan Linda Shield dalam Primary Health Care in Indonesia (1990) kemudian merumuskan konsep kesehatan masyarakat yang disebut sebagai Bandung Plan.

Konsep yang dipresentasikan Leimena pada 1952 ini meliputi pembangunan rumah sakit pusat di kota, rumah sakit pembantu di kabupaten, poliklinik di kecamatan, dan pos kesehatan di desa terpencil. Menurutnya, jika ada warga yang sakit dan tidak teratasi di tingkat kecamatan, maka bisa dialihkan ke rumah sakit pembantu atau rumah sakit kota.

“Leimena mengusulkan untuk mengintegrasikan pusat-pusat kesehatan masyarakat, pendidikan kesehatan masyarakat, dan perawatan kuratif pada empat tingkat tersebut,” imbuh Hans Pols.

Gagasan mereka membuat kesehatan masyarakat menjadi komponen wajib kurikulum ilmu kedokteran di Indonesia. Para dokter yang telah lulus kuliah, diminta bekerja di daerah terpencil selama tiga tahun agar terjadi penyebaran perawatan medis yang lebih merata di Indonesia.

“Sejarah mencatat, pola pemikiran Leimena kemudian diteruskan pula pada zaman Orde Baru," tulis Frans Hitipeuw dalam Dr. Johannes Leimena, Karya dan pengabdiannya (1996).


Puskesmas dalam Pelita Orde Baru

Setelah tampuk kekuasaan berganti, gagasan Leimena dan Abdoel Patah diangkat lagi oleh Gerrit Augustinus Siwabessy (1914-1982), seorang dokter berdarah Ambon yang menjadi Menteri Kesehatan di awal pemerintahan Orde Baru. Ia adalah kawan dr. Ibnu Sutowo (1914-2001) mantan Direktur Pertamina, dan Roebiono Kertopati (1914-1984) mantan kepala Sandi Negara, saat bersekolah di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya.

Tahun 1968, Siwabessy mempresentasikan ide Leimena dan Abdoel Patah tentang pembangunan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di setiap Kecamatan. Usulannya diterima oleh presiden daripada Soeharto dan jadi bagian dari Pembangunan Lima Tahun (Pelita) pemerintah Orde Baru.

Menurut Erlita dan kawan-kawan dalam Sang Upuleru: Peringatan 100 Tahun Prof. DR. GA Siwabessy (2014:184), terdapat 2.000 puskesmas pada Pelita II dan setiap tahun jumlahnya bertambah. Sampai tahun 1992/1993, jumlah puskesmas sudah mencapai 6.749 unit.





Di tiap daerah rasio antara jumlah puskesmas dan jumlah penduduk yang harus dilayani berbeda-beda. Berdasarkan buku 30 Tahun Orde Baru Membangun (1995), di Jawa dan Bali satu Puskesmas melayani 30.000 penduduk dan didukung oleh 2 sampai 3 puskesmas pembantu. Sementara di luar dua daerah itu yang penduduknya tidak terlalu padat, rasionya adalah satu puskesmas diperuntukkan bagi 10.000 sampai 20.000 penduduk dengan didukung juga oleh 2 sampai 3 puskesmas pembantu. Secara keseluruhan, satu puskesmas rata-rata melayani 27.000 penduduk.

Berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) nomor 5 tahun 1982, puskesmas perlu dibangun di kecamatan yang berpenduduk lebih dari 30.000 jiwa. Inpres tersebut menyebutkan bahwa puskesmas dibangun “untuk mempertinggi dan meningkatkan pelayanan kesehatan terutama kepada penduduk desa dan penduduk kota yang berpenghasilan rendah.” Selain itu, untuk melayani kebutuhan masyarakat diadakan juga puskesmas keliling.

Agar setiap puskesmas dilayani dokter, maka di era Siwabessy pun diadakan program Dokter Inpres. Para dokter muda didorong untuk menunaikan tugas wajib kerja sarjana (WKS). Selain membangun puskesmas, Orde Baru pun membuat pelbagai program kesehatan lain dan mengontrol tingkat pertumbuhan penduduk melalui Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA), Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), dan Keluarga Berencana (KB).

Pelayanan puskesmas di zaman Orde Baru bukan tanpa masalah. Menurut dokter Djanuar Achmad seperti dikutip Hans Pols, para dokter yang bertugas di puskesmas kebanyakan kurang antusias bekerja. Mereka sekadar menggugurkan kewajiban dengan hanya tiga tahun pertama menjadi dokter puskesmas. Bagi mereka, pekerjaan tersebut tidak ada artinya bagi perkembangan karier. Selain itu, waktu para dokter pun habis untuk urusan administrasi sehingga banyak layanan kesehatan dikerjakan oleh perawat yang kurang terlatih.

Dalam sejarah panjang pelayanan kesehatan kepada masyarakat, dengan pelbagai kelebihan dan kekurangannya, Siwabessy dianggap sebagai Pelopor Puskesmas dan Leimena disebut Bapak Puskesmas Indonesia.

Baca juga artikel terkait PUSKESMAS atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight