Menuju konten utama

PSM Makassar Didenda Rp220 Juta Akibat Flare & Slogan Provokatif

Pihak klub masih menunggu arahan dari pimpinan PSM Makassar tentang kemungkinan melakukan banding atas putusan Komisi Disiplin PSSI.

PSM Makassar Didenda Rp220 Juta Akibat Flare & Slogan Provokatif
Sejumlah suporter PSM Makassar menyalakan flare di Stadion Gelora BJ Habibie, Kabupaten Pare-Pare, Sulawesi Selatan, Minggu (16/4/2023). ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/aww.

tirto.id - PSM Makassar kembali menjadi sorotan usai dijatuhi sanksi oleh Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Klub berjuluk Juku Eja itu didenda sebesar Rp220 juta akibat pelanggaran yang terjadi dalam laga penutup BRI Liga 1 musim 2024/2025 melawan Persita Tangerang di Stadion Gelora B. J. Habibie, Pare-Pare, pada 23 Mei 2025.

Dalam pertandingan tersebut, suporter PSM menyalakan flare dan petasan dalam jumlah besar, serta mengibarkan slogan bersifat menghina di tribun selatan. Berdasarkan pemeriksaan dan bukti visual, Komdis menyatakan bahwa tindakan tersebut melanggar Pasal 70 ayat 1 dan 2 serta Lampiran 1 nomor 5 Kode Disiplin PSSI Tahun 2023.

Komdis kemudian menjatuhkan keputusan antara lain pertama, menjatuhkan sanksi denda sebesar Rp220.000.000 kepada PSM Makassar; Kedua, menegaskan bahwa pengulangan pelanggaran serupa akan dikenai hukuman yang lebih berat.

Menanggapi sanksi ini, Media Officer PSM Makassar, Sulaiman Karim, menyampaikan bahwa manajemen menyayangkan terjadinya pelanggaran yang berdampak pada denda besar, apalagi di saat klub sedang membutuhkan pemasukan.

“Kita menyayangkan karena dendanya tidak kecil, apalagi saat tim sedang butuh-butuhnya pemasukan,” ujar Sulaiman saat diwawancarai via phone (30/05/25).

Ia juga mengakui bahwa aksi flare tersebut memang telah diprediksi akan berujung pada sanksi.

“Sejak awal sudah kami perkirakan. Kalau flare menyala lebih dari 10, memang regulasinya dendanya bisa mencapai Rp200 juta lebih,” tutur Sulaiman.

Terkait kemungkinan banding, Sulaiman mengatakan, pihak klub masih menunggu arahan dari pimpinan. Ia juga menambahkan bahwa manajemen sebenarnya telah berulang kali mengingatkan suporter untuk menjaga perilaku.

“Setiap jelang pertandingan, kami selalu sampaikan agar suporter jagai PSM-ta’, tapi memang tidak semua bisa dikendalikan,” tambahnya.

Didirikan pada tahun 1915, PSM Makassar merupakan klub tertua di Indonesia dan Asia Tenggara. Klub ini memiliki sejarah panjang dan identitas kuat dalam dunia sepak bola nasional. Prestasi dan fanatisme suporter menjadi ciri khas yang melekat pada klub asal Sulawesi Selatan ini.

Namun, loyalitas yang tidak diiringi dengan kedisiplinan kerap menimbulkan masalah. Dalam era sepak bola modern yang menekankan profesionalisme dan keamanan, tindakan seperti flare dan slogan provokatif bisa menjadi bumerang bagi klub.

Komite Disiplin PSSI menegaskan bahwa pelanggaran yang mengancam keselamatan dan mencoreng citra kompetisi tidak akan ditoleransi. Stadion harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh elemen pertandingan.

Sanksi terhadap PSM menjadi peringatan bahwa setiap bentuk pelanggaran akan direspons tegas demi menjaga marwah sepak bola nasional.

Sanksi ini menjadi cermin bahwa pengelolaan klub tak hanya soal strategi di lapangan, tapi juga pembinaan mental dan perilaku suporter.

PSM Makassar kini dihadapkan pada tantangan membangun harmoni antara semangat dukungan dan kepatuhan terhadap aturan. Dukungan fanatik harus diwujudkan dengan cara yang bijak dan bertanggung jawab, agar sejarah besar klub tetap terjaga dan dihormati di kancah nasional maupun internasional.

Baca juga artikel terkait LIGA 1 atau tulisan lainnya dari Viralin Makassar

tirto.id - Flash News
Kontributor: Viralin Makassar
Penulis: Viralin Makassar
Editor: Andrian Pratama Taher